SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_82


__ADS_3

bismillah


  


            SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_82


#by: R.D.Lestari


     "Pagi, Sayang ...,"


     Indri menggeliat saat ia merasakan ada pergerakan di balik telinganya. Rasa geli yang tak tertahankan membuatnya sesegera mungkin membuka mata.


   "Bima... Papa Bima ...," Indri dengan manja menarik Bima dari sisi ranjang hingga lelaki bertubuh atletis itu terjatuh dalam pelukannya. Bak bayi yang haus akan kasih sayang, Indri mendusel-dusel dada Bima hingga lelaki itu merasa geli dan terkekeh melihat tingkah tak biasa dari istrinya.


   "Hei, ayo bangun. Bukannya hari ini mau ke kantor?" ucap Bima sambil mengelus pucuk kepala Indri.


   Indri terkesiap. Tangannya mencari dan matanya menyisir sekitar tempat tidur. Di mana Stella?


  "Stella sama Ibu. Tadi, pagi-pagi sekali Stella bangun. Istri cantikku ini sepertinya amat kelelahan karena...,"


Bima terkekeh sembari memberikan kode pada Indri. Tentu saja tentang pertempuran tadi malam antara dia dan Indri.


  "Hiss, jangan diingetin dong, kan malu," Indri membenamkan wajahnya di dada Bima. Tangannya melingkar di pinggang Bima seolah enggan melepasnya.


   Knock-knock-knock!


   Indri mengurai pelukannya dari Bima yang saat itu bersandar pada ujung Ranjang. Terkesiap ketika mendengar ketukan pintu.


   "In, Stella dah bobo ini. Ibu bawa ke kamar Ibu, ya? kamu kerja ga hari ini?" suara Ibu terdengar lantang di balik pintu.


   "Iya, Bu. Indri ke kantor hari ini,"


***


    Setelah bersiap-siap, Indri dan Bima berpamitan pada Ibu dan juga Ayah. Bima hari ini juga ikut Indri ke kantornya.

__ADS_1


    "Pa, kenapa ga sama aunty Anima ke sini? kok sendiri?" tanya Indri saat mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju dalam kecepatan sedang.


    " Semakin sulit, Ma, pakai jalur tol. Banyak petugas. Papa males, jadi Papa lewat jalan pintas,"


    "Jalan hutan, Pa?"


    "Iya, jalan hutan. Lama ga apa , Ma. Yang penting bisa ketemu sama Mama," Bima menyentil hidung bangir Indri , wanita itu terkekeh geli.


    "Kok sekarang pandai merayu, kamu, Pa?" Indri menatap penuh cinta lelaki tampan yang amat ia rindukan itu.


    "Merayu sama istri sendiri ga masalah, kan, Ma?" Bima membalas senyuman istrinya dengan senyum yang tak kalah manisnya.


   "Pa, janji ya, kita ga akan pisah lagi? Mama sedih, Pa,"


   Bima mengangguk cepat. "Ya, Papa janji," sahutnya.


    "Ma, Papa punya solusi untuk kita. Bagaimana jika Paman saja yang mengurus kantor, nanti Papa atau Mama yang bolak-balik dari Uwentira untuk ngecek aja. Gimana?"


    "Kita ga bisa lama-lama di sini, Ma," ujar Bima.


   "Hmmh, ya, Papa bener. Bagaimanapun dunia ini bukan duniaku. Aku harus pulang ke duniaku yang baru," sahut Indri.


    "Terima kasih, ya, Ma. Mama mau nurut sama Papa," Bima melempar senyuman penuh haru pada Indri.


   "Iya, Pa. Semua ini demi kebahagiaan kita, Pa,"


   Ckittt!


   Mobil berhenti tepat di depan halaman kantor Indri yang cukup luas. Indri tak perlu meragukan kemampuan suaminya. Ia memang tau segala hal.


    Brakk!


   Bima membuka pintu mobil Indri dan mengulurkan tangannya untuk Indri genggam. Indri menyambut dengan suka cita. Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan menuju kantor.


   Semua orang yang melihat berdecak kagum akan ketampanan Bima yang memang mengundang perhatian .


  Indri dengan bangga bergelayut mesra di lengan Bima.

__ADS_1


   Tanpa mereka sadari di pojok ruangan ada sepasang mata yang menatap mereka tanpa berkedip sedikitpun.


  


   Ya, itulah Ikhsan. Nanar ia melihat Indri bermesraan dengan lelaki lain, hatinya hancur. Wajahnya merah padam. Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam kepalanya. Rasa tak percaya saat ia tahu jika lelaki tampan yang berperawakan seperti bule itu adalah suami dari mantan nya, Indri, yang saat ini berencana ingin kembali merajut asa bersama Indri di sampingnya.


Bima sempat melirik ke arah Ikhsan. Ia bisa membaca dengan jelas pikiran Ikhsan. Sepersekian detik mereka saling bersitatap, sampai akhirnya Ikhsan mengalihkan pandangannya. Ia cemburu berat. Niat untuk memperbaiki hubungan dan melangkah ke jenjang pernikahan pupus sudah.


Setelah bertemu dengan pamannya dan menyampaikan niatnya, Indri segera mengumumkan kepada para karyawannya.



Walaupun ia bakal jarang di tempat, tapi ia tetap memantau perusahaan yang didirikannya dengan susah payah itu. Ia pun membagikan sedikit rezekinya untuk semua yang ada di kantornya.



Setelah perpisahan singkat, Indri tak sedetik pun memandang ke arah Ikhsan. Baginya antara ia dan Ikhsan tak ada yang spesial. Ia pun tak ingin Bima, suaminya salah sangka.



Indri dan Bima berpamitan. Mereka pulang dalam keadaan suka cita. Tak ada lagi beban. Semua di rasakan mulus tanpa hambatan.



Sesampai di rumah pun, Indri dan Bima mengutarakan niat mereka. Indri akan tetap pulang kerumah, walau dalam jangka waktu yang cukup lama. Ia akan tetap bertanggung jawab tanpa melupakan orang tuanya sedikitpun.


Tangis dan airmata tumpah di pipi mereka. Ibu rela dan pasrah Indri ikut suaminya, begitupun Ayah. Mereka yakin jika Indri tak akan berdusta dan meninggalkan mereka selamanya.


Sampai di dalam mobil pun Indri dan Bima, juga Stella tak henti melambaikan tangan. Tangis Indri pun pecah, tapi Bima dengan sayang selalu memberinya semangat. Pulang kembali ke Uwentira bukan berarti sebuah perpisahan. Banyak jalan untuk menuju kebahagiaan, begitu pun untuk kembali pulang ke rumah.


Indri tersenyum lega. Hatinya berbunga-bunga. Kini ia bisa berbahagia bersama dengan suami dan anaknya tercinta. Di kota Uwentira kini ia merajut asa, asa cinta dan suka cita bersama.


***


Season Indri dan Bima tamat ya ...


Next kita lanjut season Rena, James, Sri dan Giorgino...

__ADS_1


Terima kasih semua 💜💜💜💜


  


__ADS_2