
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_78
#by:R.D. Lestari
"Rena yang cantik, di bawah sinar matahari yang hampir saja tenggelam ini, aku James mengungkapkan perasaan cintaku yang teramat dalam padamu, apakah engkau menerima cintaku?"
James mengulurkan tangannya sembari memberi sebuket bunga mawar pink bercampur merah yang amat cantik. Entah dari mana James membawa sebuket mawar. Ya, Rena tak perlu heran. Ia sudah tau kemampuan James yang di luar nalar.
Rena terdiam. Antara bahagia dan terharu dengan perlakuan James yang amat romantis sore ini. Rena menitikkan airmata. Tetesannya jatuh mengenai punggung tangan James. James terhenyak dan membingkai wajah Rena.
"Ka--kamu kenapa menangis, Rena? apa ada yang salah dengan ucapanku?
"Ah, ga. Cuma kelilipan ini," Rena mengusap matanya yang berair. Terharu akan sikap James yang begitu romantis.
"He-he-he, dasar tukang boong!" James tergelak melihat tingkah Rena. Ia bisa membaca pikiran Rena dengan mudah.
" Rena, lihat ini ...," James melambaikan tangannya. Seketika dari atas berjatuhan kelopak mawar merah yang sangat banyak, sebagian terbang terbawa angin dan sebagian menimpa rambut dan tubuh James serta Rena.
Rena terhenyak mendapat banyak kejutan dari James. Ia tak henti tersenyum lebar dan tangannya berusaha menggapai kelopak mawar yang terus berjatuhan.
"James bagaimana, Kau ...,"
"Hmm, mudah saja bagiku untuk ...,"
"Hei, James! sampai kapan aku harus begini! kau memang menyusahkan, James !"
Baru saja Rena mengungkapkan rasa kagumnya pada James, dan James mulai menunjukkan sikap sombongnya, seseorang dari atas balkon meneriakinya. Sontak Rena dan James bersamaan melihat asal suara.
Di balkon atas ternyata Gio sedang menuangkan berbaskom-baskom kelopak mawar merah dengan senyum dan muka masamnya.
Wajah Rena memerah. Merasa benar-benar di tipu dengan kekuatan James.
"James...," Rena menatap James nyalang .
"Apa sih, Ren? itu juga ide dari Gio," James membela diri.
"Huh, di mana-mana ada Gio. Aku mau pulang saja,"Rena mencebik. Adegan romantis itu menjadi hambar karena kelakuan Gio yang mengganggu suasana hati Rena.
__ADS_1
"Heh, Rena. Aku juga ga mau kali, jadi obat nyamuk ! Semua karena pacarmu itu," Gio menghentikan aksinya dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Huh, ya bener. Ini semua memang salahmu, James! bisakah kita berdua sana tanpa ada Gio di antara kita?" Rena memohon.
"Tapi, Gio kan saudaraku, Ren. Jadi, wajar kalau dia selalu ada untuk membantuku," kilah James.
"Ya, benar. Dan jangan kamu lupa, James! dia Dosenku. Dosen. Aku harus menghormatinya," jelas Rena.
"Ya, sudah. Sekarang kita pulang, yok. Keburu malam. Nanti Mama khawatir," ajak James sambil menepuk motor Rena pelan.
"Mama?"
"Iya lah, cepat atau lambat mamamu akan menjadi mamaku juga," James tersenyum lebar.
Bughhh!
"Awww!"
Tangan Rena mengepal dan ia melayangkan tinjuannya ke arah perut James yang sixpack, hingga James mengaduh kesakitan.
"Dasar cewek barbar! untung aku cinta," James mengecup pipi Rena dua kali.
"Awww, Rena!!!"
Dan cubitan bertubi-tubi di layangkan Rena pada tubuh James yang seperti roti sobek. Sambil terkekeh Rena membuat James meringis kesakitan. Ada rasa kesel, sebel, rindu, geram dan cinta saat itu. Entahlah, hati Rena seperti gado-gado, penuh perasaan aneh pada James. James yang kadang menyebalkan, membuatnya marah, menangis dan sering pula membuatnya tertawa tanpa beban seperti saat ini.
Setelah adegan cubit-cubitan itu, Rena naik ke motornya sedang James masih mengelus pelan beberapa tubuhnya yang sakit karena ulah Rena. Rena masih senyum-senyum penuh kemenangan. Kekesalannya pada James sirna sudah. Berganti dengan kebahagiaan.
***
Rena melangkah riang memasuki kelasnya. Sri yang melihat Rena menyimpan rasa penasaran yang teramat sangat. Diam-diam ia mencuri pandang pada Rena.
Rasa penasarannya terjawab saat bel istirahat berbunyi. Gio tersenyum manis pada Rena dan sesekali menggoda Rena. Rena pun terlihat menanggapi.
Hari Sri mulai terbakar cemburu. Pikiran buruk mulai menghantui perasaannya yang tiba-tiba kalut. Takut bila Gio akhirnya mendekati sahabatnya itu.
Saat makan siang pun, Rena sekarang tanpa segan ikut di satu meja makan dan sesekali melempar ledekan-ledekan yang terdengar garing.
Sri bertambah resah. Keakraban yang terjalin terlalu cepat. Sejak kapan mereka dekat? sedangkan kemarin Rena masih menolak saat Sri mengajaknya makan bersama. Benar-benar aneh. Apa ini memang trik Rena untuk merebut Gio dari nya?
"Ehm, aku permisi mau ke toilet," Sri bergerak menggeser kursinya dan berdiri dengan raut wajah masam. Sedikit menghentak kakinya dan berlalu menuju toilet.
__ADS_1
Rena dan Gio saling berpandangan. Memberi kode satu sama lain.
"Kau bisa baca pikiran Sri, Gio?"
"Eh, aku masih Dosenmu di sini, Rena. Dan kau ...kau belum jadi kakak iparku, panggil aku Pak! Pak Gio!" Gio menatap tajam Rena, ia berucap dengan nada penuh penekanan.
"Ah, Gio. Bentar lagi aku juga lulus dan pasti kakakmu itu akan langsung melamarku. Dia kan cinta mati sama aku," sahut Rena penuh percaya diri.
"Hmm, entahlah apa yang dipikirkan kakakku itu bisa jatuh cinta pada gadis sepertimu," Gio menjulurkan lidahnya ke Rena.
"Kau ... Gio...!" Rena yang tak bisa menahan diri mendekatkan tubuhnya dan siap mencakar wajah Gio yang saat itu masih terkekeh melihat Rena yang mulai emosi.
"Ehm, ehm," tanpa mereka sadari Sri sudah berada tepat di samping mereka.
Rena seketika mundur dan duduk kembali ke tempatnya semula. Sri pun duduk dengan menghempaskan kuat tubuhnya di atas kursinya. Menunjukkan ketidak sukaan akan keakraban Rena dan Gio.
Sejurus kemudian suasana menjadi hening. Rena merasakan hawa kecemburuan menyeruak dari diri Sri. Gio menatap Rena sembari memberi kode untuk Rena pergi dari tempat mereka. Rena menggangguk dan bersiap pergi dari sisi sahabatnya yang sedang terbakar cemburu.
"Aku duluan,ya, Pak Gio, Sri," Rena menggeser kursinya.
"Mau kemana, Ren? tadi sepertinya kalian sedang berbincang sesuatu yang menyenangkan," ucap Sri, ia berusaha untuk kembali menata hatinya.
"Eh, iya, ah, enggak. Biasalah Pak Gio kan memang ramah dan mudah bergaul," bohong Rena. Rena tak ingin Sri semakin terbakar cemburu padanya.
Rena mempercepat langkahnya menuju ke kelas. Ia merasa sangat bersalah sudah membuat Sri cemburu, sedangkan ia tak punya maksud seperti itu.
"Ren ... Rena!"
Suara seseorang menghentikan langkah Rena. Rena berbalik dan mencari asal suara.
Aldi kini berada tak jauh dari tempatnya berdiri, tersenyum manis dengan membawa sebatang coklat kesukaan Rena.
Aldi melangkah mendekati Rena, dengan senyum yang masih terkembang, ia mengulurkan batangan coklat itu pada Rena.
"A--apa, ini, Al?"
"Ini coklat untukmu, Ren,"
"Ta--tapi, Al, aku ...,"
"Jangan di tolak, Ren. Karena aku ...,"
__ADS_1