
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_54
# by: R.D.Lestari.
Hingga orang-orang yang berada di tempat melihat Indri aneh. Tubuh mungil dan ramping tapi selera makan melebihi kuli, rakus.
Bima melirik istrinya lembut saat Indri memancarkan mata merah dan ingin mendekati orang yang mengatai nya dalam hati. Panas membara menjalari hati dan tubuhnya.
"Kamu jangan marah, Sayang. Kita berada di duniamu, di mana manusia akan selalu menjelekkan. Berbeda dengan duniaku yang masa bodoh. Itulah mengapa kita punya kemampuan untuk mendengar walau dalam hati, dengan begitu kita malu jika ketauan lagi ngomongin orang," Bima mengelus punggung tangan Indri sayang.
Indri menggeram. Apa salahnya jika ia makan banyak? toh ini bukan cuma untuk dirinya, tapi untuk anak dalam kandungan nya.
"Sayang, kamu jangan marah-marah, nanti kamu bisa mencelakakan orang," Bima berbisik memperingati Indri, istrinya.
Indri mencebik. Ia geram dengan pikiran orang di sekelilingnya. Ingin rasanya ia mencabik dengan kukunya yang tajam, tapi kembali lagi, ini bukan di dunianya.
Ia pun mengerti buntut dari kemarahannya bisa membuat orang-orang tak berdosa kena imbasnya.
"Huh ... hah...," Indri menarik napas dan membuangnya dari mulut. Bima yang melihat tingkah istrinya terkekeh geli.
"Apaan?" Indri menatap tajam tingkah Bima yang tersenyum geli melihatnya.
"Lucu Sayang, kamu ngapain, tadi?" Bima masih cengengesan, sedangkan Indri berubah menjadi masam.
"Biar hilang marahnya, Kak," sahut Indri.
"Ya udah, sekarang kita pulang. Lama-lama di sini nanti kamu bisa lepas kontrol, dengerin pikiran orang-orang di sini,"
"Eeeghhh,"
"Eh, suara geledek, Sayang. Takutnya hujan,"
"Geledek?" Indri kebingungan karena ia tak mendengar suara geledek seperti Bima. Apa Bima ngelindur?
"Ga ada suara geledek, Sayang. Angin pun biasa, tak kencang," sahut Indri.
"Itu tadi ada suara ekhh ... seperti perpaduan suara geledek dan embek," jari telunjuk Bima bermain di dagunya.
__ADS_1
Indri tergelak geli mendengar ucapan Bima. Ia baru sadar jika yang di maksud Bima adalah suara sendawanya yang memang besar tadi.
"He-he-he, itu suara sendawaku, Sayang,"
"Sendawa?"
Indri lupa, jika makhluk seperti Bima tak mungkin bersendawa. Setau Indri, selama menikah, Bima jarang sekali BAB dan BAK. Ketika di tanya, penjelasan Bima membuat Indri mengerti, jika mereka makan, sari-sari makanan terserap sempurna dan sisanya sedikit, terkadang langsung habis terserap bersama sisa makanan. Dan untuk air minum, sama. Airnya pun langsung terserap. Itulah mengapa mereka makhluk yang punya energi penuh dan jarang sekali lelah. Darah mereka memang ajaib. Bekerja lebih keras daripada manusia pada umumnya.
"He-he-he, sudahlah, suamiku, ayo sekarang kita ke rumah Ibu. Aku sudah teramat kangen dengan beliau," Indri mencekal tangan suami tampannya. Manik biru mata Bima menatapnya haru.
"Ayo, Sayang," Bima membantu Indri tegak karena Indri mulai kesusahan. Perut yang semakin membuncit membuat Indri mulai begah dan melakukan sesuatu dengan keterbatasan.
Setelah membayar, Indri sempat melirik orang-orang yang sempat membicarakannya meski hanya dalam hati. Mata Indri berubah merah darah dengan menarik sisi bibirnya hingga memamerkan gigi taringnya.
"Ugh-ugh," beberapa orang terbatuk , ada pula yang langsung menundukkan kepala,ketakutan.
Dalam hati mereka bertanya," makhluk apakah barusan?"
Indri terpingkal hingga masuk ke dalam mobil. Bima hanya melihat istrinya dengan geli. Ia amat tau apa yang ada di benak Indri saat itu. Dengan santai Bima mengendarai mobilnya, melaju pelan agar istri dan anaknya selamat sampai tujuan.
***
"Rena!!!" suara Sri menggema, tepat di telinga Rena , hingga wanita langsing dan putih itu terjingkat saking kagetnya.
"Loe yang apaan, di ajak ngobrol loh dari tadi, ngelamun aja," Sri mencebik.
"Sri, gue mau ngomong sesuatu ama loe," Rena mencekal tangan Sri kuat, hingga Sri meringis kesakitan.
"Sa--sakit, apaan sih, Ren. Mo pinjam duit, loe?" tebak Sri.
"Eh, iya. Ma--maaf, Sri. Eh, pinjam duit? enak aja! ga lah," sanggah Rena.
"Jadi, mo ngomong apa, Rena Silviana?"
" Sri ...gue lagi ga mau bercanda, gue bener-bener lagi galau," rengek Rena. Sri yang sedari tadi meledeknya berubah serius dan menatapnya tajam penuh rasa penasaran. Apa kiranya yang bisa membuat sahabat kentalnya ini galau?
"Iya, Ren. Ceritain sama gue,"
"Sri, beberapa hari ini hidup gue ngeri, Sri. Gue diikutin makhluk tak kasat mata, alias demit!"
"Salah loe, ngomong sembarangan. Demat- demit, demat-demit ! demitnya nongol, kan,"
"Iya, Sri. Gue nyesel," Rena memelas.
"Bentuk demitnya kek apa? berbulu ? bertaring? rambut nya panjang?" cecar Sri. Matanya membulat penasaran.
__ADS_1
"Belum pernah liat aslinya, Sri. Tu demit bawain gue sate, tapi, gue lihat loh, sekilas. Kek cowok gitu, Sri. Tinggi pake jaket abu-abu,"
"Ganteng, ga?"
"Udah di bilang, ga pernah liat, tapi bisa di rasa, gitu," Rena mengangkat bahunya .
"Loe, ruqyah aja dulu, mana tau ada jin yang nempel," Sri menjawab dengan serius. Manik coklat Rena menatapnya bingung.
"Nanti lah, Sri. Gue pikirin lagi, sekarang gue pulang duluan, ya. Mo masak, soalnya Ibu dinas pagi ga sempat masak tadi," Rena bangkit dari duduknya.
"Oh, ya. Kapan kita ke rumah orang tua Indri, Ren? kemarin ga jadi," ucap Sri yang langsung membuat Rena menghentikan langkahnya .
"Besok, ya? aku janji,"
Dertt! derrtt!
Sri merogoh benda pipih di dalam kantongnya bergetar. Sebuah pesan masuk dan Sri melotot ketika membaca pesannya .
"Rena! Indri pulang! dia nyuruh ke rumahnya besok!" Sri berteriak girang.
"Indri, oke Sri, besok fix kita ke sana," sahut Rena sembari berlari, ia ingin segera sampai rumah dan memasak untuk makan malam.
***
"Assalamualaikum ," Rena mengucap salam saat kakinya melangkah memasuki rumah. Kosong.
Rena menghela napas dalam. Beginilah jika ibunya dinas dan adiknya Reno main ke rumah temannya. Rumah jadi sepi.
Rena membuang tasnya ke sembarang tempat. Tanpa berganti pakaian, Rena melangkah menuju dapur dan mulai mencari bahan-bahan makanan yang bisa di masak.
Ia mengambil sayur dan ayam di dalam kulkas. Mengupas bawang dan memotong cabai yang sudah di cuci bersih. Rena sengaja tidak menghidupkan lampu karena sinar matahari masih menerangi dapur walaupun sedikit temaram.
Saat Rena mengumpulkan rambut sebahunya menjadi satu dan mengangkat ke atas untuk diikat, Rena merasakan ada angin lembut menyentuh lehernya. Rena bergidik ngeri.
__ADS_1
Aroma mint menguar memasuki rongga penciumannya , amat wangi dan maskulin menyebabkan gelanyar halus di tubuh langsingnya.
Tubuh Rena membeku dan tak dapat bergerak saat ia merasakan ...