SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_75


__ADS_3

Bismillah


           SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_76


#by: R.D.Lestari


  "Lepaskan, James. Aku malu," lirih Rena.


Hup!


James kembali menggendong Rena menuju ranjang mewahnya.


Plukk!


James mendudukkan Rena di sana. Menatap Rena lekat. Memandang bola mata Rena yang indah secara bergantian.


Jantung Rena berdegup kencang. Setelah sekian lama akhirnya Rena bisa menatap wajah tampan James dari dekat. Tanpa penyekat .


Wajah James mulai mendekat. Saat hidung mereka hampir saja bersentuhan, Rena mendorong pelan tubuh James hingga tercipta jarak di antara mereka.


"Mau apa, James... a... aku... be ...,"


James tersenyum manis, ia kembali mendekatkan dirinya pada Rena.


"Aku tak akan berbuat lebih, Rena. Aku mencintaimu, dan tentu aku akan menjagamu," jari James membingkai wajah Rena.


Ia mendaratkan ciuman mesra pada Rena yang di sambut Rena dengan suka cita. Cukup lama mereka berpagutan sampai akhirnya...


...


...


"James ! Ibu kabur!"


James tersentak dan melepaskan pagutan mesranya. Ia seketika berdiri dan berlari menuju asal suara yang meneriakinya.


"Tunggu di sini, Ren. Aku akan segera kembali!" James berlalu dan meninggalkan Rena yang diliput rasa penasaran.


***


Di luar, James melesat cepat mengunci tangan ibunya yang hampir saja kabur dan keluar dari gerbang rumahnya.


Gio, adiknya hanya menatap penuh khawatir saat kakaknya James mengunci ibunya dengan pelukan keras darinya. Ibunya berontak. Menendang ke segala arah, semua perlawanannya sia-sia.  Tenaga James amat kuat, tak sebanding dengan kekuatan James.


Wanita tua lima puluh tahunan yang  masih nampak amat cantik itu akhirnya luruh dan menyerah. Ia pingsan kelelahan. James mengangkat tubuh lemah itu masuk ke dalam kamar. Membaringkan tubuh lemah itu di atas kasur yang super empuk.


Rena mengintip dari balik pintu. Ia membuka sedikit pintu hingga tercipta celah yang cukup untuk ia melihat gerak-gerik James yang sedang menggendong ibunya dengan tergesa.

__ADS_1


Rasa penasaran menelusuk hatinya. Ada apa dengan ibunya James? kenapa wanita itu seperti orang yang tidak waras?


***


"Hei, pengintip!" tiba-tiba wajah seseorang mengagetkan Rena. Wajahnya amat dekat seolah sengaja membuat jantung Rena berdisco riang.


"Ka--Kau...,"


"Jangan salah, Rena. Aku Gio, bukan James. Mulai saat ini kamu harus bisa membedakan antara aku dan James. Kami sama, tapi sikap kami amat berbeda, dan juga soal kekuatan, dia memang ahlinya," Gio mengajak Rena untuk duduk di ruang keluarga miliknya. Ruangan luas dengan desain modern perpaduan warna abu-abu putih, beserta wallpaper yang menambah kesan glamour.


    Rena berjalan bersisian dengan Gio. Pandangan matanya menyisir setiap ruangan yang benar-benar indah dan megah. Lampu-lampu gantung kristal dan karpet mahal beludru tak ketinggalan menghiasi setiap sisi rumah.


   "Duduk di sini, Ren. Pelayan akan datang membawa semua yang kamu inginkan ," ucapnya dengan senyum yang ramah.


  Gio memang amat berbeda dengan James dalam urusan menghormati wanita. Ia sabar, tutur katanya lembut, manis, tapi entah kenapa Rena tak sedikitpun tertarik pada Gio. Ia lebih suka James yang blak-blakan dan sedikit pemarah, menurutnya.


  Ah, Rena senyum-senyum sendiri mengingat tingkah James yang terkadang menyebalkan.


"Ehm,ehm, Rena... walaupun aku tak sekuat James, tapi aku bisa membaca pikiranmu," Gio terkekeh.


Muka Rena merah padam karena ucapan Gio. Ya,Rena lupa jika mereka bisa membaca pikirannya.


"Kamu mau apa?" tawar Gio.


"Tak usah, Pak. Saya sudah kenyang," tolak Rena halus.


"Ah, jangan panggil Pak, sebentar lagi kita akan jadi bro and sist," Gio terkekeh.


Mencium pundak Rena dengan gemas.


"Ah, kau mulai lagi, James. Berhentilah menjadi makhluk mesum!" Gio mencebik .


"Apaan, sih. Aku kan cuma cium sedikit," Rena yang mulai dengan risih dengan kelakuan James beringsut menjauhinya.


"Aku pergi aja! males jadi obat nyamuk!" Gio menghentak kakinya dan bergegas pergi meninggalkan James dan Rena.


"He-he-he, dasar cewek," James terkekeh.


"Ren, maaf ya, aku ninggalin kamu sama Gio. Ngurus Ibu sebentar,"jelas James sembari menatap dalam wajah Rena.


"Ibumu... kenapa, James?" Rena tak mampu menahan rasa penasaran yang berkecamuk dalam dirinya.


"Ibu ...., Ibu melanggar larangan dari hutan Uwentira. Ia menikah dengan ayahku yang seorang tentara sama sepertiku dari kota Uwentira,"


Rena mendengarkan penjelasan James dengan seksama.


"Setelah melahirkan kami, Ibu mulai bosen tinggal di Uwentira. Di pikiran nya hanya ingin pulang. Ia rindu dengan keluarganya di dunia tempat ia di lahirkan. Sayang nya setelah di izinkan oleh Ayah, Ibu selingkuh dengan seorang pemuda yang setiap waktu datang ke rumah. Ibu mulai jatuh cinta dan menikah dengannya,"


"Seperti perjanjian awal, jika sudah menikah dengan bangsa kami, fatal hukumnya untuk menikah dengan orang lain, kematian dan menjadi gila akan menimpa bagi yang melanggar,"

__ADS_1


"Sebelum Ibu menjadi gila dan menikah dengan pemuda itu, Ibu membawa Gio dan aku di bawa Ayah. Gio akhir nya di rawat oleh warga pribumi yang di utus khusus oleh Ayah," jelas James panjang lebar.


"Apa Gio bisa masuk ke Uwentira?"


"Tentu, bagaimana pun darah Gio berasal dari Uwentira, tapi jika berasal dari dua darah seperti kami, kami bisa memilih di mana kami inginkan, termasuk aku. Aku bisa saja tinggal di sini selamanya tanpa hambatan," James memainkan rambut Rena dengan jarinya.


"James... aku ingin pulang," Rena menatap manja pada James. James menghela napas kasar.


"Kenapa? tak betah, ya?"


"Bu--bukan, aku hanya kangen pada Mama," sahut Rena pelan.


"Oh, ayo aku antar pulang," James merangkul Rena dan membawanya ke luar.


"Mo--motorku?" mata Rena terbelalak saat melihat motornya kini sudah terparkir di teras rumah James.


"He-he-he, aku menyuruh Gio untuk mengambil motormu, tadi,"


"Ayo, aku antar. Pake motormu, ya? boleh?" James menatap Rena penuh harap.


"Tak perlu kujawab juga kamu sudah tau apa yang ada di pikiranku," sahut Rena.


"Rena, kamu memang menggemaskan," James mencubit pipi Rena gemas.


"James, aku masih kesal denganmu," Rena mencebik.


"Jangan mulai, Rena. Selama merajuk padamu aku amat rindu," James membuka tangan nya lebar-lebar.


"Huh, kamu kira aku mau gitu langsung meluk-meluk. Memang kamu siapa nya aku?" Rena menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku kan pacarmu, soulmate mu, Rena ...," James menarik tangan Rena untuk mendekat dalam peluknya. Namun, Rena dengan sigap menahan dirinya.


"Kapan kita pacaran? kamu tuh yang mesum, main *****-*****. Memanfaatkan kekuatanmu," Rena menatapnya nyalang.


"Tapi, kamu suka kan, Ren?" godanya.


"Huh, ga peka. Beda sama Gio, dia bisa menjadikan wanita seperti ratu," sungut Rena.


"Ya,ya,ya. Playboy itu. Oke...,"


"Rena yang cantik, di bawah sinar matahari yang hampir saja tenggelam ini, aku James mengungkapkan perasaan cintaku yang teramat dalam padamu, apakah engkau menerima cintaku?"


James mengulurkan tangannya sembari memberi sebuket bunga mawar pink bercampur merah yang amat cantik. Entah dari mana James membawa sebuket mawar. Ya, Rena tak perlu heran. Ia sudah tau kemampuan James yang di luar nalar.


Rena terdiam. Antara bahagia dan terbaru dengan perlakuan James yang amat romantis sore ini. Rena menitikkan airmata. Tetesannya jatuh mengenai punggung tangan James. James terhenyak dan membingkai wajah Rena.


"Ka--kamu kenapa menangis, Rena? apa ada yang salah dengan ucapanku?


****

__ADS_1


...


...


__ADS_2