SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_59


__ADS_3

Bismillah


   "SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_59


#by: R.D.Lestari.


  Plak!


  Satu tamparan mendarat di pipi putih James. James menyentuh pipinya sembari meringis kesakitan. Lima jari Rena membekas di sana.


James menatap nanar ke arah Rena yang sekarang sedang menyeringai padanya.


   "Apa-apaan, kamu, Rena?"


   "Kau yang apa-apaan, James! apa yang kau perbuat padaku! dasar mesum!" maki Rena seraya melempar bantal ke wajah tampan James. James cepat menghindar dan bantal jatuh ke sudut ruangan.


    Gadis berhidung minimalis itu menggeram marah. Ia frustasi karena kelakuan James yang sudah memperlakukannya bak gadis murahan saat ini.


    Rena bersiap melakukan perlawanan pada James. Lelaki berhidung bangir itu harus merasakan akibat dari perbuatan mesumnya.


    James yang selama ini angkuh dan dingin berubah ketakutan begitu melihat perubahan pada diri Rena, gadis yang memikat hatinya selama ini.


  Rena beranjak dari duduknya dan menyingkap selimut yang tadi menutupi tubuh indahnya. Ia menatap nyalang ke arah James dan berancang-ancang untuk menyerang James.


   Melihat Rena yang diliputi rasa marah, James pasrah dan bersiap-siap menerima serangan dari Rena yang mungkin amat brutal, terlihat dari seringaian dan tatapan tajam bagai elang.


   Gggrrr!


   "James!"


   Hup!


   "Rena...sakit!"


   James berteriak kesakitan saat Rena melompat ke arahnya, ia menjambak serta mengacak rambut hitam kepirangan milik James yang amat wangi, wangi mint dan jasmine yang berpadu, tapi itu tak membuat Rena merasa tenang sedikit pun. Ia malah makin ganas bak singa betina.


  "Ren, hentikan," berulang kali James memohon, tapi Rena tak jua iba. Ia malah semakin geram mengingat perbuatan James yang biad*, berani menodai kesuciannya.


   "Aaaa!"

__ADS_1


   James menjerit histeris saat telinga kanannya di gigit bibir mungil Rena yang menyembunyikan gigi taring yang tajam. Rena tambah frustasi. Ia hilang kendali. Puas menggigit telinga James, bibir Rena menyusuri punggung James dan menggigitnya dengan geram. Otot-otot James menegang menahan sakit karena perbuatan Rena.


   Wangi James yang khas tak jua membuat Rena luluh. Ia semakin emosi dan menyiksa pemuda tampan yang saat ini menjadikan tubuhnnya sebagai samsak tinju untuk kemarahan Rena.


   Brukk!


   James tak sanggup lagi menahan rasa sakit akibat perbuatan Rena yang membabi buta. Ia lalu membanting tubuh Rena di atas kasur yang super empuk, Rena tak sedikitpun merasa sakit. Ia terus saja berontak dan berusaha kembali menyiksa James. Lelaki yang di anggapnya berotak mesum dan tak bermoral.


   "Eemmhh, lepaskan aku, James!" teriak Rena tepat di telinga James, hingga James seperti mendengar gemuruh yang maha dahsyat.


   James mengunci kedua tangan Rena tepat di atas kepalanya. Mencengkram tangan itu hingga Rena tak bisa menghajar wajah tampannya.


   Namun, bukan Rena namanya jika tak berotak cerdas. Ia tak menyerah dan kembali berontak hingga membuat James kewalahan.


   Bugh!


  "Akh, Rena!"


  Tendangan telak mendarat di perut James yang seketika itu pula menjerit kesakitan.


  James yang geram akhirnya melingkarkan kaki kanannya tepat di kedua kaki Rena. Rena terhimpit dan tak bergerak. Posisi mereka sekarang amat dekat. Tubuh James yang proporsional mampu menenggelamkan tubuh mungil Rena hingga gadis itu tak mampu berkutik.


   "Apa kamu tak capek, Rena?" sorot mata James amat teduh. Menyiratkan ketenangan menghadapi Rena yang sedang berada dalam puncak emosi.


  James saat ini amat berbeda, sifatnya amat tenang menghadapi Rena yang meledak-ledak.


  Napas Rena memburu. Ia seperti habis lari maraton. Terengah-engah. Perbuatannya tadi sungguh menguras energi.


  Rena mulai tenang. Percuma ia berontak. Tenaganya kalah telak. Ia membuang muka saat matanya bersitatap dengan manik biru mata James yang membuat jantungnya memacu kian cepat.


   "Rena, kendalikan emosimu, Sayang," tangan James bermain di rambut Rena. Ia membelai mahkota gadis itu yang terurai panjang. Ia menyingkap rambut hitam yang menutupi wajah cantik Rena dan membawanya ke balik telinga Rena dengan jari jemarinya.


  Tangan kiri James tetap mengunci kedua tangan Rena. Takut Rena kembali brutal dan menyerangnya.


  "Dasar omes!" maki Rena. Ia menatap tajam James yang menatap nya penuh kasih sayang.


  "Omes?" tanya James sok polos.


  "Otak mesum!"


  "He-he-he, Rena, aku tak ...,"

__ADS_1


  "Kau jahat, James! jahat!" Rena kembali membuang mukanya . Ia terisak. Napasnya semakin sesak seperti terhimpit benda berat. Gadis itu tak dapat membendung air matanya, kejadian ini membuatnya terpuruk dan sakit hati. Ia terisak beriringan dengan bulir air mata yang tumpah.


  James terhenyak melihat tangis Rena. Hatinya ikut sakit melihat Rena yang frustasi. Perlahan ia menyeka air mata Rena walau Rena seolah enggan untuk disentuh olehnya.


   "Kau salah mengira, Rena. Aku tak berbuat apa pun pada dirimu. Yang mengganti bajumu itu pelayan hotel wanita. Aku meminta tolong padanya karena kamu sangat kedinginan. Memang aku sempat memelukmu. Namun, itu tak lama. Itu semua kulakukan agar kamu tak kedinginan,Rena,"


   "Be--benarkah, itu, James?" tanya Rena penuh harap. James mengangguk cepat.


   "Ya, kamu boleh memeriksa milikmu, nanti, jika kamu tak percaya pada ucapanku,"


  "Aku bukan iblis, Rena. Aku tak mungkin menyakiti orang yang amat kucintai. Aku mencintaimu, Rena. Sejak kita bertemu saat itu,"


  Rena terdiam mendengar ucapan James. Wangi mint menguat dari bibir tipis James. Mata James menatap Rena tanpa berkedip, menciptakan getaran di hati Rena.


   "Aku tak akan menyentuh mu, sebelum kamu mengizinkan aku untuk menyentuhmu, Rena,"


   James semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling menyentuh. Rena semakin kikuk. Ia semakin pasrah saat ...


   "Ja--James ...,"


   Cup!


***


    Hatiku gundah gulana. Perasaan ku was-was. Berulang kali kudengar suara Indri memanggil namaku. Aku amat yakin jika itu suara Indri, istriku .


   Apakah karena batin kami yang sudah menyatu, hingga menembus jarak dan waktu?


***


   Setelah meminta izin pada pimpinan, aku memutuskan untuk berteleportasi untuk mempersingkat waktu menuju dunia Indri.


   Sayangnya,teleportasi hanya bisa di gunakan di darat. Tak bisa di atas lautan. Portal di jalan Tol saat ini juga masih tertutup. Aku harus menunggu hingga lewat tengah malam, karena waktu itu portal baru di buka.


  Beruntung, aku tau jalan lain yang bisa di lewati selain jalan Tol. Ya, di dalam hutan juga terdapat jalan menuju dunia Indri, tapi jaraknya dua kali lebih jauh di banding jalan tol.


   Tak apa, semua kulakukan agar bisa cepat bertemu dengan istri dan calon anakku.


   Tiba di tepi laut, ku rentangkan sayapku lebar-lebar dan melesat terbang dengan kepakkan sayap yang cepat dan kencang. Menembus awan , melewati lautan dan gunung serta bukit. Memasuki kawasan hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi menjulang. Hutan lembab yang hanya terkena sedikit sinar matahari, hutan yang selalu di tutupi kabut karena banyak menyimpan misteri.


   Perlahan kulihat samar-samar cahaya berkilau di tengah hutan. Cahaya itu ...

__ADS_1


__ADS_2