
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_74
#by: R.D.Lestari.
Rena bangkit dan berjalan tergesa meninggalkan Aldi yang saat itu kebingungan dengan sikap Rena. Gadis itu berlari secepatnya menuju sosok yang tadi berdiri di ujung jalan.
Kriettt!
Rena membuka pintu cafe. Pandangannya menyisir seluruh sudut. Tak ada. Lelaki itu hilang. Rena melangkah gontai. Berjalan menuju motornya di seberang jalan.
"Rena ....!"
Tinnn ! tinnnn!
Brakkkk!
Tubuh Rena hampir saja tertabrak mobil hitam yang melaju amat kencang. Entah kekuatan dari mana, mobil yang semula hanya beberapa meter dari tubuhnya bisa berbelok dan menabrak pagar taman,hampir juga mengenai motor Rena yang terparkir.
Aldi yang melihat dari dalam toko menatap dengan jantung yang serasa mau copot. Di depan mata nya sendiri ia melihat mobil tiba-tiba banting stir dalam jarak yang cukup dekat dan hampir tak mungkin. Secepat itu juga Rena menghilang tanpa bekas seolah di telan bumi. Ia menelan salivanya susah payah. Berharap ini hanya mimpi semata.
***
Rena masih memejamkan matanya saat ia merasa umurnya sudah di ujung. Bagaimana mobil yang sangat dekat itu siap untuk menabrak tubuh mungilnya.
"Rena...,"
Rena membuka mata saat bunyi uingan ambulans terdengar amat dekat dengannya.
Apa aku sudah mat*? apa ini suara malaikat?
"Bukan, Ren. Ini aku ...,"
Sentuhan lembut terasa di pipi Rena. Rena membuka matanya perlahan. Seraut wajah yang amat dirindunya kini berada amat dekat dengan wajahnya.
Rena mengurai pelukannya dan beringsut mundur dari Sang lelaki. Ia menyisir pandangannya ke sekitar. Taman, ia berada di taman. Di mana ia tadi bertemu dengan Aldi.
Mobil yang tadi hampir menabraknya sudah ringsek dan pagar taman pun membengkok dan beberapa patah. Rena menutup mulutnya saat seseorang sedang di keluarkan dari dalam mobil dengan kondisi luka-luka di pelipis dan tangan. Semua orang berkumpul di sana.
"A--apa yang terjadi?" Rena menyentuh dadanya yang berdetak kencang. Apa semua gara-gara ulahnya?
"Aku terpaksa membuatnya banting stir agar tidak menabrak tubuhmu," pria yang ternyata James itu menarik tubuh Rena hingga Rena kembali dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, James. Mulai sekarang aku tak akan berharap lagi padamu, jadi tolong jangan dekati aku lagi," Rena kembali mengurai pelukannya.
"Benar? ini aku sudah nunjukkin wajah tampanku ini ke kamu, Rena. Aku sudah ga marah lagi," jari James bermain di wajah Rena yang menunduk.
Sekuat tenaga Rena menahan tangisnya. Cukup baginya selama ini James mempermainkan hatinya. Datang sesuka hati. Walaupun Rena tak menampik ia jatuh cinta dan karena kelakuannya, James menjadi marah.
Ia hanya tak ingin bersaing dengan Sri. Sri pun jatuh hati pada James, dan James sepertinya juga memberi harapan pada Sri, sahabatnya.
"Hei, isi pikiranmu itu memang penuh praduga padaku, ya?" James menyentil kening Rena, gemas.
"Jangan mulai, Tuan James yang terhormat. Saya mengaku salah. Terima kasih sudah menolong saya, dan saya mohon, jangan dekati saya lagi," Rena mundur beberapa langkah. Mencengkeram dress yang di pakainya. Hatinya berontak. Seolah bertolak belakang dengan ucapannya saat ini.
"Ikut aku, biar pikiranmu itu tak lagi penuh dengan prasangka buruk padaku," James menarik paksa tangan Rena.
"Lepaskan aku, Tuan James! aku tak ingin mengulang luka lagi bersamamu," Rena menepis tangan James kasar. Ia berbalik dan hendak berlari menghindari James.
Hup!
__ADS_1
James menarik tubuh Rena. Melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Rena.
Gadis itu meronta. Kakinya berusaha menendang ke segala arah. Beruntung James memeluknya dari belakang. Membiarkan Rena berjibaku dengan amarahnya.
"Lepasin aku! lepasinnn!" Rena masih saja meronta.
"Hmmmh, kamu memang gadis yang emosian, Rena!"
James kemudian menggendong Rena ala bridal shower. Membuat pipi Rena memerah karenanya.
Buk-buk-buk!
"Lepasin aku, James!"
James meringis kesakitan saat tangan Rena berulang kali memukul dadanya yang berbentuk. Airmata Rena mulai membanjiri pipi Rena.
Slappss!
Rena merasakan angin berputar kencang di sekelilingnya, tubuh nya serasa berada dalam angin topan. Ia yang semula menjauhkan dirinya dari James, kini malah mencengkeram tangan James dan membenamkan wajahnya di dada bidang James.
"Nah, buka matamu, gadis cerewet," seru James yang lantas membuat netra Rena mengerjap.
James menurunkan Rena di kamar yang super indah miliknya. Kamar yang penuh dengan ornamen dan barang-barang mahal bak kamar putri kerajaan di luar negeri.
"Di--di mana, ini, James?" serunya. Mata Rena menyisir ke setiap inci ruangan.
"Di rumahku, Rena,"
"Di Uwentira?"
"Em,em, bukan. Ini masih duniamu," sahutnya.
"Aaaa! lepaskan aku!"
Mata Rena seketika terbelalak mendengar suara jeritan seorang wanita yang terasa menggema di seluruh ruangan.
"Si--siapa, itu? apa aku akan bernasib sama seperti wanita yang menjerit itu?" batin Rena. Ia beringsut mundur karena takut.
"Jangan takut, Rena... a ...,"
Tok-tok-tok!
"James ! kau di dalam?" tanya seseorang di luar kamar James. Suara pria dewasa yang berat dan serak persis seperti suara James.
"Ya, aku di dalam . Mau apa kau?" jawab James.
"Ibu minta di lepaskan, apa boleh?" lagi, ia bertanya.
"Lepaskan saja, nanti kita gantian jaga," sahut James.
__ADS_1
"Aku boleh masuk?"
"Masuk, aja,"
Rena kemudian melangkah mendekati James dan bersembunyi di balik tubuh James.
Krietttt!
Seraut wajah tampan menyembul dari balik pintu. Wajah yang ... serupa... dengan... James?
Rena menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak seolah tak percaya.
"Siapa yang kau sembunyikan, James?" lelaki itu menatap ke arah Rena.
"Hmmh, kau tahulah dia siapa," James menarik tangan Rena. Rena sedikit menolak , tapi akhir nya menyerah.
"Rena? jadi ini gadis yang membuat kau seperti orang gil\*?" pemuda itu sedikit terkekeh melihat Rena yang masih kebingungan.
"Ja--jadi...,"
"Ya, Giorgino ini adikku, Rena. Dosen di kelasmu, 'kan?" James membelai rambut Rena gemas.
"Ja--jadi? kau tak ...," Rena tak jadi menyelesaikan ucapannya. Airmatanya keburu jatuh, bersamaan dengan James yang menariknya dalam pelukannya.
"Ah, kalian membuat ku iri saja. Ya, udah, James. Aku mau jaga Ibu dulu," Gio sadar diri. Daripada jadi obat nyamuk, ia memilih pergi.
Brakkk!
"Lepaskan, James. Aku malu," lirih Rena.
Hup!
James kembali menggendong Rena menuju ranjang mewahnya.
Plukk!
James mendudukkan Rena di sana. Menatap Rena lekat. Memandang bola mata Rena yang indah secara bergantian.
Jantung Rena berdegup kencang. Setelah sekian lama akhirnya Rena bisa menatap wajah tampan James dari dekat. Tanpa penyekat .
Wajah James mulai mendekat. Saat hidung mereka hampir saja bersentuhan, Rena mendorong pelan tubuh James hingga tercipta jarak di antara mereka.
"Mau apa, James... a... aku... be ...,"
James tersenyum manis, ia kembali mendekatkan dirinya pada Rena.
"Aku tak akan berbuat lebih, Rena. Aku mencintaimu, dan tentu aku akan menjagamu," jari James membingkai wajah Rena.
Ia mendaratkan ciuman mesra pada Rena yang di sambut Rena dengan suka cita. Cukup lama mereka berpagutan sampai akhirnya...
"James ! Ibu kabur!"
***
Terima kasih sudah mampir 🤗🤗🤗
__ADS_1