SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_93


__ADS_3

Bismillah


  


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_93


#by: R.D.Lestari.


POV SRI


"Kau sedang patah hati, Sri?" tanya nya padaku.


   "Ya, aku baru saja patah hati," sahutku jujur.


   "Patah hati untuk kedua kali," lanjutku.


    "Kedua kali? pertama kali dengan siapa?" Hans menatapku tajam seolah ingin tau lebih dalam.


   "Kau, Hans," dadaku bergemuruh, tak dapat kupungkiri sangat susah bagiku jujur padanya.


   "Aku?"


   Tiba-tiba keheningan menerkam kami berdua. Terjebak dalam rasa dan kenangan. Aku dan dia, Hans Aditya.


   "Ah, sudahlah. Jangan di bahas. Itu cerita lama," aku mengalihkan pandanganku pada es tebu di hadapanku, memilin pipet dan menyeruput isinya pelan. Menutupi gemuruh di dalam dadaku, bagaimanapun kedatangan Hans yang tiba-tiba membuatku bimbang. Perasaanku bercabang.


   "Sri, aku minta maaf ya, aku tak pernah tau perasaanmu, tapi kalau seandainya dulu aku jujur, mungkin saat ini kita ... sudah ...," Hans seperti ragu akan ucapannya.


  "Akh, sudahlah, Hans. Jangan lagi kita ingat hal itu, itu kisah lama dan mungkin kita sudah seharusnya melupakan," aku berusaha setenang mungkin meredakan getaran yang menjalari tubuhku saat ini.


   "Ya, Kau benar, Sri. 9 tahun bukan waktu yang singkat," Hans tersenyum getir.


   "Ayo, makan, Sri,"


   Walau dalam kondisi hening dan kikuk, aku berusaha menelan mie ayam pesanan Hans. Ya, seandainya saja bisa kuputar waktu, kedatangan Hans sebelum adanya Pak Dosen Gio pasti sangat membuatku bahagia. Aku tak perlu merasa getirnya penolakan dan hati yang hampa juga mendamba .


***


  Angin berhembus cukup kencang dan sedikit menyibak rambut pendekku hingga mereka melambai di udara.


   Berboncengan dengan Hans seperti ini mengingatkanku di masa silam, di mana cintaku merekah untuknya.


   Namun, kini rasa itu sudah tak sama. Sebagian hatiku sudah terisi dan mungkin hampir semuanya milik Pak Dosen.


   Aku menunduk. Setiap detik, menit dan jam tak lepas dari bayang Pak Gio. Aku merasa sebagian jiwaku hilang.

__ADS_1


   Hmm, andai saja ia tak terang-terangan menolakku. Aku rela menanggalkan beasiswaku dan bekerja demi bersama dengannya. Apa susahnya? kenapa hal seperti itu harus jadi penghalang?


  Ckittt!


  Motor terparkir di teras rumah. Hans berpamitan pulang, ia menginap di rumah bibinya yang jarak rumahnya hanya beberapa rumah dari rumah Nenek.


   Krettt!


   Aku melangkah masuk dan berjalan menuju kamar. Wajahku selalu menunduk.


   "Jangan bohongi perasaanmu, Sri," suara Nenek yang tiba-tiba menyentakku. Seketika itu pula aku menaikkan wajahku dan menatap ke arah Nenek.


   "Nenek?"


   "Sri, Nenek mau bicara," Nenek melambai ke arahku. Tatapan mata nya sendu dan teduh.


   "Nenek...," aku menghambur dalam pelukan Nenek. Bulir hangat mulai mengaliri pipi dan wajahku.


    "Nenek tau ada yang sedang mengusik hatimu. Nenek sedari beberapa hari lalu ingin bertanya, tapi takut kamu akan tersinggung," Nenek mengelus pucuk kepalaku.


   "Sri, Nenek mencium bau orang Uwentira di sekitar tubuh dan kamarmu, apa kamu punya hubungan dengan orang Uwentira?"


  Degh!


  Siapa yang di maksud Nenek? Hans kah? atau Pak Dosen?


   "Sri sedang tak dekat dengan siapa pun, Nek. Sri mau fokus belajar. Bentar lagi wisuda," paparku.


   "Nenek... terima kasih," kupeluk Nenek dengan erat. Nenek memang orang tua keduaku yang paling mengerti perasaanku.


   Setelah mengecup pipi Nenek, aku beranjak dan melangkah menuju kamar. Merebahkan tubuh rampingku di atas ranjang beralaskan kasur kapuk dan seprei bermotif bunga lavender, kesukaanku.


    Bayangan wajah Pak Dosen selalu bermain di pikiranku. Begitu juga Hans, lelaki dari masa lalunya yang datang tiba-tiba.


    Angin lembut membelai kulit tubuhku. Dingin menyelimuti tubuhku. Belum sempat tanganku meraih selimut, tubuhku tiba-tiba terasa hangat. Anehnya, seperti ada yang membelai pipi dan menyelipkan anak rambutku ke telinga.


    Mataku terbelalak, ngantukku hilang seketika. Saat aku ingin bangkit dan duduk ...


   Bught!


   Tubuhku tersentak kembali di kasur. Nafasku tercekat, terasa ada yang menghimpit tubuhku.


   "Uhh, siapa kamu!" aku berontak. Aku yakin sekali saat ini ada makhluk tak kasat mata sedang berusaha berbuat jahat padaku.


    "Lepaskan aku!" sentakku. Anehnya sosok transparan itu seperti mengerti kegundahan dan kesulitanku saat bernapas. Detik kemudian tubuhku terasa ringan dan nafasku kembali normal.


    "Uh, kau hantu yang baik, terima kasih,"

__ADS_1


    "Kau tak takut padaku?"


   Degh!


   Apa aku sudah gil*?  bicara sendiri dan seperti mendengar suara?


   "He-he-he, kau tak gil*, gadis manis,"


   Tubuhku bergetar kencang. Seolah ada gelanyar aneh di sekujur tubuh saat angin yang menyentuh berubah menjadi hawa hangat berbau mint yang membelai leherku.


   Sepertinya aku memang sudah gil*, hingga sentuhan dari makhluk tak kasat mata seolah bisa membuatku tenang. Apa aku terlalu berputus asa?


   


   "Hei, hantu. Jangan menggangguku! Aku masih normal, walaupun aku sedang patah hati dengan manusia, aku tak ingin menjalin hubungan dengan hantu," sungutku. Rasa takut hilang entah ke mana.


   Ya, mungkin aku memang sudah gil* karena patah hati. Sosok tak kasat mata itu tak sedikit pun menimbulkan rasa takut. Suaranya yang lirih terkesan seksi dan menarik.


   Hening, tiba-tiba keheningan menyelimuti kamarku. Apa ia sudah pergi?


   "Kau sudah pergi, hantu? padahal aku butuh teman bicara," pandangan mataku menyisir seluruh ruangan. Hening. Ia tak menjawab seruanku.


    "Hmmh, bahkan hantupun tak ingin mendengar curhatanku. Aku memang gadis yang tak beruntung,"  ucapku pada diri sendiri.


    "Apa yang ingin kau ceritakan padaku?"  lirih suara itu kembali menggelitik telingaku.


   "Ah, kau masih ada?" mataku seketika berbinar.


    "Terima kasih, Pak Hantu, he-he-he. Tak marah kan ku panggil begitu?"


    "Ya, aku tak masalah, panggil aku sesukamu," suara serak nan lembut itu tertawa geli. Suaranya renyah dan menenangkanku.


    "Pak Hantu, apa aku ini jelek? kenapa aku selalu gagal mencuri hati pria yang kusuka?"


    Hening. Tak ada jawaban.


   "Hmmhh, ya, aku sepertinya tau jawabannya. Aku jelek, 'kan?".


    Lagi, tak ada jawaban.


   Hatiku rasa teriris. Jangankan manusia, lagi hantupun tak ingin mengatakan diriku cantik. Ah, aku tak perduli.


   Aku kembali merebahkan tubuhku dan berbaring ke samping. Menutup mata tanpa ingin menangis. Bosan. Aku bosan menitikkan air mata. Tak lama aku pun mulai mengantuk dan tak berapa lama aku pun terlelap.


    Apakah aku dalam keadaan bermimpi? sentuhan lembut dan mesra menjalari tubuhku. Kecupan-kecupan sensual mendarat di pipi. Walaupun ini di dalam mimpi, aku sangat menikmati.


    Aku gadis kesepian yang selalu patah hati ketika jatuh cinta. Mungkinkah ada yang bisa memeluk erat dan memberi sedikit kebahagiaan bagi jiwaku yang merana ini?

__ADS_1


    Aku terlarut pada mimpi indah. Berada dalam dekapan hangat seorang pria. Yang tak ku ketahui siapa dan bagaimana rupanya. Ia ada dan memberi kehangatan . Pak Hantu, siapakah dirimu sebenarnya?


   ***


__ADS_2