SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part 111


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_111


#by: R.D.Lestari.


Ckittt!


"Dah, sampai. Selamat datang di rumah,"


Rena dan Sri sama-sama tercengang. Mereka saling beradu pandang, seolah tak percaya dengan pemandangan di depan mata. Rumah James sangat megah.


Dinding yang berkilau terbuat dari marmer berwarna emas yang berkilau begitu juga lantainya. Indah dan bersinar. Saking berkilaunya, Sri dan Rena bisa melihat wajah mereka di dinding dan juga di lantai.


Tirai terbuat dari sutra dan kain pilihan dengan lampu gantung kristal yang amat mewah.


Ruangan yang luas dengan perabotan mahal dan semua berwarna emas.


Kursi-kursi terukir dan karpet berbulu yang super mahal.


"Ini bukan rumah, ini istana, Ren!" desis Sri terkagum-kagum.


"Kau benar, Sri. Betapa beruntungnya kita," Rena berbisik girang.


"Oke, ladies... silahkan duduk di mana pun kalian suka, aku akan menyuruh pelayan membuatkan jamuan untuk kalian. Tamu agung kami hari ini,"


"James! wait!" seru Rena.


James menghentikan langkahnya dan berbalik, alisnya naik sebelah tanda heran.


"Apa?"


"Apa nanti kami akan bertemu ayahmu?" Rena mulai gelisah. Bayangan bertemu dengan calon mertua mengganggu pikirannya.


Ia takut Sang Calon Mertua bakalan ilfiil dan menolak kehadirannya.

__ADS_1


"Ga ada, Ayah masih lama pulang. Jadi, nikmati aja. Anggap rumah sendiri. Atau kalian mau berjalan-jalan? silahkan. Aku mau mandi dulu," ujar James dengan seutas senyum simpul di bibirnya.


Rena mengangguk setuju. Kakinya memang sudah gatal ingin berjalan-jalan mengitari rumah mewah yang bakal menjadi tempat tinggalnya kelak.


Rena menarik tangan Sri yang kala itu masih tertunduk karena memikirkan Gio. Ia amat kangen dengan Gio. Di mana Pak Dosennya itu? kenapa daei tadi tak kelihatan batang hidungnya? apa ia sengaja sembunyi dan tak ingin bertemu dengannya?


Berbagai pertanyaan muncul di otak Sri yang kecil. Rasa sesak dan gundah berkecamuk di benda lunak berwarna merah yang di sebut hati itu.


Ia sempat tersentak kala tangan Rena tiba-tiba menarik paksa tangannya, hingga Sri sedikit limbung karena tanpa persiapan.


"Ren? ya ampun, mau ke mana?" tanya Sri.


"Udah, ikut aja. Kita jalan-jalan. Mana tau ketemu Gio,"


"Ren? sudahlah, mungkin dia memang ga ingin ketemu aku," suara lirih Sri terdengar pasrah,tapi ia tetap melangkah mengikuti sahabatnya yang terlihat bahagia berada di rumah itu.


"Ayolah, Sri. Kita sudah sampai sini. Masak kamu mau nyerah? Setidaknya usaha dulu dong,"


"Dahlah jangan sedih-sedih. Kita nikmati dulu keindahan rumah ini, anggap aja kita liburan di luar negeri," Rena setengah berlari mengajak Sri ikut dengannya. Gadis itu akhirnya berani menyunggingkan senyum dan ikut berlari kecil mengikuti sahabatnya.


Dua gadis cantik dan manis itu mengamati setiap inci sudut rumah yang amat indah. Kami kecil mereka menapak dan sesekali berjinjit sembari menari-nari seolah berada di dalam istana.


Rena tak henti-hentinya berdecak kagum. Dari bibirnya terlontar kata pujian untuk calon suaminya yang memang amat sempurna di matanya. Tampan, jangan diragukan. Kaya ... sudah pasti, dan juga amat menyayanginya. Apalagi yang ingin ia cari? James itu sempurna!


Berbeda dengan Sri. Di sudut hatinya yang terdalam ia amat menyesal sudah mengecewakan kepercayaan Gio. Padahal Gio-lah yang ada saat ia terpuruk dan hampir mat* karena putus asa. Ya, kini hanya ada rasa sesal. Sesal yang tiada bertepi.


Tanpa sadar kakinya melangkah ke luar, melewati pintu yang besar dan tinggi.


Sebuah kolam renang luas dengan tanaman hijau dan tanaman bunga mawar beraneka warna menghiasi setiap sisi kolam. Sri yang memang amat menyukai mawar melangkahkan kaki menuruni anak tangga dan mendekati tanaman mawar.


Tanpa ia sadari, sepasang mata biru terhenyak melihat kehadiran dirinya. Ekor matanya mengikuti gerak-gerik tingkah Sri yang tak menyadari kehadirannya.


Byuurrr!


Kali ini malah Sri yang tersentak ketika mendengar bunyi air yang beriak.


Sri terpaku saat ia berbalik dan melihat sosok yang amat ia nanti kedatangannya itu kini menyembul dari dalam air.

__ADS_1


Perlahan sosok tampan itu naik ke permukaan dan menunjukkan otot-otot kekarnya. Ia bertelanjang dada, hanya memakai boxer hitam. Sangat menawan membuat jantung Sri serasa copot seketika.


Pak Dosen yang sudah mencuri hatinya itu mendekat. Namun, hati Sri terasa teriris saat  manik biru itu menatapnya tajam dan tanpa senyum sedikitpun di wajahnya. Semburat kebencian terekam jelas di sana.


"Mau apa kamu ke sini?" ucapnya ketus saat jarak mereka sudah teramat dekat.


Sri mendongak, menatap raut wajah Gio yang masam dan seolah tak suka dengan kehadirannya. Tubuhnya yang basah beserta rambutnya yang meneteskan air seolah sama dinginnya dengan hati Gio saat ini.


"A--aku ingin bertemu denganmu, untuk menjelaskan...,"


"Menjelaskan apa? bukannya sudah jelas. Antara kita sudah tak ada apa-apa! kau bebas, Sri. Bebas! silahkan kau pilih lelaki di masa lalumu itu, dan lupakan aku!" mata Gio merah. Berkaca-kaca. Ia amat kecewa dengan Sri, karena ia sangat mencintai gadis manis yang ada di hadapannya ini.


"Pak ... biarkan aku jelaskan terlebih dahulu!" Sri menahan sesak dalam dada. Bulir bening itu meluruh satu persatu membasahi pipi.


Tangan Sri terulur ingin menyentuh tangan Gio, tapi dengan segera di tepisnya.


"Aku tak perlu penjelasan apa pun. Cukup, Sri. Cukup... aku sudah cukup!" Gio beringsut mundur.


Sri meluruh di lantai, sedang Gio berbalik dan bergegas pergi setelah mengambil handuk yang tergeletak di atas kursi.


Ia sama sekali tak memperdulikan Sri yang terisak. Gio kokoh dengan pendiriannya, tapi ia lupa, jika salah satu ruang hatinya kosong dan juga terluka.


Rena yang mencari Sri tak sengaja berpapasan dengan Gio. Rena ingin bertanya, tapi raut wajah Gio yang datar dan masam membuat Rena mengurungkan niatnya.


Ia tetap berjalan menyusuri lorong rumah James dan berlarian keluar rumah saat melihat sosok Sri yang sesenggukan di lantai.


"Sri! kamu kenapa, Sri?"


Tangan Rena menyentuh bahu Sri dan membantu Sri berdiri. Hati Rena hancur melihat Sri yang terluka.


"Sri ...,"


"Antarkan aku pulang, Ren. Sekarang juga," ucap Sri memelas.


"Ga mungkin, Sri. Portal belum terbuka. Kita kan juga mau ketemu Indri?"


"Kalau begitu antarkan aku bertemu Indri, sekarang, Ren. Aku mohon. Aku tak ingin berlama-lama di sini,"

__ADS_1


"Sri...,"


****


__ADS_2