SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_81


__ADS_3

Bismillah


SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_81


#by: R.D.Lestari.


Pagi ini seperti biasa, Indri hendak bersiap-siap pergi ke kantornya. Stella masih tertidur di praduan setelah kenyang menyusu pada ibunya.


Wuzzzhhh!


Angin terasa berputar-putar di sekitar Indri. Indri merasa tengkuknya dingin. Seolah ada seseorang yang menghembusnya dari belakang.


Bulu kuduk Indri seketika berdiri. Ia lalu mengusap kuduknya.


Tap!


"Akh!"


Tubuh Indri seperti terikat. Tak bisa di gerakkan.


Fuhhh!


Indri merinding. Ia merasakan hembusan nafas hangat di sekitar telinga bagian belakang. Hembusan yang khas dengan wangi mint yang memanjakan indra penciuman. Mengusik hingga relung hatinya.


Indri menatap ke arah cermin. Mencari sumber yang tengah membuatnya seolah terkunci. Kosong. Tak ada siapa pun di belakangnya.


"Ma--Ma,"


Stella mengerjapkan mata bulatnya. Ia bangun dan merangkak mendekati Indri yang tak bisa bergerak.


Netra Indri menatap nanar bocah kecilnya yang mulai mendekati sisi ranjang, hingga...


"Stella!"


"Ma!"


Indri luruh ke lantai. Tubuhnya lemas tak bertenaga.


Dalam kepasrahannya, Indri melihat sebuah keajaiban. Bocah kecilnya melayang di udara sembari terkekeh riang mendekat ke arahnya. Indri membentangkan tangannya dengan berurai airmata.


"Mama!"

__ADS_1


Setelah Stella berada dalam pelukannya, Indri menyeka airmatanya dan memeluk erat bocah kecilnya.


"Bima ...," lirih Indri menyebut nama suaminya.


"Bima... apa itu dirimu, Sayang? tapi, mana mungkin secepat ini," Indri kembali meneteskan cairan bening di ujung pelupuk matanya.


Dadanya sesak, kerinduan ini terlalu menyiksa. Bertahun lamanya ia hidup sendiri tanpa kehadiran Bima.


"Shuutttt! jangan nangis lagi. Wanita cantik, sabar dan setia sepertimu tak pantas untuk menangis, tersenyumlah indriku...,"


Indri merasakan pelukan super hangat yang amat menenangkan. Pelukan yang amat ia rindukan.


Indri memutar tubuhnya ke belakang.


Lidahnya terasa kelu melihat seseorang yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh cinta. Tangannya terbentang seolah menunggu Indri untuk mendarat dalam pelukannya.


"Bima--Bima! tak mungkin! tak mungkin!"


Indri beringsut mundur membawa Stella dalam pelukannya. Ia tak percaya pada sosok di hadapannya. Bisa saja itu makhluk lain yang menyerupai Bima. Seingatnya butuh bertahun hingga belasan tahun untuk kesembuhan Bima, suaminya.


"Ini, aku, Bima. Apakah kamu tidak merasakan getaran yang sama seperti kita pertama jumpa? ataukah memang getaran cinta itu sudah pudar?"


Bima mendekati Indri perlahan. Cairan bening itu mulai merembes di pipi Indri yang mulus. Indri berusaha menata hatinya. Ia tak memungkiri getaran di hatinya memang terasa kuat dan bergemuruh kencang.


"Indri, istriku... bagaimana aku bisa sembuh secepat ini?"


"Semua itu karena cintamu, Sayang. Tubuhku merindukanmu, merindukan anakku. Itulah mengapa sel dalam tubuhku bekerja lebih cepat dan sekarang aku bisa berada di sisimu,"


"Aku janji Indri, setelah kita pulang. Kita tak akan menemukan permasalahan lagi. Kita akan hidup bahagia selamanya bersama anak kita, Stella," Bima mengulas senyum penuh arti untuk Indri.


"Bima...!"


Indri berhambur dalam pelukan Bima berikut Stella dalam gendongan. Airmatanya tumpah. Tangisnya pecah saat itu juga. Mereka saling melepas rindu. Bima tak henti menciumi putri kecil cantiknya yang amat menggemaskan.


Setelah puas, Indri mengurai pelukannya pada Bima. Ia terlihat bimbang.


"Bagaimana dengan usahaku? aku punya banyak karyawan yang butuh pekerjaan, tak mungkin mereka ku tinggal begitu saja,"


"Ya, kamu benar, Sayang. Aku pun bingung harus menjawab apa," Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Suamiku, bisakah aku tetap tinggal di sini?" pinta Indri.


"Sebenarnya bisa, ya, hukum hanya sekedar hukuman, sesekali di langgar pasti tak masalah, ya kan?"

__ADS_1


"Tapi, karena darahmu sudah bercampur dengan darah Uwentira, kamu wajib pulang dan meminum air dan makanan dari sana. Takutnya darah abadimu bisa menjadi racun dan menjadikan dirimu seperti mayat hidup," Bima mengelus pucuk kepala Indri, istrinya.


"Jangan lama-lama di dunia, nanti kamu jatuh cinta pada lelaki lain dan jadi gila, mau?" goda Bima.


"Apaan sih, Kak. Aku ga mungkin selingkuh," Indri mencebik.


"He-he-he, kok masih panggil Kakak? kita dah punya anak, panggil Papa dong," protes Bima.


"Aku tau kamu tak mungkin selingkuh tapi ada yang jatuh cinta padamu, 'kan?" tebak Bima.


"Siapa?" Indri berubah garang saat Bima meragukan cintanya. Ia beranjak dari duduknya dan mendudukkan Stella di sampingnya. Di pinggir ranjang sembari menatap Bima nyalang.


"Ikhsan? mantan pacarmu, 'kan?" Bima berdecak pinggang.


"Kalian sempat berpegangan tangan dan ia menaruh harapan lebih padamu, Sayang. Apa kamu ga merasakan itu?" cecar Bima.


"Ga, aku hanya menganggapnya teman dan saat itu aku hanya takut ia mati karena menolongku," Indri menjawab dengan jujur.


Bima tau saat itu istrinya berkata benar. Ia bisa membaca semua pikiran Indri, tapi ia sangat penasaran dengan Ikhsan. Ia bisa membaca semua masa lalu dan juga kejadian saat ia tak ada. Semua kejadian itu memenuhi pikirannya.


"Ayo, Sayang. Kita ke kantormu, aku ingin bertemu dengan Ikhsan dan semua karyawanmu agar mereka tak berpikiran buruk padamu,"


"Aku pun sangat ingin menghajar Dion yang hampir saja mencelakai istriku yang cantik,"


Cup!


Bima mengecup pelan kening Indri.


"Tak perlu mengotori tanganmu untuk orang-orang tak penting seperti mereka,"


"Aku tak ingin pergi ke kantor. Aku ingin bersama denganmu hari ini. Aku tak mau sedetikpun berpisah darimu, suamiku,"


"Taukah kamu jika cinta ini menyiksaku? kerinduan ini benar-benar serasa membunuhku perlahan,"


Indri menggendong Stella dan berjalan mendekati Bima, mendekatkan wajahnya dan Bin dengan senyum menggoda bersiap menerima kecupan dari Indri yang lama ia nantikan.


"Nanti malam, Sayang. Nunggu Stella bobo," bisik Indri.


"Indri!!!"


Dan mereka pun tertawa bersama.


***

__ADS_1


__ADS_2