SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_105


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_105


#by: R.D.Lestari.


    Cup!


   Satu kecupan mendarat di keningku. Kecupan indah yang menggetarkan jiwa.


   Pak Gio berbalik dan melesat terbang dalam sekejap. Aku menatap nya penuh cinta hingga ia hilang dari pandangan. Masuk ke dalam kamar melalui jendela.


   Tubuhku seketika menggigil kedinginan, mengganti pakaian dan beranjak keluar kamar, tiba-tiba ...


   "Ehm, ehm... dari mana saja kamu, Sri?"


    Aku terperanjat saat suara Nenek amat dekat denganku. Ternyata orang tua itu sedang duduk di tempat biasanya merajut dan menyulam. Di kursi yang letaknya di sudut ruangan tak jauh dari kamarku.


    "Ne--Nenek?" Nenek memicingkan matanya. Menatap dengan penuh curiga.


    "Hm?" dehemnya.


    "Sri ...," aku ragu untuk menjawab, harus jujur atau membohongi Nenek? pilihan yang sulit.


   "Hmmh, Sri. Nenek tau tadi malam kamu tak ada di kamar. Nenek mencium bau warga Uwentira. Itu pastinya Pak Gio, 'kan?"


    Aku mengangguk pelan. Kulihat Nenek menghela nafasnya dalam.


    "Untunglah Pak Dosen itu berjanji untuk tidak membawamu tinggal selamanya di Uwentira,"


    "Nenek lega ia menepati janjinya dan membawamu kembali pulang,"


    "Maksud Nenek?"


    "Ya, Nenek mengizinkannya untuk dekat denganmu, tapi Nenek tak mau kamu ikut ke dunianya. Nenek tak mau kamu hilang seperti Indri, Sri," Nenek tersenyum kecut.


    "Bagaimana nasib Nenek tanpa kamu, cucu Nenek satu-satunya?"


    "Akh, Nenek ...," aku menekan dada yang tiba-tiba terasa sakit dan Nyeri. Berlari pelan ke arah Nenek dan memeluknya erat. Sedih bercampur haru ketika tubuhku berasa hangat dalam dekapannya.


    Wanita yang wajahnya sudah keriput itu kudengar beberapa kali menghela napas dengan degup jantung yang terdengar kencang.


    "Sri tak akan meninggalkan Nenek. Walau mendesak atau disuruh memilih, Sri tetap memilih Nenek. Bagi Sri, Nenek adalah orang tua kedua, dan cinta sejati Sri," aku terisak diantara belaian lembut tangan tua keriput punya Nenek.


    "Nenek hanya tak mau sendiri di usia Nenek yang sudah tak lama lagi," desisnya yang membuat tubuhku seketika menegang.

__ADS_1


    " Nenek, jangan ngomong begitu. Sri ga mau dengar. Sri cuma pengen Nenek sehat terus dan bisa lihat Sri bahagia," aku meraung dengan bersimbah air mata. Aku tak ingin Nenek pergi, walau sebenarnya aku tak menampik ucapan Nenek, karena usia Nenek yang sudah tua dan renta.


   "Sudah, jangan nangis kayak anak TK, kami hampir jadi Mama, lho. Masak mewekkan," Nenek mengangkat wajahku dan mengusap pipiku yang basah dengan jemari tua nya.


   "Ayo, solat sana. Nanti habis waktunya," Nenek mendorong tubuhku pelan yang kusambut dengan anggukan.


    Aku melangkah cepat menuju padasan belakang rumah. Benar kata Nenek, hari sudah mulai terang pertanda waktu subuh akan segera usai.


    Tak ingin membuang waktu, setelah berwudhu aku langsung berlari menuju kamar dan melaksanakan kewajibanku. Kadang terselip ragu di palung hati terdalam. Benarkah yang kulakukan ini? mencintai manusia berdarah Jin?


***


    Hans datang dengan wajah gusarnya. Aku yakin prihal kedatangan Pak Gio pagi-pagi buta, dengan membawa sarapan roti manis bertabur mesis menjadi tanda tanya besar bagi pemuda yang pernah singgah di hatiku ini.


    Berkali-kali kulihat tatapan mata Hans tajam bak elang. Ia pun tak ingin sedikitpun duduk berjauhan denganku, begitupun Pak Gio, Dosen tampanku.


    Aku berasa diapit dua bocah yang memperebutkan mainan. Sama-sama tak ingin mengalah. Sungguh kekanak-kanakan.


   "Sri, aku belikan lontong, ya? atau mie ayam? kamu kan suka, tu. Ga usah makan roti, bikin gendut," Hans menawarkan diri, tapi ketika mataku melirik ke arah Gio, wajah Pria itu berubah masam.


    "Heh, Sri itu anti gendut. Sampe puluhan tahun juga dia bakal langsing dan menawan,"


    "Ayo, Sri. Makan roti ini, ini enak banget, Sri. Rendah gula dan pasti ga bikin gendut," Pak Gio menyodorkan roti bertabur mesis dan coklat meleleh ke arahku. Matanya berbinar berharap aku mengambilnya.


   Aku menelan saliva, roti yang disodorkan Pak Gio memang menggugah selera. Amat menggoda untuk segera dikunyah.


    Slappp!


    "Ayolah, Sri. Kita beli lontong. Aku sudah lapar," rengeknya.


    "Hans, aku ...,"


    "Apaan kamu, seenaknya ngajak-ngajak Sri! dia sudah jadi pacarku. Calon istriku!"


    Gio tak mau kalah dan menarik kembali tanganku. Menggeser tubuhnya mendekat ke arahku.


   "Halah, ga percaya. Sri itu cinta pertamanya ya aku, dasar perebut jodoh orang!" maki Hans dengan mata mendelik.


    "Eh, maksudmu, apa? aku tak merebut siapapun! Sri kan memang sendiri saat aku dekat dengannya!" Wajah Pak Gio menegang. Urat-urat biru di wajahnya mencuat menahan amarah.


    Jantungku berdegup kencang seolah ingin mencuat keluar dari raga.  Bagaimana jika Hans dan Pak Dosen yang saat ini bersitegang larut dalam amarah dan saling menikam?


   'Oh, Tuhan. Aku tak ingin ada pertumpahan darah di rumah ini,' batinku.


   Tiba-tiba Pak Gio melesatkan pandangannya ke arahku. Lidahnya berdecak kesal seraya berujar," ya, ga sampe tikam-tikaman kali, Sri. Pikiranmu terlalu jauh,"


   Degh!

__ADS_1


   Pipiku memerah mendengar ucapan Dosen tampanku ini. Bisa-bisanya ia membaca pikiranku. 'Emang dasar demit!'


   "Sri? stop membuyarkan pikiranku. Kamu berisik sekali!" Pak Gio mencebik.


   "Dan satu lagi! aku bukan demit, hantu dan sebagainya, ingat ya! aku orang bunian!" Gio berkacak pinggang dan menunjukku dari jauh.


   "Apa? aku ga ngomong apa-apa, kok," belaku.


    "Iya, tapi pikiranmu itu!"


    "Hey, kalian ngomongin apa, sih? pikiran? orang bunian? demit?"


    "Orang bunian itu apa?" Cecar Hans membuatku dan Pak Gio saling bersitatap.


   'Ah, sial*n. Bisa-bisanya keceplosan, makiku dalam hati.


   "Ah, bukan apa-apa, kau salah dengar," sanggahku.


    "Ya, kau salah dengar. Aku tak bilang apa-apa," Gio mengedikkan bahunya.


    "Eh, aku bukannya bod*h, ya. Aku jelas mendengar kau menyebut kata bunian. Setauku bunian itu orang gaib,"


     "Atau jangan-jangan kau separuh hantu?" Hans menatap Gio dengan curiga.


    "Kalau ya, kamu mau apa?" lagi, wajah Gio berubah tegang. Sorot matanya tajam penuh tanda ancaman.


    "Heh, biarpun kau hantu sekalipun. Aku tak takut," tantangnya.


    "Sri, kamu jangan mau sama dia. Cari yang manusia lah, Sri. Ingat Tuhan, ingat dosa,"


   Degh!


   Ya ampun, kata-kata Hans seketika membuat tubuhku bagai batu. Apa benar yang Hans katakan? dosa?


   "Sri, jangan terpengaruh ucapannya, Sri. Aku juga manusia, Sri," Pak Gio berusaha menggapai tanganku, tapi aku segera menepisnya keras.


    "Kau memang keterlaluan, Hans. Mempengaruhi hubungan kami. Kau tak tau apa-apa tentangku, Hans!" teriak Gio marah.


    "Memangnya aku perduli? yang penting Sri jadi milikku!"


    Hans mengedipkan matanya dan melenggang pergi.


    "Hans!"


****


  

__ADS_1


  


 


__ADS_2