
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_114
#by: R.D.Lestari.
"Ya?" ucap Bima saat membuka pintu, ia heran menatap wajah seseorang yang sepertinya ia kenal.
"James? ada apa?"
"Maaf, Pak Bima. Saya bukan James, saya Giorgino, adik James," Gio memperkenalkan diri dengan sopan.
"Oh, ya, Gio. Silahkan masuk," Bima dengan ramah mempersilahkan Gio masuk.
Gio masuk dengan kaki gemetar. Matanya menyisir semua sudut untuk mencari Sri.
Sri yang saat itu melihat kedatangan Gio amat bahagia. Ingin ia peluk pria pujaannya itu dengan segera, tapi ia tahu itu tak mungkin.
"Sri, pangeranmu datang, tuh. Ayo, temui," Rena menyikut lengan Sri.
Gadis itu mengangguk dan perlahan beranjak dari duduknya. Berjalan pelan mendekati Gio yang saat itu masih termangu di ambang pintu.
Gio mengulurkan tangannya, menyambut kedatangan Sri yang saat itu menatap Gio dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu dengan kedatangan Gio yang memang amat di tunggunya.
"Saya permisi dulu, Pak Bima. Ada yang mau saya bicarakan dengan Sri," pamit Gio sopan yang diiringi anggukan Bima, Sang Tuan rumah.
Setengah berlari, Gio menarik tangan Sri, menuruni anak tangga rumah Bima yang memang megah.
"Hhh-hhh," nafas Sri tersengal-sengal saat Gio menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Bught!
Gio mendorong bahu Sri hingga gadis itu sedikit terhimpit diantara tubuh kekar Gio dan dinding.
Jantung Sri seakan terlontar, ia menelan saliva susah payah seolah tercekat di kerongkongan.
"Sri ...," suara merdu nan serak beserta deru nafas wangi mint menyeruak dari bibir Gio.
Sungguh, Sri tak sanggup menatap Gio terlalu dalam. Tubuhnya melemas seketika. Ia gemetar. Pesona Gio teramat kuat hingga membuat semua tubuhnya menggila.
"Sri ... kenapa kamu sampai ke sini? apa memang kamu datang khusus untukku?" jemari Gio dengan lembut menyentuh pipi Sri, menyingkirkan helaian rambut-rambut nakal di wajah Sri dan membawanya kebelakang telinga gadis yang saat itu sengaja memejamkan matanya.
"Sri ... buka matamu, Sayang..., apa kamu tak ingin lagi melihatku? apa kamu sakit hati dengan semua sikapku?"
Gadis itu terdiam. Lagi, bagai tertusuk sembilu tepat di hatinya, terasa perih, sakit, dan sesak merajai dadanya. Ia sulit bernapas. Hanya cairan hangat berwarna bening yang keluar dari sudut matanya yang masih menutup sempurna.
Ia menekan dadanya. Memalingkan wajahnya saat jemari Gio menyentuh pipinya, berniat menghapus airmata yang begitu deras. Pria berego tinggi itupun merasakan hal yang sama. Ia hancur melihat gadisnya itu menangis tanpa mengucap sepatah katapun.
__ADS_1
"Sri ... ya ampun, jawablah, Sayang,"
"Apa memang hubungan kita tak mungkin terselamatkan?"
"Apa memang hatimu hanya untuk Hans dan bukan untukku?"
"Sri ...,"
"Stop, Pak. Stop!" Sri menatap Gio dengan berurai airmata. Tatapannya tajam dan mematikan.
"Sekali saja, saya mohon, dengarkan. Dengarkan saya!" Sri mencengkeram kerah baju Gio. Ia mendongakkan wajahnya dan lelaki itu menurunkan pandangannya agar mereka bisa saling bersitatap.
"Sri ...,"
"Aku menemui Hans hanya untuk mengucap kata perpisahan. Aku tahu itu membuatmu terluka. Sama halnya dengan diriku. Aku juga terluka,"
"Hans adalah sosok lelaki yang amat aku nanti sebelum adanya dirimu, Pak Dosen,"
"Namun, Hans tak pernah mengatakan kalau ia akan datang dan punya perasaan yang sama terhadapku,"
"Bertahun-tahun, hingga aku lelah hanya mendapat kabar tanpa pernah ada ucapan cinta dan sayang sedikitpun untukku,"
"Apakah aku salah jika jatuh cinta padamu? kamu ... ya, kamu yang selalu membuatku seperti orang gil*. Aku tergila-gila padamu, padamu Pak Gio!"
"Sri ...,"
Sri mendorong pelan tubuh Gio hingga tercipta jarak diantara mereka. Melangkah pelan menjauhi Gio.
"Aku memilihmu, jelas aku memilihmu! memilih seseorang yang gigih mempertahankan cinta dan membuat aku selalu merasa bahagia,"
"Tapi ... aku harus jujur jika Hans punya tempat tersendiri di sebagian hatiku,"
"Bagaimana bisa seseorang yang menemanimu lama bisa hilang dalam sekejap?"
"Bagaimana aku bi...,"
Pluk!
Sri menghentikan ucapannya saat ia merasa seseorang memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang.
Ya, Gio melingkarkan tangannya di pinggang Sri, kepalanya bersandar di bahu dan mengecup pelan lehernya.
Gadis itu merasakan butiran air menetes mengenai kulit bahunya yang terbuka.
Ia tersentak. Air? apakah hujan? tapi, langit cerah. Apakah mungkin?
Sri melepaskan genggaman tangan Gio dan berbalik. Tangannya yang lembut menyentuh pelan wajah lelakinya yang juga basah sama seperti dirinya saat ini.
"Pak? apa kamu menangis?"
__ADS_1
"Sri, bisakah untuk malam ini kamu sebut namaku saja?"
"Tapi ... Pak ... kamu, masih dosenku," Sri menundukkan pandangan matanya. Ia tak ingin berlaku tak sopan. Bagaimanapun Gio adalah Dosennya.
"Hanya tinggal beberapa bulan saja, dan setelah kamu lulus, aku ingin kita segera menikah,"
"Menikah? ki-- kita?"
Sri melongo. Ia tak percaya dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir tipis Gio. Bisa saja kan kalau dia sedang bercanda?
"Ya, malah jika memungkinkan aku ingin pernikahan kita berbarengan dengan James dan Rena,"
"Bayangkan, betapa megah dan bahagianya keluarga kami saat mendapat dua menantu cantik dan baik secara bersamaan,"
Gio memandang ke atas langit. Membayangkan suasana suka cita dan tawa bahagia saat pesta digelar.
"Pa--Pak...,"
"Gio, panggil aku, Gio,Sayang...," Gio kembali mengalihkan pandangannya ke arah Sri. Menatap manik coklat yang bersinar penuh haru dan berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, Sri. Amat mencintaimu, dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tak ingin berlama-lama membuatmu sendiri,"
"Aku tak tau kapan lelaki itu datang kembali dan merebutmu dari pelukanku,"
Kedua tangan Gio menangkup wajah Sri, hingga mata gadis itu menatap dalam mata biru sebiru lautan milik Pak Dosen tampannya.
Lama mereka terpaut dalam diam dan saling memandang. Gio tak sanggup menahan gejolak didalam dadanya.
Ia begitu terpesona pada bibir merah milik Sri yang sedikit terbuka dan basah. Wajah Gio mendekat dan bibirnya menyentuh pelan.
Sri terpejam. Menikmati sentuhan demi sentuhan yang Gio berikan. Sesekali Gio menggigit pelan, dan Sri membalasnya dengan penuh cinta.
Cukup lama mereka saling terpaut dalam romansa cinta, sebelum akhirnya suara derit pintu yang terbuka, membuat mereka sesegera mungkin menghentikan tautan cinta yang membara.
"Eh--he, sepertinya ada orang datang, Gi,"
"Ya, ayo kita kembali ke dalam. Aku ingin mereka tau jika kita sudah baikan," Gio menarik pelan tangan Sri, kembali ke rumah Bima, menaiki anak tangga dengan sukacita.
"Ehem, Rena, sepertinya ada yang baru saja baikan," Indri menyikut lengan Rena pelan.
"Ya, In, ada yang pipinya bersemu merah," Rena terkekeh menggoda Sri yang saat itu masih bergandengan tangan dengan Gio.
"Ayo, kita rayakan dengan makan malam, kebetulan sudah siap," Bima datang dari dalam kamar sembari menggendong putri kecilnya.
"Ah, ya benar. Ayo, kita makan," Indri menarik tangan Rena, Sri dan Gio mengikuti dari belakang.
Mereka akhirnya merayakan kembali bersatunya cinta Gio dan Sri dengan makan malam bersama, dalam suasana suka cita dan tawa.
****
__ADS_1
To be continued...