SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_9


__ADS_3

Bismillah


"Suami Dari Alam Lain"


#part_9


#by: R.D. Lestari.


Assalamualaikum semua jangan lupa like dan subscribe ya, komennya juga di tunggu. Semoga suka dan siap-siap baper ya, terimakasih 🤗


***


Drap-drap-drap!



Derap langkah kaki kuda semakin mendekat. Kuda hitam besar dengan bulunya yang bersinar berhenti tepat di hadapanku. Seseorang yang menungganginya turun perlahan dan tersenyum manis menatap wajahku. Tubuh nya yang berotot di biarkan tanpa sehelai benang pun, seolah hendak memamerkan otot dada dan perut nya yang memang mempesona.


"Hai, kamu akhirnya datang juga," ia mendekat dan menyambut kedatanganku dengan ramah.


Aku terpaku melihat wajahnya yang amat tampan. Desiran aneh mulai merajai sekujur tubuhku,seolah ada getaran magnet asmara yang membuatku benar-benar terpesona oleh ketampanannya. Bima ... mengapa ia bisa setampan ini?



"Ayo, In. Nyawa temanmu dalam bahaya. Barangnya harus segera di simpan di tempat semula," Bima mengulurkan tangannya, mengajakku ikut bersamanya. Aku menurut dan menerima uluran tangan itu. Tangan yang amat halus dan lembut.


Uph!


Ia menggendongku naik ke atas kuda, ia pun naik dan duduk tepat di belakangku. Jantungku berdebar kencang saat dadanya yang bidang menyentuh tubuhku.


Drap-drap-drap!


Tubuhku terentak saat kuda berlari memacu waktu,tapi semua tak terasa menyakitkan karena ada Bima yang ada di belakangku. Tubuhnya wangi hingga membuatku merasa amat nyaman. Tangan nya yang kekar melingkar di antara tubuhku.


Kuda membawa kami menyelusuri hutan lebat, melewati jalan setapak dengan kanan kiri pepohonan yang tinggi menjulang. Sangat berbeda dengan jalan yang kami lalui sewaktu menggunakan mobil. Di sini perjalanan terbilang curam, naik turun bukit tanpa ada rumah warga satupun.



"In, jika kamu nampak kabut. Jangan banyak bicara, ya. Cukup nikmati saja perjalanan ini. Apa pun yang kamu lihat, itu bukan mimpi," Bima berbisik di telingaku.



Aku menelan saliva, rasanya kerongkongan sakit dan napas tercekat. Pikiran aneh-aneh tiba-tiba menghinggapi. Bagaimana jika aku tak akan pernah kembali? bagaimana jika yang kulihat itu hantu dan monster? makhluk-makhluk mengerikan di dalam hutan?



"He-he-he, tak ada hantu, tak ada monster, yang ada hanya keindahan," tiba-tiba Bima tergelak.



"Whattt? dia tau apa yang ada di pikiranku?" Aku membatin dalam hati. Pipiku langsung bersemu merah.

__ADS_1



"Iya, aku tahu. Semua yang ada di pikiran dirimu, semua," kembali Bima terkekeh.



Perjalanan menuju tempat yang di tuju ternyata cukup jauh, terkadang kuda meringkik ketika hampir terjatuh menaiki bukit curam yang cukup licin.



Bima semakin mendekatkan tubuhnya, aku tak berpikiran macam-macam padanya, mungkin takut aku terjatuh.



Samar-samar aku melihat kabut yang cukup tebal dihadapanku. Aku mulai gelisah teringat dengan ucapan Bima tadi.



"Tenang, tak akan terjadi apa-apa, kamu bisa pulang dan temanmu akan selamat," Bima berusaha memenangkan jiwaku dari kegelisahan.



Sebelum masuk ke dalam kabut, kuda sempat meringkik kencang. Ia seketika berlari cepat menyebabkan goncangan yang amat kuat. Bima semakin mempererat pegangannya.



Dan...




Bukit-bukit hijau dengan padang rumput yang bergoyang di tiup angin serta kupu-kupu yang berterbangan dengan warna yang beraneka ragam. Sangat indah di bawah bentangan langit biru dan awan putih seperti kapas.



Aku tersentak. Bukankah aku tadi pergi dalam keadaan menjelang malam? dan ini? suasana pagi hari? apa sebegitu lamakah perjalanan yang kutempuh? perasaan baru beberapa menit saja. Ah, bingung. Aku sungguh diliput kebingungan.


***


"Jangan bingung, In. Nikmati saja,dan itu gedung tempat dirimu harus mengembalikan barang itu," Bima menunjuk sebuah gedung yang baru beberapa hari ini kami tinggalkan.



Gedung itu tampak sepi, tak ada seorang pun di halamannya seperti waktu aku masih di sana, semua orang berlalu lalang dan ramai.



Hup!


__ADS_1


Bima turun dari kuda dan membantuku turun. Kuda di biarkan begitu saja berkeliaran disekitar, ia berlari kencang menuju padang rumput yang sempat kami lewati tadi.



"Ayo, masuk," Bima menarik tanganku pelan, aku pun mengikutinya.



Sepi, tak ada seorang pun di sana, tapi semua tertata rapi . Aku mengikuti langkah Bima yang bergegas menuju kamar tempat kami menginap.



Kriettttt!



Perlahan pintu kamar terbuka. Aku melangkah pelan memasuki kamar yang gelap dan mencekam. Kakiku bergetar karenanya.



Klek!



Aku tersentak dan jantungku nyaris copot ketika Bima, menghidupkan lampu. Ia tersenyum sembari terkekeh di ambang pintu melihatku yang sempat melirik ke arahnya .



"Jangan takut! tak ada apa-apa di sini selain kita," ia menjentikkan jarinya.



Kakiku masih saja bergetar, apalagi ketika tanganku akan membuka pintu lemari .



"Jangan-jangan isinya ular dan makhluk berbisa lainnya? atau mungkin wanita berambut panjang dengan mata berdarah? atau...,"



"Darrrrr!"



"Astaga!" aku berjingkat sembari berbalik dan tanpa sengaja memeluk tubuh di hadapanku.



Memeluk? siapa yang kupeluk? sejak kapan dia ... dia ada di belakangku?


__ADS_1


"He-he-he, sini aku bantu, kamu rupanya penakut sekali, Indri," suara Bima membuat wajahku memerah. Aku mengangkat wajah dan melihat wajah tampannya sangat dekat. Mungkin saja saking dekatnya ia bisa merasakan detak jantungku yang berdebar amat kencang .


__ADS_2