SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_58


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_58


#by: R.D.Lestari.


"Indri!!!"


"Akhhh, Sri. Sakittt!!!" raung Indri seraya memegangi perut buncitnya. Sri terpana saat menyentuh perut Indri yang bergerak seperti ada sesuatu di dalamnya.


"Pe--perutmu, ke--kenapa, In?" Sri takut saat Indri meringis dan menutup matanya karena sakit. Pergerakan di perutnya semakin kencang.



"Kamu kenapa, Nak?" Ibu yang baru saja datang dari dapur langsung mengusap pelipis Indri yang mengeluarkan keringat besar-besar seperti biji jagung.


"Ya, Allah. Indri kenapa, Bu," Ayah yang baru sampai pun tersentak melihat Indri yang meraung kesakitan.


"Sepertinya Indri mau lahiran, Pak. Cepat bawa masuk ke kamar," Ibu berusaha menarik tangan Indri pelan, bermaksud membantunya untuk masuk kamar begitupun Ayah dan Sri. Mereka bahu membahu menolong Indri hingga wanita hamil itu bisa berbaring nyaman di ranjangnya.



"Ibu panggil bidan, dulu," sahut Ibu. Ia pun langsung berbalik dan pergi dari kamar Indri, sedangkan Sri terus memegangi tangan Indri yang masih saja meringis kesakitan.



"In, loe berdarah!" manik hitam mata Sri melebar kala melihat darah merembes dari \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* Indri. Ia panik dan Indri hanya bisa menangis menahan sakit yang ia rasakan.



"Perih, Sri! akhh, sakittt!"



Indri hanya bisa mengucap kata itu. Dalam hatinya ia terus menjerit menyebut nama Bima, suaminya. Berharap Bima segera datang. Ia yakin hanya Bima yang bisa menolongnya.



Wuzzzhhh!



Brakkkk!



Angin teramat kencang tiba-tiba datang entah dari mana hingga membuat jendela kamar Indri terbuka lebar.



Sri memicingkan mata saat debu-debu berterbangan dan mengenai kelopak matanya, secepat kilat bayangan hitam meraih Indri dan membawanya pergi entah ke mana. Saat Sri membuka kelopak matanya, ya terpaku karena Indri sudah tak ada di tempatnya.


__ADS_1


"Indri!!!"


Berulang kali Sri memanggilnya. Namun, nihil. Indri tak jua nampak batang hidungnya. Angin kencang mereda. Sri melangkah bergegas menatap ke luar . Ia berdiri tepat di pinggir jendela kamar Indri. Tak nampak sedikitpun jejak tentang Indri. Ke mana sebenarnya Indri?


***


Drap-drap-drap!



Langkah kaki bersahut-sahutan beriringan dengan deru napas yang memburu. Ternyata itu derap langkah kaki Ibu dan Bidan yang tergesa menuju kamar Indri. Raut khawatir dan cemas sangat kentara di wajah tua Ibu. Ia seperti berada di awang memikirkan nasib anaknya yang amat kesakitan.



"In ... dri...," sorot mata teduh itu berubah tajam dan mengitari seluruh ruangan. Tak ada Indri di ruangan itu, hanya Sri yang tiba-tiba menatap Ibu dengan raut wajah bingung.


"Mana Indri, Sri?" Ibu dengan suara tergetar bertanya pada Sri. Gadis itu mengangkat kedua bahunya dan melangkah mendekati Ibu yang masih terheran-heran karena hilangnya Indri, begitu juga Sri.


"Sri ga tau ke mana perginya Indri, Bu. Tadi tiba-tiba ada angin kencang dan mata Sri kemasukan debu, Sri mejam sebentar, eh begitu di buka, Indri sudah hilang," Sri berusaha mengingat kembali kejadian janggal barusan.



Tubuh Ibu melemah dan kutub hingga lantai. Ia tersedu mengingat nasib Indri, entah bagaimana keadaan Indri saat ini. Mungkin ia sedang menahan rasa sakit yang teramat dahsyat.



"Mungkin tadi itu Bima, Bu. Ayah yakin Bima lah yang membawa Indri pulang, ia tau yang terbaik untuk Indri dan anaknya," Ayah mengusap lembut bahu Ibu yang masih shock dengan kejadian barusan.




Ayah mengangguk dan senyum getir terulas di wajah rentanya. Ia lalu merangkul Ibu untuk berbaring di atas ranjang Indri, Ayah amat yakin jika darah rendah Ibu kumat dan tubuhnya mendadak lemas.



"Sudah, Bu. Jangan di pikirkan terus menerus, kita harus berpikiran baik, semoga Indri sehat dan tak ada hal buruk yang menimpanya. Ayah yakin semua akan baik-baik saja," Ayah mengusap pelan punggung tangan Ibu. Senyum menenangkan terukir di wajahnya. Ia amat yakin Indri baik-baik saja. Menantunya itu selalu bisa di andalkan.



Perlahan hati ibupun luruh. Ia bisa tenang dan akhirnya tertidur sembari memeluk bantal dan guling Indri. Wangi Indri masih menempel di sana, mengobati rindu dan rasa khawatir di dalam jiwa ibunya.


***


"Aku James, Rena," pemuda berkulit putih itu kembali meraih tangan Rena. Ia sedikit terjingkat saat menyentuh telapak tangan Rena yang amat dingin. Rena menggigil kedinginan.



"Rena!" netra biru itu James membulat saat menatap bibir Rena yang membiru dan ...



"Kau jahat, James!"


__ADS_1


Plukk!



Rena tersungkur dalam pelukan James. Amat beruntung James sangat sigap dan meraih tubuh ramping Rena.



James kebingungan, ia tak berpikir tubuh Rena amat rentan. James membawa Rena dalam gendongannya dan dalam sepersekian detik ia sudah menghilang, bersama Rena dalam gendongannya.


***


"Eemmhh," Rena menggeliat saat ia rasa tubuhnya teramat pegal. Matanya mengerjap berulang kali, tapi tubuhnnya seolah menolak untuk bangun saking nyamannya. Ia merasa seperti tidur di atas awan, lembut dan hangat.



"Sudah bangun, Sayang?"



Manik coklat mata Rena membesar saat kelopak matanya membuka sempurna. Suara serak nan seksi membangunkannya dalam sekejap.



"Aaa! apa yang kau...,"



Rena menatap marah sosok di sampingnya. James sedang berbaring di sana sembari tersenyum manja menatap wajah Rena yang pucat pasi.



Rena memalingkan wajahnya ke arah tubuhnya. Pakaian yang ia gunakan sudah berubah menjadi baju tidur. Siapa yang menukarnya?



Rena kembali menatap wajah sok polos James yang amat berbeda dari biasanya. Rena menggeram marah, sorot mata tajam saat ia bersitatap dengan James.



"Apa yang sudah kau perbuat padaku, lelaki mesum?" desisnya.



"A--apa?" James mengedikkan bahunya, bingung.



Rena mendekatkan tubuhnya pada James. James merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Rena dalam peluknya.



Plakkk!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2