SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_52


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_52


#by:R.D.Lestari.


Pluk!



Bima menepuk pelan pundak temannya itu, membuat lelaki berotot dengan tubuh tinggi itu terjingkat. Seketika ia menoleh dan matanya membulat melihat Bima yang kini berdiri di belakangnya.


"Ko--komandan?"


"Kamu ngapain di sini, James?" selidik Bima. Mata lelaki itu menatap tajam penuh keingin tahuan.


"Sa--saya ...,"


"Ayo, kita duduk dulu," Bima merangkul James duduk di dalam kedai.


Beberapa orang pembeli menatap takjub James dan Bima yang berjalan melewati mereka. Walaupun sudah lewat tengah malam tapi kedai mamang sate masih juga ramai.


"Mang, minta sepuluh porsi sate, ya," ucap Bima yang diiringi anggukan dari Mamang sate.


"James, kita lanjutkan obrolan kita. Kamu tau kan konsekuensi dari pekerjaan kita jika kamu berani masuk ke dunia ini?" Bima berbicara dengan nada penuh penekanan.


James menunduk. Tak berani menatap mata komandannya. Mau tak mau ia harus jujur kenapa ia bisa berada di dunia yang di larang bagi makhluk seperti mereka.


"Saya jatuh cinta pada seorang wanita di sini, jatuh cinta pada pandangan pertama. Seperti halnya Pak Bima," James berusaha jujur. Ia memberanikan diri menatap wajah komandannya yang mendadak mengkerut karena ucapannya .


"Cinta? siapa? apa itu gadis yang kamu tolong hari itu?" Bima berusaha menerka-nerka.


Dengan tersipu malu James mengangguk.

__ADS_1


"Rena? gadis itu, Rena?"


"Ya, dia Rena," lagi, James mengangguk seraya mengulas senyum manisnya.


"Hmmmmh," Bima menghela napas dalam dan melepasnya secara perlahan. Ia tau perasaan James, sama seperti apa yang ia rasakan pada Indri. Tak mungkin menghalangi rasa cinta yang kini sedang tumbuh subur di hatinya.


"Baiklah, James. Ini jadi rahasia kita saja, ya. Aku akan berusaha semampunya menutupi dari petinggi-petinggi kita, tapi ingat! saat latihan kamu jangan absen,"


Puk! puk!


"Ini, Pak,"


Bertepatan dengan tepukan di bahu James, Mamang sate datang membawa pesanan Bima dan James secara bersamaan.


"Oke, James. Aku duluan, istriku sedang menunggu," ucap Bima .


"Siap, Komandan," sahut James. Bima hanya tergelak karena sikap sopannya.


"Kita di luar, James. Panggil Abang saja, tak perlu terlalu kaku, anggap saja aku abangmu," Bima tersenyum tipis. Mata James berbinar mendengar ucapan komandannya.



***


"Ini, Sayang ... satenya," Bima menyodorkan tiga porsi sate di nampan yang ia bawa untuk Indri. Nampan itu ia letakkan di atas nakas. Tangan kekarnya membelai wajah Indri yang tampak semakin memucat karena kurang makan. Kehamilannya ini sungguh menguras banyak tenaga.


Mendapat usapan lembut dari suaminya, Indri yang sedari tadi tertidur dalam keadaan perut yang teramat lapar, membuka matanya secara perlahan sebab indra penciumannya mengendus bau yang sangat enak. Ya, aroma sate membuat perutnya keroncongan. Ia sangat bernapsu untuk makan saat ini juga.


"Apa ini bau sate, Sayang?" Indri mengucek matanya sembari mengendus aroma sate yang amat menyengat.


"Iya, Sayang. Ini sate pesenan permaisuri cantikku," Bima menyodorkan senampan sate pesenan istri tercintanya .


Tanpa menunggu lama, Indri langsung merebut nampan sate dan melahap satu persatu tusukan sate dengan nikmatnya. Indri amat rakus membuat hati Bima pilu. Ia tak menyangka Indri yang selama ini pendiam ternyata menderita karena kehamilannya membuat ia susah makan.


__ADS_1


Dalam hati Bima berjanji, untuk Indri, ia akan menuruti apa pun kemauannya . Termasuk untuk membeli sate setiap hari walaupun jarak yang di tempuh sangatlah jauh.



"Eeeggghhh," Indri bersendawa setelah ia menghabiskan tiga porsi sate tanpa tersisa. Ia mengelus perutnya dan menatap Bima penuh cinta.


"Terima kasih, bimaku,"tatapnya manja. Bima tersenyum bahagia melihat istrinya. Ia mendekat dan menempelkan kepalanya pada perut buncit Indri. Sembari mengelus pelan, Bima berucap," apa kamu suka, Sayang?"


"Suka dong, Sayang, tapi aku ... kangen orang tuaku," tiba-tiba mata Indri berembun. Seraya membelai rambut pirang Bima, tatapan Indri berubah kosong. Pikirannya menerawang jauh. Hampir berbulan-bulan ia tak menemui kedua orang tuanya.


Bima terdiam. Ia kemudian beranjak dan duduk berhadapan dengan Indri. Sungguh terenyuh mendengar ucapan istrinya itu. Ia tahu betapa pilu hati Indri saat ini. Ia merasa amat bersalah karena lupa akan janji.


"Besok kita temui Ibu dan Ayah, maaf karena aku terlalu sibuk hingga lupa akan janji kepadamu ," Bima berucap pelan sembari menyeka airmata Indri yang sedari tadi luruh dan menggenangi pipi putihnya yang gempal.


Mata Indri berkaca-kaca. Indri memeluk tubuh suaminya erat. Ia amat bahagia. Ucapan Bima saat ini merupakan angin segar baginya. Ia tak sabar menunggu untuk bisa bertemu dengan orang tuanya.


***


Suara adzan terdengar amat syahdu di sela rintikan hujan dan udara dingin yang menusuk tulang. Gemericik air yang menetes menjadi musik indah yang membuat Rena terlena. Malas bangun, walaupun adzan sudah sejak tadi usai.


Wuzzzhhh!



Entah angin dari mana hingga membuat tirai tersibak kuat dan tubuh Rena menggigil kedinginan. Ia segera menarik selimut menutupi tubuh dan wajahnya.



Sekilas, Rena seperti melihat sekelebat tubuh laki-laki dewasa baru saja melesat melewatinya. Walau dalam keadaan mengantuk, antara sadar dan tidak sadar. Ia amat yakin jika apa yang ia lihat benar manusia.



Ia lantas memicingkan matanya dan menyusuri setiap sudut kamar. Kosong. Namun, ia amat yakin kalau saat itu dia tak bermimpi .


__ADS_1


Dengan rasa penasaran yang tinggi , Rena menurunkan kakinya dan melangkah pelan menuju meja rias , sesuatu benda tak sengaja menarik perhatiannya . Benda itu ...


__ADS_2