
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_89
#by: R.D.Lestari.
Akh, apalagi ini? Rena dan Pak Dosen sedang bermesraan tepat di hadapanku. Aku menggeser tubuhku ke arah tembok gerbang kampus, menyembunyikan tubuh dan mengintip kemesraan mereka di sela-sela lubang tembok.
Rena..., bisa-bisanya ia menikam diriku. Padahal berulang kali ia menjelaskan tak ada apa-apa antara dirinya dan juga Pak Dosen. Apa yang di ucap Pak Gio tadi? kebijakan tak mengijinkannya berpacaran dengan seorang murid! dan pada kenyataannya kini ia sedang bersama Rena, di tempat umum pula.
Yang lebih mencengangkan, ia berani mengecup kening Rena tanpa terselip rasa malu di dirinya. Benar-benar tak bisa di pegang omongannya!
Dadaku bergemuruh kencang. Jantungku seolah ingin terlontar keluar beserta hati dan semua jeroan. Ingin seperti hantu pok-pok yang bisa terbang tanpa badan, hanya kepala dan juga isi tubuh. Mau ku makan itu Si Pak Dosen dan juga teman pengkhianat seperti Rena.
"Huh, tega kau Rena, Pak Gio!" aku mengepal tangan dan menghentak kaki. Setelah Rena berlalu bersama Gio, aku memilih pulang dengan menumpang mobil angkot yang lewat.
Jlegarrr !
Huh, hampir saja jantungku mau copot. Suara petir yang tiba-tiba dan cahaya kilat di langit yang gelap tak memyurutkan langkahku. Aku tetap melangkah meski tetesan air mulai berjatuhan, mengenai kepala dan tubuhku.
Hujan rintik menjadi hujan deras yang sekejap membuat tubuhku basah. Di bawah guyuran hujan aku terus melangkah, membiarkan airmata turun bersama derasnya air hujan. Dingin yang membekap tubuhku tak kuhiraukan.
Ckittt!
Byurrr!
"Akh, si*lan, kau!"
Tanpa sadar aku mengumpat cukup keras saat sebuah mobil menyipratkan air dari genangan di sisi tempatku berjalan. Baju yang sudah basah bertambah basah dan tentu saja, kotor.
Diluar dugaanku, mobil berhenti dan berjalan mundur. Payung hitam keluar saat seseorang membuka pintu mobil. Lidahku berubah menjadi kelu saat bersamaan keluar seorang lelaki yang amat aku kenal, dan lelaki itu kini berjalan mendekat ke arahku.
"Kamu kenapa hujan-hujanan?apa kamu lupa dengan penyakitmu itu?" lelaki yang ternyata Pak Gio itu menatapku dengan raut wajah penuh ke khawatiran.
"Ayo, aku antar kamu pulang," ajaknya.
"Nggak Pak, terima kasih, saya mau pulang sendiri," sahutku.
Pak Gio mendekat dan menatapku marah, tajam seolah ingin memangsa.
Slapss!
__ADS_1
Ia meraih tanganku dan menyeretku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku berontak tapi tenagaku tak ada apa-apanya.
Dingin kembali menyergap tubuhku hingga tanpa sadar tubuhku gemetar kedinginan.
"Kau kena hipotermia. Kita harus cari tempat dan ganti pakaianmu," Pak Gio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tubuhku melemah dan menggigil kedinginan.
Ckittt!
Mobil tiba-tiba berhenti di sebuah hotel. Aku menolak saat Pak Dosen bersikeras mengajakku untuk ikut bersamanya.
"Ayo, ikut,"
"Mau apa ke hotel? aku ga mau!"
"Kamu jangan geer! aku ga akan berbuat macam-macam padamu! kamu kedinginan, dan butuh ganti baju, begitu juga aku. Kamu mau penyakitmu itu kambuh?"
Aku pun akhirnya menurut. Memaksakan tubuhku yang menggigil kedinginan memasuki hotel.
Setelah memesan kamar, Pak Gio bergegas berjalan seraya menarik tanganku.
Klek!
Kriett!
Ia menekan gagang pintu dan membukanya. Rasa was-was menyergap perasaanku. Takut nanti Pak Dosen berbuat sesuatu padaku.
Degh!
Apa ini? Pak Dosen seolah tau isi hatiku. Aku menunduk menahan malu.
"Tunggu di sini, aku akan menyiapkan air hangat untukmu," Pak Gio melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan aku masih menunggu di pinggir ranjang.
Tak lama Pak Dosen dengan wajah datarnya.
"Cepatlah mandi, aku akan mencari pakaian yang cocok untukmu, kebetulan di sekitar sini ada toko pakaian," ucapnya seraya berlalu. Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Byurrr!
Aku membasahi tubuhku dengan air hangat. Perlahan tubuhku yang menggigil mulai normal kembali. Pikiranku menerawang terbang jika sewaktu-waktu Pak Dosen berbuat mesum padaku. Bogem mentah siap kulayangkan padanya.
Kriettt!
Melangkah takut-takut ketika wajahku mulai menyembul dari kamar mandi. Netraku menyisir di setiap sudut. Tak ada Pak Dosen di kamar. Hanya ada seonggok pakaian dan juga secarik kertas di atas ranjang.
__ADS_1
Aku meraup kertas itu dan membaca tulisan pak Dosen yang rupanya tertuju untukku.
Sri, ini baju untukmu, pakailah.
Aku tau kamu akan terlihat sangat manis dengan dress ini. Kamu jangan takut, aku tak akan menganggumu, sekarang aku menunggu di luar. Kamu bisa bersiap-siap.
Degh!
Ternyata Pak Dosen tak sebejat pikiranku, ia pengertian. Namun, anehnya, bukankah ia tadi bersama Rena?
Aku mengambil baju dress dan mencobanya. Berulang kali mematut diri di depan cermin. Merogoh tas ransel dan menemukan lipstik Sereal pink dan bedak padat Wandahku, mengoles tipis di bibir dan menepuk pelan wajahku. Sempurna. Aku terlihat manis dan mempesona.
Tiba-tiba terselip pikiran buruk di benakku. Jika Rena bisa merebutnya dariku, kenapa aku tidak? aku bisa saja menggodanya jika tampilanku semanis ini. Bukankah cinta itu butuh perjuangan, walau harus saling menikam?
Aku menarik bibirku hingga tercipta lengkungan dan menyiratkan senyum penuh kemenangan. Aku amat yakin Pak Dosen akan jatuh ke pelukanku.
Sedikit mengibas rambut aku berjalan penuh rasa percaya diri yang tinggi.
Klek!
Kriettt!
"Pak--Dosen?" lirihku. Benar saja, Pak Dosen sedang menungguku. Ia bersandar di dinding, sepertinya ia mengantuk. Entah kenapa timbul rasa kasihan dalam benakku.
Mendengar suaraku, is seketika tersentak dan menatap diriku. Matanya yang biru bak air laut menatapku tanpa berkedip sedikitpun. Menimbulkan gelanyar halus dalam tubuhku.
Seketika aku menjadi kikuk karena aku yang sudah terbiasa memakai celana jeans belel koyak-koyak atau kadang celana panjang dasar, dipadu dengan kaos dan juga jaket, kini harus memakai dress di bawah lutut dan memamerkan kaki jenjang putihku.
Bisa kurasakan decak kagum terlontar dari bibir indahnya. Bibir yang sempat mengecup bibirku mesra. Ah, imanku rasanya goyah jika menatap wajahnya yang berubah imut itu.
"Hei, bener kataku, kamu tampak cantik dengan dress ini. Aku tak menyangka kamu bisa secantik ini,"
Benar saja, ia pasti memuji penampilanku. Huh, dasar playboy.
"Ya, kamu memang tampak cantik, tapi aku bukan merayu. Itu murni suatu pujian untukmu,"
"Dan aku bukan playboy seperti yang ada di pikiranmu,"
Sontak ucapan Pak Gio menerjang hatiku dan menyentak jiwaku. Apa-apaan ini? dia seperti tau apa yang ada di otakku ini.
"Aku tau semua yang kamu pikirkan, tuh wajahmu bicara," ia menunjuk wajahku yang memerah.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Bagiku, kamu cantik hari ini,"
__ADS_1
Aku bergeming mendengar ucapannya. Sebuah pujiankah? atau ini adalah isyarat?
***