SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_24


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


# part_24


#by: R.D.Lestari.


"Indri, mari masuk," Ibu Bima mempersilahkan Indri masuk. Gadis itu menatap dengan sayu.


"Jangan sungkan, In. Tinggallah dulu di sini hingga tubuhmu sehat kembali, Ibu dan Anima akan merawatmu, percaya pada kami,"


"Terimakasih, Bu. Maafkan jika saya merepotkan," Indri membungkuk.


"Ayo, Kak Bima, bawa Kak Indri ke kamar tamu, biar ia istirahat," Anima berjalan di depan dan Bima mengekor bersama Indri dibelakang.


Netra Indri membesar, terpana melihat ruangan kamar tidur yang disiapkan. Rapi, bersih, luas dan di penuhi perabotan mahal.



Perabotannya berlapis emas dan permata. Ranjang dan lemari terbuat dari kayu jati dengan ukiran bunga dan burung. Antik dan elegan.



Anima berbalik dan pergi meninggalkan dua insan itu di dalam kamar. Bima memapah Indri ke pinggir ranjang. Dengan lembut Indri ia baringkan di atas ranjang yang begitu empuk, saking empuknya Indri berasa sedang berbaring di atas awan.



"Tidurlah, In. Kamu pasti sangat lelah, aku akan membuat perhitungan dengan Silva! sekarang juga!"



Mata Bima yang semula biru kembali berwarna merah. Ia menunduk dan tangannya mengepal kuat.


"Jangan, jangan pergi. Kondisimu masih amat lemah, aku mohon. Tinggallah Kak, jangan turuti emosimu," Indri berusaha mencegah Bima untuk membuat perhitungan pada Silva.


" Tidak bisa, In. Silva sangat keterlaluan, ia hampir saja membuatmu terbunuh," Bima beranjak dari duduknya, darah nya seakan mendidih menahan amarah yang kian meledak-ledak.



Indri mencengkeram tangan Bima, tertatih Indri berusaha bangkit dari tidurnya, walaupun kepala nya amat pusing tak ia hiraukan.


Kepala Indri menggeleng pelan. Mata Bima bersitatap dengannya. Indri seolah mengisyaratkan Bima melalui matanya, Bima akhirnya menghela napas dalam dan kembali duduk di sampingnya.


"Baik, aku tak jadi pergi. Kamu istirahatlah dulu, nanti Anima akan datang membawa ramuan untukmu,"

__ADS_1



Cup!



Bima mengecup kening Indri mesra, ia beranjak dan pergi meninggal Indri sendiri di dalam kamar.


Indri kembali berbaring, tubuh nya masih terasa sakit di beberapa bagian. Ia memejamkan mata dan tak lama ia pun terlelap.


***


Dingin merasuki tulang saat sayup-sayup terdengar bunyi azan. Di sini ada mesjid? bukankah sekarang ia berada di ... di ... di alam gaib?



Indri bertanya-tanya pada hatinya. Ia mengucek matanya dan perlahan turun dari ranjangnya . Ia sedikit berjingkat karena telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin menusuk kulit. Udara di sini memang lebih dingin di bandingkan di tempat nya.



Tok! Tok! Tok!



"Ya, masuk," ucap Indri begitu mendengar suara ketukan di luar.


" Ini untuk Kakak," Anima mendekat dan menyerahkan barang yang di bawanya.



"Terimakasih, An. Apa kamu juga solat?"



"Ha-ha-ha, ya iyalah, Kak. Kami kan muslim, ya solatlah," Anima tergelak mendengar ucapan Indri, membuat Indri salah tingkah sendiri.



"Kak Bima mana, An?" Indri celingukan mencari kekasihnya itu, sejak tadi ia tak melihatnya.



"Sehabis solat subuh di mesjid, Kak Bima pergi entah kemana memakai mobilnya, sepertinya ia terburu-buru,"


__ADS_1


Pergi? pergi ke mana Bima? lagi, kepala Indri berseliweran pertanyaan tentang Bima.



"Kak,Indri jangan takut, Kak Bima pasti bisa jaga diri,"



"An, Kakak mau tanya, boleh?"



"Boleh, Kak? tanya apa?"



"Bukankah Bima bisa terbang, kenapa ia memakai mobil?"



"Kami di larang menggunakan kekuatan kami jika tidak terdesak, dan kami akan mendapat hukuman jika melanggar ,"


Indri manggut-manggut mendengar penuturan Anima. Anima menunggunya sebentar untuk solat subuh, setelah selesai Anima mengajak Indri berkeliling melihat pemandangan sekitar rumah, memetik bunga yang bermekaran dan berjalan santai sambil mengobrol ngalor-ngidul. Anima merasa nyaman berada dekat dengan Indri , begitupun Indri. Mungkin karena mereka tidak punya saudara kandung perempuan dan umur mereka yang cukup dekat. Ya, sepertinya Indri betah berada di dunia Bima.


***


Brakkk!



Semua mata memandang ke arah Bima ketika lelaki itu dengan kasarnya menendang pintu di ruang kantor milik Silva . Gadis berkacamata dengan tubuh langsing itu tersentak dan seketika berdiri dari duduknya.



"Ada apa, kenapa kau ...,"



Brakkkk!



Dengan amarah yang membara Bima menggebrak meja kerja Silva, membuat gadis itu mematung ketakutan. Tubuh itu bergetar menghadapi Bima yang saat ini sedang dalam gejolak amarah.


"Ini peringatan untukmu! berani kau sentuh calon istriku , aku pastikan kau akan bernasib sama seperti werewolf suruhanmu itu!"

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban , Bima berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Silva yang wajahnya kini memucat . Ia baru sadar jika Bima sudah berhasil menolong gadis itu. Tapi, bagaimana bisa? bukankah pilar itu menjadi tabir dan menutup kekuatan Bima? dari mana ia tau mantra penangkalnya?


__ADS_2