SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_128


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_128


#by: R.D.Lestari.


Anima melenggak-lenggok di depan cermin. Berulangkali ia memuji kecantikan parasnya yang memakai make up tipis dengan gaun pengantin yang mewah bertaburan kristal swarowski.


Indri sengaja menunggu di luar kamar pengantin milik Anima, adik iparnya. Wajahnya murung . Ia bimbang memikirkan nasib temannya, Rena.


Ia pasti sangat terpukul saat tau kekasih yang ia cinta menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuan dirinya.


Ia harusnya ikut bahagia atas pernikahan Anima, iparnya. Namun, melihat perbuatan Anima yang sudah diluar batas, ia menjadi benci dan enggan turut serta dalam kebahagiaan keluarganya itu.


Begitupun Bima. Ia juga tak mengucap selamat untuk adiknya. Malah terkesan cuek. Ia pun amat kecewa dengan tingkah Anima, tapi ia pun tak mampu menolak karena ini bukan urusannya.


Pesta pernikahan berlangsung khidmat di sebuah gedung bertingkat. Semua tamu hadir dengan tawa dan suka cita.


Senyum merekah di wajah cantik Anima yang berada di ruangan indah berdekorasi bunga mawar putih dan merah. Wangi bunga menguar di seluruh sudut ruangan.


Ayah dan Ibu Anima pun menunggu dengan perasaan haru dan juga bahagia saat calon pengantin pria belum juga datang, padahal tamu sudah berkumpul di ruangan.


***


Di kediaman James.


"James, kau serius? masih ada waktu untuk membatalkan pernikahanmu," Gio menggoyang bahu James. Berusaha meyakinkan kakaknya untuk tidak melanjutkan pernikahan terpaksanya.


"Aku terpaksa. Ini semua demi Rena. Kau harus tau, James. Sedikit pun aku tak punya rasa pada Anima. Biarlah nanti dia merasakan buah dari perbuatannya,"


"Ia tak akan bisa membuka kunci hatiku. Dia bisa memilikiku tapi tidak tubuh dan juga jiwaku,"


"Maksudmu, James?"


"Kau tak usah tau, Gi. Kau hanya perlu mengantarku pergi ke sana. Aku tak mau membuat keluarga Pak Bima kecewa," tegas James.


Gio mengangguk. James sudah dewasa, ia pasti tau apa yang terbaik untuk hidupnya, dan Gio hanya bisa mendukungnya saja. Lelaki berjas hitam itu nampak gagah dengan selipan mawar di dekat dadanya.


Mereka melangkah secara beriringan menuju ruang tamu yang telah ramai dengan keluarga yang berkumpul.


Senyum sumringah dan raut bahagia terpancar dari mereka. Akhirnya salah satu dari cowok tampan itu menemukan jodohnya.


Rombongan pengantin pria pun berangkat dari rumah dengan suka cita. Hanya James dan Gio yang berwajah murung dan tak berbicara sepatah katapun.

__ADS_1


Hati James patah dan hancur.


***


James hanya melirik ke wajah Anima tanpa ekspresi. Gadis cantik yang sejak tadi duduk dengan mengukir senyum itu tampak tak perduli dengan wajah datar James. Hatinya terlalu bahagia karena bisa memiliki pria idamannya.


Prosesi pernikahan berlangsung lancar walau James tak banyak bicara. Dalam pikirannya hanya ada nama Rena, tak ad sedikitpun ruang bagi Anima di sana.


Walaupun Anima tau apa yang dipikirkan James, ia tak perduli dan tetap tersenyum lebar. Baginya menjadi istri James adalah impian terbesarnya. Mengenai hati James itu urusan belakangan.


***


Mata Rena mengedar mencari keberadaan James. Mana James? walaupun hatinya masih terluka karena ulah James waktu itu, Rena berusaha berpikiran positif padanya. James tak mungkin mengkhianatinya.


"Mana James, Sri? apa James masih marah padaku? Apa hubungan kami memang sudah kandas?" cecar Rena dengan berurai air mata.


"Sri ...," Rena menuntut penjelasan pada sahabatnya itu. Sri melenguh panjang. Tatapannya nanar menatap iba pada Rena. Andai Rena tau jika hari ini James sedang melakukan pernikahan pada gadis lain, batin Rena pasti akan lebih terguncang.


"Ren, James masih di Uwentira. Kamu sabar, ya. Dia lagi ada urusan,"


Drap-drap-drap!


Bunyi derap langkah kaki menggema di koridor rumah sakit. Langkahnya begitu cepat seolah mengejar waktu.


Kriettt!


Rena dan Sri tertegun saat pintu ruangan terbuka perlahan. Seraut wajah tampan muncul dari balik pintu dengan nafas terengah.


"James?" lirih Rena seolah tak percaya.


Sri menatap heran dan pamit keluar dari ruangan Rena, memberi ruang untuk mereka berdua saling melepas rindu.


"Rena ...," dengan bibir gemetar James mendekati gadisnya yang masih tergolek lemah.


Rena menyambut dengan senyum yang merekah di wajahnya. Rindu yang terpendam lama kini terjawab sudah. James masih mencintainya sama seperti saat mereka belum berada dalam masalah.


"Maafkan aku, Rena ...," James sesenggukan dalam pelukan Rena.


Rena heran. Bukankah seharusnya dia yang minta maaf?


"Sayang, ini bukan salahmu, tapi salahku," lirih Rena sembari memeluk erat tubuh James yang juga bergetar.


'Ada apa dengan James? mengapa ia terlihat terpukul? apa karena ulahku saat itu?' batin Rena.


"Rena, maafkan aku," ulang James sembari menatap Rena dalam. Tangannya yang kekar membingkai wajah Rena.

__ADS_1


Wajah itu kian mendekat dan meraup paksa bibir pucat Rena. Gadis itu bergeming. Ia tak tau apa yang membuat James begitu lemah dan tak berdaya. Ia melihat kesedihan di balik mata indah seindah lautan yang dimiliki kekasihnya itu.


Rena merasakan cinta James yang begitu dalam melalui kecupan mesranya, tapi Rena pun tau jika James tak baik-baik saja.


Cukup lama mereka tenggelam dalam pagutan kerinduan, hingga akhirnya James melepasnya perlahan.


"James, aku janji mulai saat ini akan menerima dirimu apa adanya," ucap Rena tulus sembari membelai lembut wajah tampan pria kebanggaannya.


"Aku percaya, tapi mungkin kau yang akan kecewa padaku," James membuang pandangannya ke tempat lain seraya menyela bulir yang merembes di pipinya.


"Kau tak akan pernah mengecewakanku, James. Kau pria terbaik yang pernah aku miliki," Rena menggenggam jemari James erat.


"Hei, ngomong-ngomong kau mau ke mana, tampan? dandananmu seperti pria yang hendak menikah," goda Rena.


Degh!


James bergeming. Seandainya Rena tau jika hari ini memang hari pernikahannya dan demi Rena, James rela meninggalkan acara resepsi hanya untuk bertemu wanita pujaannya itu.


James menghela nafas dalam. Memikirkan apa alasan yang paling tepat agar senyum di wajah Rena tak pudar dan berubah bias. Ia tak ingin gadisnya itu kembali terluka karena ulahnya.


"Ada urusan keluarga, tadi," bohongnya.


"Kau memang tampan, James, dan hari ini ketampananmu naik seratus kali lipat," puji Rena.


James hanya mengul*m senyum kecut mendengar pujian Rena padanya. Hatinya sebenarnya sakit karena harus berbohong.


"Dan, siapa gadis yang kau sentuh di kolam renang itu, James?"


Benar saja, wajah Rena mendadak mendung kala mengingat kejadian tragis sebelum ia ditikam tempo hari.


Dimana jemari James menyentuh bibir wanita yang berhadapan dengannya.


"Dia ... Anima ...,"


"Anima? maksudmu Anima adiknya Bima?"


James mengangguk. Kemudian melanjutkan ucapannya.


"Anima adalah ...,"


*****


Bersambung


Terimakasih sudah mampir 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2