
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_80
#by: Ratna Dewi Lestari.
Drap-drap-drap!
Langkah Anima terdengar berirama. Ia amat bahagia karena mendapat berita jika kakaknya Bima sudah siuman. Ia hanya perlu recovery beberapa hari di rumah sakit. Itu artinya tak sampai 5 bulan waktu Uwentira, lebih cepat daripada dugaan yang sebelumnya. Tahunan.
Ia sudah tak sabar bertemu saudara kandungnya, begitu juga Ayah dan ibunya. Mereka amat antusias pergi bersama Anima ke rumah sakit siang ini.
Ayah dan Ibu dengan raut wajah yang amat bahagia melewati koridor rumah sakit yang beraksen moderen, cat warna putih mendominasi.
"Bu, ini ruangan Kak Bima," Anima berteriak histeris. Karena Bima sudah siuman, maka ia di pindahkan ke ruang perawatan biasa.
"Ayo,ayo, kita masuk," Ibu tak sabar menyuruh Anima segera membuka pintu.
"Iya, Bu,"
Kriett !
Anima menekan gagang pintu, dan membuka pintu dengan perlahan.
"Kakak ...!"
Anima segera menubruk tubuh kakaknya yang saat itu sedang duduk sambil membaca koran.
"Kakak ...!"
Bughht!
"Anima, Ibu, Ayah," raut bahagia terpancar jelas. Mereka memeluk Bima erat.
Cukup lama mereka berpelukan, sampai akhirnya satu persatu dari mereka mengurai pelukan.
"Indri mana, Bu,"
"Hmmmh," Ibu menghela napas dalam.
__ADS_1
"Indri, ibu ijinkan untuk kembali pulang ke dunianya. Kasihan dia menunggumu di sini,"
"Ibu kira kamu lama siuman, bertahun-tahun. Jadi, ia ibu biarkan pulang agar bisa menghilangkan kesedihan," Ibu mengelus pundak Bima.
"Anakku? bayi mungilku? apa dia sehat, Bu?"
"Terakhir Anima ke sana, sehat Kak," timpal Anima.
"Beberapa bulan di sini, berarti tahunan di dunia, ya, Bu," ucap Bima lesu.
"Pasti anakku sudah besar saat ini,"
"Ya, dia lucu sekali, Kak. Makanya Kakak cepat sehat, jadi kita bisa sama-sama lihat Stella dan Kak Indri juga,"
"Hmmh, ya, dua hari lagi aku sudah boleh pulang. Ikut Kakak ketemu mereka, ya," Bima tersenyum simpul menatap adiknya. Anima mengangguk cepat. Detik berikutnya mereka sudah larut dalam suka cita kebersamaan.
***
Dua hari berikutnya Bima sudah di diperbolehkan pulang ke rumah. Bima memutuskan untuk beristirahat selama sehari, dan besok ia akan menemui Indri di rumahnya. Ia harus ekstra hati-hati karena untuk masuk ke dunia manusia kini tak semudah biasanya. Ada waktu di mana portal di jaga. Jadi, Bima harus membawa semua persyaratan untuk bisa pergi ke sana.
Rasa rindunya sudah tak bisa ia tahan. Ia amat ingin bertemu dengan anak dan juga istri tercintanya.
"Dek, besok ikut Kakak, ya," ajak Bima. Anima mengangguk setuju.
***
Indri beringsut mendekati Ikhsan sembari memegang kepalanya yang sakit karena benturan yang cukup keras, begitu juga kaki dan tangan.
Bruk-bruk!
Satu persatu kardus yang menimpanya ia singkirkan sekuat tenaga.
Ikhsan tergolek dengan posisi tertelungkup. Ia tak bergerak, hanya ku rasakan nadi dan napasnya yang masih terasa, pertanda kehidupan masih ada.
"Ikh--san ...," bibir Indri bergetar menyebut nama Ikhsan. Rasa takut jika Ikhsan mati kian menyergap relung hatinya. Apa ini perasaan iba, kasihan, atau perasaan lama yang mulai tumbuh kembali?
"Tolong...! tolong...!" teriak Indri berulang kali.
Drap-drap-drap!
Suara derap kaki pegawai menghambur ke arah Indri dan juga Ikhsan yang belum juga sadar.
Mereka serta merta membawa Ikhsan ke rumah sakit. Indri yang juga terluka pun ikut dan naik ke mobil Ambulance.
__ADS_1
Dalam perjalanan Indri tak henti menangis. Ia amat menyesal sudah berpasangka buruk pada Ikhsan. Ternyata Ikhsanlah yang menolongnya saat ia dalam bahaya.
"San ... bangun, dong," Indri berbisik di telinga Ikhsan.
Tak ada jawaban, Ikhsan masih terdiam. Indri menggigit bibir, sesak memenuhi relung hatinya.
"In ...!"
Tiba-tiba punggung tangan Indri di sentuh jemari Ikhsan. Indri seketika mengalihkan pandangan ke arah Ikhsan yang matanya perlahan mulai mengerjap.
"San... syukurlah kamu sudah sadar," tanpa sadar Indri menggenggam tangan Ikhsan. Ia amat bersyukur Ikhsan sudah siuman.
Degh!
Getaran halus menjalar dalam tubuh Ikhsan ketika tangannya di genggam Indri dengan kuat. Napasnya seolah tercekat. Sekuat tenaga ia menelan salivanya.
Tatapan khawatir Indri dan perhatiannya seolah mencairkan suasana di antara mereka yang selama ini beku.
Indri berubah ramah dan senyumnya selalu terkembang untuk Ikhsan.
"In--maafkan aku, ya, In," ucap Ikhsan susah payah. Seluruh tubuhnya terasa amat sakit dan susah di gerakkan.
"Iya, San. Aku juga minta maaf dan sangat berterima kasih atas pertolonganmu," Indri terisak. Tetesan air matanya mengenai tangan Ikhsan.
"Sudahlah, In. Yang penting kamu sudah selamat," ucap Ikhsan sebelum akhirnya Ikhsan di bawa masuk ke ruang gawat darurat.
***
Semenjak kejadian itu hubungan Indri dan Ikhsan berangsur membaik. Tak ada lagi permusuhan di antara mereka dan Ikhsan di angkat jadi kepala gudang.
Indri seolah menemukan sosok teman penghilang rasa kesepiannya pada Bima. Ia dan Ikhsan benar-benar sudah melupakan kisah masa lalu dan menjadi sahabat. Tanpa rasa cinta di hati Indri tentunya. Karena cinta Indri utuh hanya untuk Bima seorang.
***
Pagi ini seperti biasa, Indri hendak bersiap-siap pergi ke kantornya. Stella masih tertidur di praduan setelah kenyang menyusu pada ibunya.
Wuzzzhhh!
Angin terasa berputar-putar di sekitar Indri. Indri merasa tengkuknya dingin. Seolah ada seseorang yang menghembusnya dari belakang.
Bulu kuduk Indri seketika berdiri. Ia lalu ..
__ADS_1