SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part _61


__ADS_3

Jika aku tak bisa bersamamu, apa kau mau menjaga anak kita? ini begitu menyiksa, aku rasanya tak kuat. Tenagaku hilang, aku amat lemah,"


   "Sayang, jangan ucapkan itu. Kamu bisa, Sayang. Kamu dan anak kita pasti selamat,"


   "Bima, sebelum aku pergi, Ibu pernah berpesan padaku, jika aku masih manusia. Aku hanya diberi kekuatan lebih dan darahmu yang mengikatku untuk bisa bersamamu, namun utuhnya aku masih manusia, karena aku masih hidup,"


     Kata-kata Indri selalu terngiang di pikiran Bima. Hingga sampai di rumahnya, Indri tak jua sadarkan diri.


   Kini, Indri berada di kamarnya, Ibu Bima sedang berjibaku, berusaha menolong Indri, menantunya.


   Indri, berjuang melawan maut di dalam sana. Tubuhnya lemah dan mengeluarkan banyak darah. Semua karena bayi dalam perut Indri yang mendesak ingin segera keluar. Bayi dengan kekuatan super mewarisi kekuatan Sang Ayah.


   Kriettt!


   "Bima! kemari, cepat!"


   Wajah Ibu penuh peluh, ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada Indri, anak menantunya.


   Begitu juga Bima. Lelaki berotot itu segera berlari menuju kamar untuk melihat keadaan istrinya.


   "Oekkk...oekk!"


   Suara bayi menyeruak memekakkan telinga. Anima dengan wajah sendu mengangkat bayi gembul dengan mata bulat sempurna yang amat menggemaskan.


   Tangan Bima bergetar saat Anima menyerahkan bayi putih itu ke arahnya. Air matanya tumpah, sungguh ia amat bahagia dengan kelahiran bayi perempuan yang amat mirip dengan wajahnya. Lucu dengan manik biru dan bulu mata lentik menghias di kelopak matanya.


   Saat Bima ingin mencium buah hatinya, Ibu menarik dirinya untuk mendekat pada Indri, istri nya.


   Bima terhenyak. Untuk sepersekian detik ia lupa akan istri yang dicintainya. Tanpa banyak kata, Bima bergegas mendekati Indri yang lemah. Matanya menutup , hanya deru napas lemah yang terdengar amat pelan.


   "Bu, bagaimana keadaan Indri?" tanya Bima lemas. Seolah tiada tenaga melihat Indri yang tak jua bersuara.


   "Ibu bisa mengeluarkan anakmu, tapi tidak bisa membantu istrimu. Ia teramat lemah. Dia butuh darahmu,"


   "Ambil bu, ambil saja darahku, Bu. Aku tak mengapa. Ambil sebanyaknya. Jangan biarkan Indri pergi, Bu,aku tak mau kehilangannya," rintih Bima.


   "Ibu tak bisa janji. Bagaimana pun separuh dirinya ada darah manusia. Ia tetap bisa mat*, tak seperti kita. Ia mewarisi umur yang panjang, tapi kematian tetap bisa menghampirinya," Ibu mendesah panjang, menahan sesak di dadanya.


  "Bu ... Bima mohon, tolonglah Indri ...," Bima merengek seperti anak kecil. Ia sungguh frustasi memikirkan nasib Indri.


   "Sudah, sekarang kamu sediakan segelas darahmu, tapi ingat. Ada konsekuensi di balik itu. Kau akan melemah untuk beberapa waktu. Karena ini kali kedua darah abadimu berpindah pada tubuh Indri,"


   Bima mengangguk. Ia menyayat telapak tangannya dengan pisau yang Ibu berikan. Demi Indri, apapun akan ia lakukan.


   Darah menetes deras dari telapak tangannya. Bima menampung dan memberikannya pada Anima untuk segera di minumkan kepada Indri.

__ADS_1


   Anima mengangkat  kepala Indri dan membuka mulut Indri dengan jemarinya hingga mulut Indri sedikit terbuka. Perlahan, Anima menuangkan sedikit demi sedikit darah abadi Bima. Hingga...


   "Uhuk ...uhukk!" Indri tersedak darah yang di paksa masuk ke dalam mulutnya.


   Bima tersenyum lebar melihat istrinya yang mulai sadar. Ia menyerahkan bayi mungilnya pada Anima dan bergegas mendekati Indri yang mulai menggerakkan tubuhnya. Tubuh Indri bergetar hebat, tapi mata nya tetap tertutup dan sesekali terbatuk.


   Bima merangkul tubuh Indri yang masih bergetar. Membawanya pada pelukan hangat, Bima merasakan getaran di tubuh Indri mulai melemah.


  Perlahan mata indah itu mengerjap dan menatap Bima lemah.


   "Alhamdulillah Sayang, kamu akhirnya sadar," jemari Bima membelai wajah pucat Indri yang saat ini tersenyum penuh arti padanya.


  "Ini semua pasti karena darahmu, kan. Aku tau itu," Indri menatap suaminya penuh arti. Mengusap wajah tampan Bima dengan lembut.


   "Terima kasih selalu menjadi penolong untukku, aku begitu beruntung bisa di cintai pria sepertimu,"


   Cup!


   Indri mengecup pelan pipi Bima, suaminya dengan sayang.


  Bima tersenyum manis menatap wajah istrinya yang amat ia rindukan, saat wajahnya mendekat, tiba-tiba ia merasa panas menjalari tubuhnya. Perutnya terasa amat sakit hingga ia mengurai pelukannya, dan meringis kesakitan mencengkeram perut nya.


    "Sayang ... kamu kenapa?" Indri yang masih dalam keadaan lemah kembali mendekati Bima yang menundukkan wajahnya karena sakit yang teramat sangat, perut nya seakan ditusuk seribu sembilu.


  Tak ada jawaban. Bima masih menahan sakit, dan kemudian...


   Bima muntah darah. Darah kental merah kehitaman yang berbentuk gumpalan-gumpalan kecil tercecer di lantai .


   Indri panik, di selingi tangisnya yang pecah, ia berteriak memanggil Ibu dan adik iparnya yang saat itu sedang berada di ruangan berbeda mengurusi anak bayinya.


    "Ibu, Ayah, Anima!"


***


   Dalam kesendirian di ruangan mewah serba putih seperti hotel bintang lima ini, Rena menatap kosong ke arah luar. Gedung tinggi dengan keramaian kendaraan yang berlalu-lalang dan jalan tol.


   Pemandangan indah bak kota metropolitan itu tak bisa menghibur hati Rena yang sedang galau. Bagaimana tidak, di pikiran nya hanya ada James. Wajah James yang marah selalu menari-nari dalam ingatannya. Ia sedih dan merasa amat bersalah karena ucapannya selama ini. Padahal ia sadar, jika James amat baik padanya, tapi ucapan yang keluar dari hati dan mulutnya hanya hinaan.


  Satu jam, dua jam , James tak kunjung datang. Rena menyadari kesalahannya. Mungkin James merasakan sakit hati yang teramat dalam pada ucapannya.


  Krucuk! krucuk!


  Rena memegangi perutnya yang perih karena sedari pagi belum di isi.


  Tiba-tiba langit menjadi gelap. Rena beranjak dari ranjang menuju jendela kaca melihat perubahan cuaca yang begitu ekstrim baginya. Hanya butuh beberapa detik, panas menyengat matahari berganti mendung yang menggelayut dan siap menumpahkan air dalam kedipan mata.

__ADS_1


   Rena terperanjat saat tiba-tiba kilatan cahaya amat dekat dari tempatnya berdiri. Menyambar ke segala arah membuat Rena berlari ke arah ranjang. Meringkuk ketakutan. Tangannya dengan sigap meraih selimut dan menutupi tubuh serta kepalanya.


   "James... kau di mana? aku takut ... James," rintih Rena diiringi isak tangisnya.


   Rena memang teramat takut pada kilatan cahaya , waktu kecil ia pernah melihat kilat menyambar pohon hingga menumbangkannya. Suara yang menggelegar dan api yang akhirnya menghanguskan pohon tersebut. Beruntung jarak pohon dan rumahnya kala itu cukup jauh. Rena kecil melihatnya saat bermain di luar rumah, beruntung ia sempat berlindung dan sejak saat itu Rena phobia pada kilat dan petir.


  Tak ada sahutan. James benar-benar marah.


   Duarrrr!


   "Akkhh! James!"


  Bunyi petir amat dahsyat membuat Rena tanpa sadar berteriak memanggil nama James. Ia menutup telinganya kuat-kuat. Tubuhnya gemetar ketakutan.


   Slappp!


   Selimut Rena tersibak. James kini berdiri di hadapannya dengan tatapan iba. Mata merah nyalang yang tadi sempat membuat Rena takut, kini berganti biru sebiru lautan, amat menenangkan.


   James duduk di samping Rena dan menatap mata Rena. Tak ada sentuhan tak ada ucapan. Hanya sebuah tatapan yang sarat akan arti.


  "James!" Rena beranjak langsung memeluk tubuh James. James hanya diam saat Rena memeluk tubuhnya erat.


   Rena membenamkan wajahnya di dada James masih dengan terisak. Di luar, petir mereda dan mendung menghilang dibawa angin. Terang kembali.


   James masih mematung. Rena mengurai pelukannya dan beringsut mundur.


 


   "James...," lirihnya.


  "Makanlah, aku membawakanmu makanan, ku taruh di atas meja. Setelah kamu makan, aku akan mengantarmu pulang. Sudah cukup jalan-jalannya," James beranjak dari duduknya. Rena mengigit bibir melihat tingkah James yang mendadak jadi pria yang dingin. Di mana sikap konyolnya, tadi?


   "Sudah hilang, Rena. Aku tak akan mengejarmu, lagi,"


    "Aku janji, setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi, kamu tak perlu khawatir," James melangkah menuju pintu.


   "Aku tunggu di luar. Pakailah baju yang sudah ku sediakan di dekat meja makan,"


"Ja--James...,"


  James berlalu tanpa sedikitpun memperdulikan panggilan Rena. Gadis itu terdiam sembari mencengkeram seprei dan meneteskan air mata. Hatinya teramat perih melihat James yang mengacuhkannya.


   "James... maafkan aku ...," lirihnya.


    ***

__ADS_1


 


__ADS_2