
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#Part_75
#by: R.D.Lestari.
"Sayang ...," aku mengecup kening Stella pelan. Menandakan betapa rindunya diriku pada bocah kecil bermata bulat itu..
Raut wajahnya amat sumringah saat tanganku menggapainya dan membawanya dalam gendonganku.
"Maafin Mama, ya, Sayang. Mama lama ya ninggalin kamu?" aku mencium pipinya gemas.
"Kamu tadi pingsan, In?" Ibu menatapku penuh raut kekhawatiran padaku.
"Iya, Bu. Biasa belum makan," sahutku.
"Jangan terlalu fokus, In. Jaga kesehatan juga," Ibu membelai kepalaku lembut.
"Bu, Ibu tau siapa yang menolongku?" aku menatap manik sendu mata Ibu.
"Siapa?"
"Ikhsan, Bu. Mantan pacar sekaligus cinta pertamaku dulu,"
" Ikhsan? pemuda yang ninggalin kamu, sampai kamu frustasi dan tak mau berpacaran lagi?"
"Ya, Bu. Ikhsan yang dulu meninggalkanku gara-gara kita miskin dan Ayah yang hanya seorang petani," sahutku dengan nada yang mulai meninggi.
Rasa getir dan emosi tiba-tiba menyelusup relung hatiku. Ya, aku masih sangat sakit hati padanya.
"Mau apa dia menemuimu?" sepertinya rasa penasaran juga mulai merasuki Ibu. Terbukti dari pertanyaannya yang semakin detail.
"Dia sekarang miskin, Bu. Dan ingin bekerja di tempatku,"
"Kamu terima, In?"
" Ya, tentu saja aku terima, tapi ... ia tak akan bekerja lama. Karena aku akan membalas dendamku padanya!"
***
__ADS_1
Flashback Indri Dan Ikhsan
Seorang lelaki muda berlari menemui gadis yang menunggu dirinya di bawah pohon beringin yang rindang. Daun-daun kering berjatuhan menemani Sang Gadis yang setia menunggu kedatangan Sang lelaki dengan membaca sebuah novel cinta, 'Di Mana Cinta Bersandar'. Wajahnya menunduk seolah hanyut dalam cerita romansa yang indah. Dalam hatinya ia berharap bisa mengalami kisah cinta yang indah seperti isi novel yang ia baca.
"In...Indri!" pemuda itu melambai seraya berteriak nyaring memanggil nama pujaan hatinya.
Sang gadis yang bernama Indri, segera menoleh dan menatap senang kekasih yang sejak tadi di tunggunya.
"Hosh...hosh!" napas pemuda itu tersengal-sengal saat sudah berada di samping Indri, gadis yang ia cintai.
"Hei, kenapa berlarian seperti itu? apa sebegitunya Kakak kangen padaku?" Indri yang saat itu memakai baju seragam sekolah putih abu-abu, tersenyum simpul melihat kekasihnya yang berwajah manis dengan hidungnya yang nangis itu membelai rambut panjang Indri yang lebat.
"Setiap saat, setiap waktu, setiap detik,menit, jam, aki selalu memikirkanmu," pemuda itu mengecup kening Indri pelan dan lama. Ia amat menyayangi gadis yang sudah tiga tahun bersemayam di hatinya. Semenjak SMP mereka sudah saling mengenal dan jatuh cinta. Apalagi sekolah mereka berada dalam wilayah yang berdekatan.
Indri remaja dulu sering melewati sekolah Sang Pemuda yang bernama Ikhsan.
Gara-gara sering bertemu dalam satu angkot, Ikhsan menaruh hati pada gadis yang selalu mengepang dua rambut nya itu. Ia terpesona pada wajah manis dan juga cantik dengan rambut yang indah itu.
Ikhsan akhirnya menyatakan cinta saat Indri menginjak kelas tiga SMP dan Ikhsan kelas satu SMA. Saat lulus, Indri memutuskan untuk masuk ke sekolah yang sama dengan sekolah pacarnya, Ikhsan.
"In, kita sudah pacaran lama. Kakak juga sudah cocok dan ga mau mencari wanita lain selain dirimu,"
"Kakak sebentar lagi lulus, In. Kakak ingin kuliah agar Kakak suatu saat nanti punya pekerjaan yang layak. Kita bisa membangun rumah tangga yang harmonis dan juga mapan," Ikhsan duduk di hadapan Indri, menatap manik mata Indri yang mulai berembun. Ia amat bahagia karena Ikhsan ternyata punya mimpi yang indah untuk mereka kedepannya.
"In, Kakak ingin Indri ikut Kakak, bertemu dengan kedua orang tua Kakak. Biar mereka tau jika Kakak punya kekasih dan ingin hubungan ini lebih jauh lagi. Kamu siap menunggu kan, In?" Ikhsan menatap nya penuh harap.
"Ya, Kakak tau. Itu sebabnya kita sama-sama menunggu. Tiga tahun lagi atau empat tahun lagi, deal?" Ia menunjukkan jari kelingkingnya pada Indri. Mengajaknya berjanji ala anak sekolah pada jamannya. Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya hingga tercipta sebuah senyum indah dan mata yang berbinar. Ia sangat bahagia .
"Besok Kakak jemput, ya. Kita kenalan dengan orang tua Kakak," ujarnya setelah mencium sekali lagi kening Indri. Indri mengangguk pasti. Pemuda itu lalu bangkit dan pergi seraya melambaikan tangannya. Masuk dalam rombongan teman-temannya , meninggalkan Indri yang wajahnya terasa panas akibat ucapan Sang Pemuda. Indri terlarut dalam genangan cinta yang menghanyutkan.
***
Hari yang dinanti tiba. Indri sudah siap dengan baju sederhana andalannya. Kaos pink dan rok levis jadi pilihan outfitnya. Ia bukan gadis modis dan berpunya, ayahnya hanya seorang petani biasa yang pendapatan nya pas-pasan.
Brummm!
Suara deru motor milik Ikhsan terdengar mengaung di depan rumah papan Indri yang sudah mulai melapuk. Terbukti dari papan yang sudah kropos di beberapa sisinya karena di makan rayap.
Indri berlari tergesa demi melihat sosok yang di tunggunya sedari matahari mulai menyembul dan memamerkan sinarnya.
Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Indri dan Ikhsan melangkah beriringan menuju motor dan Indri naik di boncengannya dengan suka cita. Untuk pertama kalinya Indri di bawa ke rumah Ikhsan.
Degup jantung Indri tak beraturan saat kakinya menjejak di halaman rumah Ikhsan yang luas. Tanaman asoka berwarna-warni memenuhi sebagian lahan di halamannya. Tertata rapi dan apik di antara rerumputan yang memang sengaja di tanam untuk menutupi tanah.
__ADS_1
Rumah Ikhsan ternyata besar dan megah. Indri baru menyadari bahwa kekasihnya ini ternyata anak orang kaya. Seketika nyali Indri ciut. Mengingat bahwa dirinya hanya seorang anak petani yang bisa di kategorikan miskin.
"A--aku pulang saja, Kak," Indri mencengkeram jaket Ikhsan. Menghentikan langkah Ikhsan yang bersiap melangkah menuju
rumahnya.
"Kenapa, In? kita sudah terlanjur sampai. Ayok, masuk," Ikhsan menarik tangan Indri paksa, sehingga gadis itu akhirnya melangkah mengikuti kekasihnya.
"Assalamualaikum," ucapnya saat Ia membuka pintu dan memasuki rumah mewahnya.
"Masuk, San. Sini bawa pacarmu bergabung bersama Mama di sini,"suara wanita menggema dari arah belakang rumah.
Ikhsan masih setia dengan genggaman tangannya dan membawa Indri ke ruang makan.
"I--ini pacarmu?" seru seorang lelaki yang Indri taksir umurnya sama atau malah lebih tua sedikit dari ayahnya. Perawakan wajahnya tegas dan terkesan tak ramah.
"Ya, Pa. Ini Indri yang ku bicarakan tadi malam," sahut Ikhsan berdiri terpaku bersama Indri di sampingnya.
"Dari pakaiannya saja Papa sudah tau dia orang miskin. Apa pekerjaan ayahmu, hah?"
Bak di hujam beribu sembilu, hati Indri muda amat sakit dan perih. Tanpa ia sadari cairan bening mulai merembes di sudut mata indahnya.
"Pe--petani, Pak," sahut Indri tergugup.
"Petani? cih, anak petani rupanya! sudah ikhsan putuskan hubungan dengannya. Papa tak sudi punya besan seorang petani," segaknya.
Tubuh Indri melemas dan telinganya rasa terbakar. Panas menjalari tubuhnya hingga hatinya. Derai airmata kian deras membasahi pipinya.
Plak!
Indri menyentak tangan kekasihnya yang seolah pasrah tanpa sedikitpun membela harga dirinya yang terinjak oleh ucapan Sang Papa.
Ia berbalik dan berlari meninggalkan keluarga kaya berikut Ikhsan, pacarnya yang masih termangu dan bingung memilih kekasih yang di cintanya atau orang tuanya.
"Indri... tunggu...!"
Namun, gadis itu tetap berlari tanpa menghiraukan panggilan pemuda idamannya itu. Hatinya hancur. Dan saat itulah awal perpisahan abadi antara Ikhsan dan Indri. Karena sejak itu Ikhsan seolah hilang bak di telan bumi. Indri pun tak pernah mencarinya. Mereka benar-benar terpisah tanpa pernah mengucap kata 'selamat tinggal'.
***
__ADS_1