SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_15


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_15


#by: R.D. Lestari.


"Nek, motor itu kenapa bisa sampai rumah?" akhirnya kata itu terucap di bibirku. Nenek melirik benda yang aku tunjuk itu.


"Oh, itu. Kemarin ada beberapa tentara datang ke rumah membawa Motor itu pulang. Mereka bilang kamu ada urusan dengan komandannya untuk menyelamatkan jiwa Rena. Makanya kami menunggumu pulang dalam keadaan khawatir," papar Nenek.



Aku mengangguk pelan. Mereka pasti prajurit bawahan Bima. Aku tersenyum simpul. So sweet juga Bima, bisa-bisanya ia berpura-pura tak tahu siapa yang mengambil motorku.


Ku hempaskan tubuhku keras di atas kasur kapukku. Kamar ini, betapa kangen tidur di sini. Walau berasa hanya sehari meninggalkan rumah ini, entah mengapa rasanya kangen sekali.


Matapun terpejam karena ngantuk yang tak terhingga, tak menunggu lama akupun terlelap.


***


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum," suara seseorang terdengar nyaring di telingaku. Ibu yang sejak tadi berbincang denganku bergegas menuju pintu ruang tamu.


"Waalaikumsalam...,"


"Indriiii!" suara seseorang lantang terdengar beserta derap langkahnya yang menghentak di lantai. Ia berlari dan seketika memeluk tubuhku erat.


"Re--Rena? dari mana kau ...," belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Rena menangis histeris sembari bercerita panjang lebar.


"Terimakasih In, berkatmu aku bisa sadar dari mimpi burukku!" seru Rena, ia tetap memelukku erat.


"Aku minta maaf karena ulahku, dirimu menjadi korban dan kembali di bawa ke dimensi mereka," isak Rena.

__ADS_1


"Sudahlah, Ren. Yang penting kamu sudah sadar sekarang," aku membelai bahu Rena. Berusaha menenangkan nya.


"Ren, aku ingin kamu bercerita padaku. Apa yang kamu alami sewaktu kamu sakit kemarin?" Aku mulai menyelidik.


"Ceritanya panjang In," Rena mulai tenang. Aku mengajaknya duduk di pinggir ranjangku, ku berikan tissu untuk menghapus sisa airmatanya tadi.


"Waktu itu, sewaktu Sri di wawancara, tak sengaja mataku menangkap bayangan orang banyak di belakang tubuhmu, In. Mereka berperawakan tinggi besar dengan otot yang kekar dan wajah seperti kera. Mata mereka merah dan mengeram marah," dengan gamlang Rena menjelaskan.


"Mereka berteriak 'pencuri'. Anehnya tubuhku seperti kaku. Sulit untuk bergerak. Aku hanya bisa melotot dan menahan sakit saat tubuhku mereka ikat dengan tali yang besar. Dan sejak saat itu aku seperti budak yang mereka siksa di alam mereka," kembali Rena menitikkan airmata.


Aku kembali memeluk tubuhnya dan mengusap bening yang metes.


"Alam mereka memang indah, tapi karena kesalahanku, aku diajak ke tempat kita tinggal kemarin, tapi tempat itu menjadi sangat menyeramkan. Sepi, gelap tak ada seorangpun.


Mereka bilang aku akan di lepas saat temanku datang dan membawa kembali barang yang aku curi,"


"Dan malam itu aku melihatmu, In. Bersama Bima. Aku sangat lega, terima kasih, In," ucapnya tulus.


"Sama-sama, Ren," jawabku pelan.




Degh!


"Sa--sayap?"


"Ya, kamu tak tahu, In?" Rena menatapku tak percaya. Aku menggeleng pelan.


"Malam itu aku ke ruangan yang sama dengan tempat kita menginap dulu, kamu di mana? kenapa aku tak melihatmu?"


"Entahlah, In. Aku pun heran kenapa kamu tak melihatku. Padahal aku berulang kali memanggil dirimu dan berusaha menggapai tubuhmu, tapi amat sulit. Kita seperti berada di dua alam," Rena memandangku dalam.


"Dua alam? maksudmu?"

__ADS_1



"Sudahlah , In. Terlalu sulit untuk kujelaskan. Yang penting kita jangan lagi berurusan dengan mereka, temasuk Bima itu," Rena berusaha memperingatiku.



"A--aku tak bisa, Ren," lirih kata itu terucap dari bibirku .



"Maksudmu? jangan main-main, In. Mereka bukan manusia seperti kita!" Rena mencengkeram lenganku .



"Mereka juga manusia, Ren. Hanya beda dimensi ," aku bersikukuh dengan ucapan ku.


"Jangan buta, In. Ketampanan Bima memang sangat menggoda, tapi mana ada manusia punya sayap? coba kau pikirkan lagi, In," Rena kali ini berucap dengan penekanan . Aku rasa Rena memang serius dengan ucapannya, atau dia punya niat lain? bisa jadi dia yang ingin menjadi kekasih Bima, tentu saja.


"Ya, sudahlah, In. Aku malas berdebat. Aku mau ke kampus. Apa kamu mau ikut?" ajak Rena, tapi aku hanya menggelengkan kepala.



"Aku duluan, ya, In," Rena beranjak dari ranjangku dan melenggang pergi setelah mengulas senyum untukku .



Brukkk!



Aku kembali menjatuhkan tubuh rampingku di atas kasur. Tubuhku terasa amat lelah. Baru saja mata ini ingin memejam , tiba-tiba ...



"In ... Indri!" suara teriakan Ibu menggema seantero ruangan . Dengan malas kulangkahkan kaki menuju arah suara Ibu di ruang tamu. Mataku terbelalak ketika ...

__ADS_1


__ADS_2