SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part 106


__ADS_3

Bismillah


 


          SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_106


#by: R.D.Lestari.


   "Hans!" Sri berteriak memanggil nama Hans, saat lelaki bertubuh tinggi itu melangkahkan kaki menjauhi mereka.


   Seketika itu juga langkah kaki Hans terhenti dan ia pun berbalik dengan wajah yang sumringah. Menatap wajah ayu Sri yang saat itu hatinya bimbang.


    "Maaf, Hans. Aku tak bisa menjadi kekasihmu. Aku sadar jika perasaan yang dulu ada dihatiku itu sudah lama terkubur dalam,"


   "Siapapun Pak Gio, itu sudah tak penting bagiku. Yang terpenting saat aku sendiri, dialah yang ada dan menemani,"


   "Aku minta maaf, Hans. Aku benar-benar minta maaf," Sri mengulas senyum getir. Sedangkan jauh didalam lubuk hatinya, ia menangis.


   Ya, tak dapat dipungkiri, ia berada dalam persimpangan. Pilihan yang tak mengenakkan. Mematahkan hati seseorang itu amat menyakitkan.


   Walau ia sadar, semakin lama pasti semakin sulit baginya untuk menentukan suatu pilihan. Dan ia rasa, inilah pilihan terbaik dalam hidupnya.


   Bagaimana ia merasa begitu dicinta, disayang, ditolak, diperjuangkan saat bersamaan.


   Itu juga bukan hal mudah baginya. Selama bertahun-tahun memilih menunggu, tapi Hans tak jua datang dan hanya sekadar memberi kabar. Apa itu yang di namakan cinta? atau itu hanya sekedar perasaan suka karena melihat Sri semakin cantik?


   "Hmmh," Hans menghela nafas dan dalam dan membuangnya perlahan. Lelaki putih dan berhidung bangir itu berjalan mendekati Sri yang masih termangu di samping Gio.


    "Baiklah, Sri. Aku juga minta maaf karena sudah hadir kembali dalam hidupmu, dan membuat bimbang hatimu,"


    "Tapi, yang harus kamu tau. Aku juga mencintaimu, Sri. Aku bodoh karena terlalu lama memendam perasaan ini darimu,"


    "Hans ... maafin aku, ya. Maaf ," suara Sri terdengar pelan, menyiratkan jika hatinya pun terluka.


    "Ya, aku bisa apa, Sri. Kamu baik-baik ya, sama Gio," Hans menepuk pelan pundak Sri.

__ADS_1


    "Gi, aku ngaku kalah, tapi jika suatu saat kau menyakiti Sri, aku tak akan segan-segan merebutnya dari tanganmu," tatapan mata Hans nyalang ke arah Gio.


     "Ya, kau tak usah takut. Sri aman bersamaku," jawab Gio yakin.


     "Sri, aku rasa sudah saatnya juga aku pergi. Toh, ga ada lagi urusanku di sini. Semoga kamu bahagia, Sri," Hans tersenyum getir dan berbalik, melangkah cepat meninggalkan Sri  yang saat itu menatap kepergian Hans dengan hati yang juga terluka.


    "Maafkan aku, Hans," lirihnya.


***


Pov Hans.


    Aku melangkah gontai meninggalkan rumah kayu yang walaupun terbilang tua tapi masih terlihat kokoh dan bersahaja.


    Di rumah tua itu dulu aku bersama Sri, gadis hitam manis yang sempat kutaksir dan mengisi relung di jiwaku itu bercanda juga tertawa bersama.


   "Hufffft," dadaku rasanya amat sesak dan perih menggerogoti jiwaku. Bagaimana aku bisa melupakan Sri? padahal gadis itulah yang membuatku ceria dan selalu menanti kehadirannya di setiap waktu.


    Semakin dalam perasaanku, semakin susah untuk menjauh. Namun, sebuah keputusan serta merta menghancurkan impian dan harapanku.


Aku terlambat datang dan membuat hatinya yang dulu untukku kini terisi dengan sosok lain, selain diriku.


   Mau tak mau aku harus menerima keputusannya walau terasa berat dan menyakitkan. Inikah yang dinamakan patah hati?


   "Assalamualaikum," sapaku saat memasuki rumah sederhana yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari kediaman Sri.


    Ya, itulah rumah Paman dan bibiku. Aku sengaja menginap disini untuk sekedar menghilangkan rasa kangenku yang membuncah pada sosok gadis cantikku itu.


    "Waalaikumsalam,"


   "Sudah pulang, kau, Hans? kenapa wajahmu berkerut seperti itu?" tanya Bibi saat menatap wajahku yang berubah mendung .


    "Iya, Bi," jawabku lesu.


    "Oia, Bi. Aku besok mau pulang, hari ini aku akan membeli tiket," paparku. Wajah Bibi seketika menegang mendengar ucapanku.


   "Pulang? katanya seminggu lagi disini, kenapa cepat pulang, Hans?"

__ADS_1


   "Ya, Sri menolakku, Bi. Tak ada alasan lagi aku berlama-lama disini," sahutku pelan. Jujur, setiap menyebut nama Sri jantungku selalu memacu lebih kencang. Pesonanya terlalu kuat hingga amat sulit jauh dari jerat asmaranya.


   Bibi menatapku sendu, seolah tau getir dalam hatiku. Ialah saksi perjalanan cintaku saat aku remaja hingga saat ini, dewasa.


   Bibi juga orang yang selalu mendukung hubunganku, selain Ibu. Namun, apa mau di kata. Harapanku sudah pupus dan kandas di tengah jalan sebelum akhirnya berlabuh.


   Aku menyeka peluh yang sedari tadi membasahi wajahku. Berjalan dengan diiringi sakit hati memang membuang energi yang cukup banyak bagiku.


   "Kau harus sabar ya, Hans. Bibi yakin, suatu saat nanti akan ada wanita yang lebih baik dari Sri, dan pastinya bisa nerima kamu apa adanya," Bibi berusaha menghiburku. Aku berusaha mengulas senyum. Menunjukkan padanya kalau aku baik-baik saja.


    Padahal zonk, aku sekarang berada dalam keterpurukan. Terjatuh dalam jurang yang teramat dalam, sebuah penolakan yang amat menyakitkan. Cinta tulus yang dicampakkan.


    Sri, dengan menyebut namanya saja tubuhku sudah gemetar, membalas pesan singkatnya membuat diriku meriang. Menunggu setiap detik kabar darinya dengan hati gundah.


   Berharap setiap detik bisa melihat wajahnya. Mengaguminya dalam diam. Diam-diam kepo dan stalking semua akun sosmednya.


   Dapat balasan pesan rasanya seperti menang lotre, hal seperti itu pastinya akan sangat membuat diri ini rindu.


  Bucin, aku bucin yang berakhir tragis. Berakhir dengan sebuah penolakan yang tentunya amat sangat menyakitkan.


***


  Derrt-derrt-derrrt!


  Berulang kali ku dengar bunyi getaran di nakas dekat tempat tidurku.


  Itu pasti Sri. Ya, sedari semalam ia berusaha menghubungiku. Entah apa lagi yang ia mau. Bukankah ia sudah menolakku?


  


  


   


  


   

__ADS_1


__ADS_2