
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_116
#by: R.D.Lestari.
"Ya, aku setuju. Tapi, kadang-kadang Indri menatap kita bergantian, tatapannya itu sendu dan syarat akan kesedihan. Sebenarnya aku ingin bertanya langsung, tapi takut Indri tersinggung,"
"Apa Indri tau sesuatu tentang James dan Gio?" Rena mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung jari. Sementara Sri mengedikkan bahunya.
"Kau tak tahu, Ren?"
"Memang kamu tahu, Sri?"
"Aku ...,"
"Aku juga ga tau, Ren," Sri menunduk lesu. Dalam hatinya berkecamuk rasa penasaran. Kenapa sikap Indri terkadang berubah saat mereka membicarakan tentang Gio dan James.
"Hmmh, ya udah, Sri. Kita tidur dulu, besok kita mau jalan-jalan di Kota Uwentira, menjelang balik ke dunia kita,"Rena memunggungi Sri dan tak lama terdengar dengkuran dari bibir mungil Rena, begitupun dari bibir Sri. Mereka tertidur pulas diatas kasur super lembut milik Indri.
***
Tok-tok-tok!
Kriettt!
"Selamat pagi, Tuan. Mau bertemu dengan siapa?" seorang wanita paruh baya menyapa saat pintu terbuka.
Bima menyunggingkan senyum menawannya pada wanita yang berpakaian seragam khusus untuk pekerja rumah tangga.
"Apa ada Pak James di rumah? saya mau bertemu beliau,"
"Ada, Tuan. Silahkan masuk, nanti saya panggilkan," wanita itu menyingkir dari ambang pintu dan mempersilahkan Bima masuk.
Lelaki dengan tinggi menjulang dan tubuh proporsional itu masuk kedalam rumah dengan langkah sedikit menghentak. Ia kemudian duduk di ruang tamu James yang mewah dan penuh dengan perabotan mahal.
Perempuan paruh baya itu kemudian berbalik dan melangkah menuju kamar James yang berada di lantai dua. Ia bergegas menaiki anak tangga berbahan dasar marmer dengan kilauan cahaya yang sungguh menakjubkan.
Tok-tok-tok!
"Ya, siapa?"
"Saya, Tuan. Ada yang cari Tuan di bawah,"
"Siapa, Bi?" sahut James dari dalam.
"Saya tidak tau, Tuan. Tadi lupa bertanya,"
__ADS_1
"Oh, ya sudah, saya segera ke sana,"
Kriettt!
Wajah James menyembul dari balik pintu dan melangkah tergesa menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu, menemui seseorang yang sedari tadi menunggu.
Tap!
James menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sedang duduk sambil menatap ke arahnya.
"Pak Bima?" lirih James, ia melangkah pelan dan duduk di hadapan Bima.
"Hai, James. Lama kita tidak bersua. Semenjak kamu berhenti, aku tak pernah mendengar kabar tentangmu,"
"Eh, iya Pak. Saya di dunia manusia, jarang di sini," jawab James kikuk.
"James, sebenarnya aku ingin membicarakan hal yang teramat penting untukmu, aku kira ini akan berpengaruh pada hubungan kalian,"
"Maksud Bapak? saya benar-benar tidak mengerti ucapan Bapak," James menatap Bima penuh tanda tanya.
"James, aku perlu menyampaikan ini, dengarkan baik-baik, ya James," lirih Bima. James mengangguk dan bersiap mendengarkan dengan seksama.
"James, apa pernah kamu berusaha jujur dengan wujud aslimu?"
Degh!
"Saya, belum pernah Pak. Belum pernah membicarakannya pada Rena," James menggeleng perlahan.
"Hmmh, itulah sebabnya aku di sini,"
"Aku ingin kamu jujur sama Rena. Ajak ia ke suatu tempat. Jika ia tak bisa menerima wujud aslimu, maka tinggalkanlah. Berpisah itu jalan utama,"
Bima menunjukkan wajah yang taramat serius sedangkan James hanya bisa menghela napas dalam.
Benar yang Bima katakan. Jika Rena tak bisa menerima wujud aslinya, itu sama saja mereka tak bisa bersama, tak mungkin James menyembunyikan identitas dirinya, karena itu sebuah kebohongan.
"Pikirkan, James. Lihat aku. Indri teramat mencintaiku, hingga ia mampu menerimaku walau dalam wujud jelek sekalipun," Bima membusungkan dadanya, bangga.
"Tapi, Pak ...,"
"Tak usah ragu, James. Jika ia mencintaimu dengan tulus, ia akan menerimamu, tapi jika ia hanya bermain-main denganmu, ia pasti akan pergi menjauh,"
Kata-kata Bima bak petir di siang bolong bagi James. Rasa ragu menelusup di relung jiwa James. Bagaimana jika Rena tak mau menerima dirinya? wujud lelaki bertanduk dengan guratan garis biru mencuat di sekujur tubuh? belum lagi bola mata merah bak warna darah?
Pasti sulit bagi Rena untuk menerima dirinya. James pun akan berpikir puluhan kali jika melihat Rena dalam wujud mengerikan seperti itu, apalagi Rena!
Pluk!
Bima mendekat dan menepuk punggung James pelan hingga pria tampan bermata biru itu terkejut dan menatap wajah James dengan tatapan linglung.
__ADS_1
"Oke, James. Aku permisi dulu. Coba pertimbangkan ucapanku barusan. Lebih baik sekarang dari pada nanti saat kalian sudah menikah. Rena bisa saja pergi, dan kamu taulah konsekuensinya. Dia akan jadi gil*," Bima mengulas senyum tipis dan berlalu pergi. Meninggalkan James yang saat itu masih termenung karena ucapannya. Ia kini berada di persimpangan, penuh kebimbangan.
***
Gio berulang kali menggosok handuk dikepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang basah setelah selesai berenang. Ia hendak bersiap-siap untuk menjemput kekasihnya, Sri. Ia sudah tak sabar bertemu dan mengajaknya berkeliling Kota Uwentira.
Saat sedang asik memilih pakaian dan aksesoris, James masuk ke kamarnya dengan wajah murung tanpa mengucap salam ataupun ketukan sebagai pertanda kedatangannya.
"Uh, astaga James! kau hampir saja membuatku jantungan!" teriak Gio saat wajah kakaknya menyembul dari balik pintu dan berjalan gontai kearahnya.
"Emang kamu punya jantung?" seringai James.
"Ya, lah. Jantungku itu berfungsi dengan baik jika berada dekat dengan Sri," Gio melempar senyum gemasnya saat mata James menatapnya tajam.
"Gi...,"
"Apa, James? tumben kau tampak murung hari ini. Kalah taruhan?" ledek Gio sembari terkekeh. Ia memang jarang sekali melihat kakaknya murung seperti itu. James biasanya jahil dan sering membuat suasana di rumah menjadi ramai.
"Aku, aku mau berbicara sesuatu padamu, tadi kan Pak Bima datang kerumah, terus ...,"
"Terus apa? pasti Rena pacarmu itu membuat ulah, 'kan? Rena memang gadis yang tak bisa diam," ledek Gio.
Mendengar nama pacarnya disebut, James jadi naik darah, matanya memerah. Dalam hitungan detik ia meraih bantal dan melemparkannya tepat ke wajah Gio.
Bught!
"Hei! James! apa-apaan, sih!" sungut Gio saat bantal sempat mendarat tepat di wajah dan membentur hidung bangirnya hingga memerah.
Berulang kali Gio bersungut-sungut karena kelakuan James, tapi detik berikutnya ia mendadak terdiam, saat melihat wajah kakaknya yang berubah serius. Sepertinya ia tau James saat ini tidak sedang bercanda.
"Kau kenapa, James? ayo, lanjutkan ceritamu," desak Gio saat jarak ia dan James hanya beberapa meter saja.
"Huffft," James membuang napas kasar.
"Gi, kita harus jujur,"
"Jujur? jujur tentang apa, James?" sahut Gio bingung.
"Jujur dengan wujud kita yang sesungguhnya, tunjukkan kepada pacar-pacar kita," jelas James. Tatapan matanya sendu ke arah Gio.
"James... itu tak mungkin! Sri bisa saja meninggalkanku! aku tak mau," tolak Gio. Ia mundur beberapa langkah dan menatap dirinya ke arah cermin.
"Tapi, Gi, kita tidak mungkin membohongi mereka seumur hidup, 'kan?"
"Apa kamu mau mereka bernasib seperti, Mama?"
"Mama...,"
****
__ADS_1