
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_92
#by: R.D. lestari.
Aku terkesiap menerima kenyataan manis di hadapanku. Kenyataan yang mungkin jadi langkah awal untuk hubunganku bersama Pak Gio, dosen tampanku. Namun, aku segera sadar akan hal mustahil yang tak akan mungkin pernah terjadi itu. Biarpun aku menggodanya setengah mampus, ia pasti akan tetap pada pendiriannya. Aku adalah muridnya dan pantang baginya memacari seorang murid karena itu membuat kariernya hancur. Berulang kali ia ucapkan itu untuk mempertegas bahwa diantara kami tak akan pernah ada cinta, dan beruntung kesadaran itu datang sebelum akhirnya aku mencintainya lebih dalam.
Aku menatap Rena penuh rasa bersalah. Ya, selama ini pikiranku kotor padanya. Prasangka buruk yang akhir nya menghancurkan persahabatan kami yang sudah bertahun lamanya. Harusnya aku yakin pada Rena, Rena tak akan pernah berkhianat.
" Emm, ya, aku minta maaf, Rena. Tapi ...," susah payah kalimat itu akhirnya keluar dari bibir merahku . Mataku rasanya panas, ingin saat itu juga memeluk Rena erat dan berucap langsung di telinga nya, tapi tiba-tiba...
Derrrt-derrt-derrt!
Handphoneku bergetar. Sebuah nama terpampang di sana. Aku terpana dan gegas berdiri.
"Sri...," Rena menatapku heran. Mungkin ia tak pernah melihat sahabatnya bisa sebahagia ini sebelumnya.
"Rena, aku minta maaf, aku harus segera pergi sekarang juga!" Aku segera berbalik tanpa mengindahkan tatapan heran James dan tentunya Gio.
"Sri!" Sayup kudengar Pak Dosen memanggil namaku, tapi aku tak menggubrisnya. Aku berlari terburu-buru seperti memburu waktu.
Aku tak ingin terlambat barang sedetik pun, seseorang tengah menungguku, seseorang yang telah lama pergi kini telah kembali.
Kakiku terasa kebas dan lidahku terasa kelu saat melihat sosok yang kini sedang berbincang dengan Nenek di dalam rumah. Aku melangkah dengan perlahan, rasanya tak percaya dan dadaku berdebar kencang. Sedikit gemetar ketika aku melihat punggung yang amat kurindukan bertahun-tahun lamanya.
"Itu, Sri udah pulang," Nenek menunjuk ke arahku.
Seseorang itu dengan senyum renyahnya memalingkan wajah dan seperti ada bongkahan batu yang menghimpit dadaku.
Wajah itu, senyum itu, sendu, tampan, putih, baik hati. Akh, aku rasanya ingin memeluk sosok itu saat ini juga, tapi aku yakin Nenek akan shock dan mungkin pingsan melihat cucunya bak hewan buas yang menerkam mangsa.
Sosok itu berdiri dengan tegapnya, menatap dengan mata indahnya yang berkilau. Senyum tipis yang membingkai wajah.
"Sri, kamu tampak luar biasa cantiknya,"
"Nenek, aku tak menyangka Sri bisa secantik ini sekarang," laki-laki itu berpaling pada Nenek dan tentu saja senyum Nenek kian mengembang.
__ADS_1
"Ya, sepertinya dia sedang jatuh cinta, Hans. Kau harus berusaha keras untuk merebut hatinya kembali. Kau pergi terlalu lama,"
"Semoga masih ada harapanku untuk bisa bersanding dengannya," ia kembali menatapku yang diam mematung.
"Hei, gadis tomboy. Apa aku terlalu menakutkan untukmu? kau tak rindu padaku, hah?" Ia merentangkan tangannya untuk menyambut sebuah pelukan dariku.
Wajahku memerah. Bulir bening itu tumpah seiring ragaku yang tak kuasa membendung rindu yang membuncah. Hingga saat ini aku masih merasa tak percaya sosok itu kembali hadir di tengah-tengah kami. Aku rasa sembilan tahun lalu adalah hari terakhir aku melihatnya, cinta pertamaku, Hans Aditya.
"Nenek ke kamar dulu," susah payah Nenek bangkit dan menuju kamarnya.
Nenek sangat pengertian memberi waktu padaku dan Hans untuk segera melepas rindu.
"Hei, tomboy. Kami begitu terpesonanya pada sahabatmu ini?"
" Hans!" aku menghambur di pelukannya. Sampai saat ini pun rasaku masih sama. Bergetar saat kulitku menyentuh tubuhnya. Dan sampai saat ini ia pun tak tau jika aku memiliki rasa lebih dari sekedar sahabat.
"Hans," rintihku berurai airmata.
"Kau datang, Hans. Setelah sekian lama kita berpisah," terisak dan tak berdaya. Itulah yang aku rasakan saat ini.
"Hans, sembilan tahun tanpa bersua sedikitpun. Ku kira aku tak akan pernah bertemu padamu lagi," sesenggukan, hingga suaraku rasa tercekat di kerongkongan.
"Aku baru punya rezeki saat ini, Sri. Kau tau betapa susahnya aku dulu hingga kedua orang tuaku terpaksa membawaku pergi untuk mengubah nasib,"
Hans merangkulku dan menarik tanganku. Membawaku duduk di sampingnya.
"Sri, apa yang terjadi padamu hingga dirimu serapuh ini selama aku pergi? aku tak pernah melihatmu sedramatis ini," Hans membingkai wajahku dan menatap dalam mataku. Manik coklat bak batu pualam itu melihatku teduh.
"Banyak Hans. Waktu sudah merubahku menjadi gadis yang rapuh dan hilang arah," kini aku tak tau apa yang membuatku bisa stragis ini, apa karena kehilangan Hans atau karena... penolakan Pak Gio.
"Sudahlah, Sri. Sekarang ada aku, dan aku akan menghapus sedihmu," buku-buku jemari Hans yang mengusap lembut air mata yang masih menggenangi pipi dan pelupuk mataku. Ketenangan segera menghinggapi relung hatiku. Hanya sekedar usapan kecil tapi mampu menghilangkan laraku.
"Kau sudah makan, Sri. Aku amat lapar, tapi pinginnya makan di luar. Kita cari makan, yok. Rindu makan bareng Mie Ayam sama kamu," Hans menarik paksa tanganku tanpa menunggu persetujuanku.
Menggunakan motorku, kami pergi mencari Mie Ayam yang menarik baginya. Selama di perjalanan tanganku tak henti memeluk tubuhnya. Kami memang terbiasa begini sedari remaja. Hans yang selalu mengantar dan menjemputku ketika sekolah menggunakan sepeda onthel punya kakeknya.
Persahabatan yang terjalin indah itu ternyata menimbulkan benih asmara dihatiku. Hans, sedari dulu lelaki yang lembut, setia kawan dan juga lelaki manis yang menggetarkan jiwa. Saat itu aku hanya mampu memendam rasa tanpa mampu mengucapkan dari lubuk hati terdalam.
__ADS_1
Dan Pak Gio? setelah bertahun aku kesepian dan menolak cinta yang datang, Pak Gio datang membawa rasa baru untuk diriku. Rasa yang tak pernah kuimpikan akan kembali merekah dan layu dalam sesaat. Penolakan dan sikap tegasnya membuatku luluh lantak.
Akh, aku tak ingin memikirkan lelaki angkuh itu. Bisa-bisanya ia menolakku?
"Sri, itu ada kedai Mie Ayam. Kita mampir ke situ, ya?"
Hans menepikan motor dan meraih tanganku untuk ikut bersamanya. Ah, Hans masih sama seperti dulu, ia amat tau cara menyanjung wanita rapuh sepertiku .
Setelah memesan dua mangkuk mie beserta bakso di atasnya, Hans mengajakku duduk di sudut. Kami duduk berhadapan, dan Hans begitu intens menatap diriku.
"Sri ...," ucapnya lirih.
"Ya, Hans,"
"Aku tak tau apa yang terjadi padamu, yang aku tau kau tumbuh jadi gadis yang amat cantik dan manis. Sangat berbeda dengan dirimu dulu, hitam dan dekil," ia mengulum senyum simpul seolah meledekku.
"Ya, itu karena kau selalu mengantar jemputku dengan sepeda onthel legend punya kakekmu itu," aku terkekeh geli mengenang romansa itu.
"Ya, saat itu mentari amat menyengat kulitmu yang bertransformasi jadi seindah ini," ia berdecak kagum melihat penampilanku.
"Ya, tapi itu jadi kenangan indah tersendiri untukku," kali ini kuulas senyum semanis mungkin, menyembunyikan getir dalam hatiku. Tak dapat kupungkiri wajah tampan nan rupawan itu selalu terngiang dalam benakku. Aku mengutuk diriku sendiri, mengapa punya rasa sebesar ini?
"Kau sedang patah hati, Sri?" tanya nya padaku.
"Ya, aku baru saja patah hati," sahutku jujur.
"Patah hati untuk kedua kali," lanjutku.
"Kedua kali? pertama kali dengan siapa?" Hans menatapku tajam seolah ingin tau lebih dalam.
"Kau, Hans," dadaku bergemuruh, tak dapat kupungkiri sangat susah bagiku jujur padanya.
"Aku?"
Tiba-tiba keheningan menerkam kami berdua. Terjebak dalam rasa dan kenangan. Aku dan dia, Hans Aditya.
***
__ADS_1