
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_125
#by: R.D.Lestari
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Kak James," Anima melempar senyum termanisnya saat tiba di rumahnya, James hanya membalas dengan senyum tipis.
"Aku permisi pulang dulu, An. Titip salam untuk Indri dan Pak Bima," sahut James. Anima mengangguk dan gegas James memaju mobilnya menjauhi rumah Bima.
Anima melenggang dengan riang masuk ke dalam rumahnya. Senyum sumringah membingkai wajah cantiknya. Sembari berdendang ia melangkah menuju kamarnya.
"Ekhm, hem,"
Suara deheman membuat Anima menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya pada si pemilik suara.
"Kakak?" lirihnya.
"Kenapa pulang sama James? bukannya kamu nemani Indri dan Stella?"
"Ohhh, Kak Indri! aku lupa, Kak," Anima menepuk jidatnya. Ia lupa jika bersama Indri sebelum janjian dengan James.
Memang Animalah yang sedari kemarin berkeras ingin melihat kediaman James di dunia manusia. Itulah sebabnya ia ikut saat Indri ingin pulang dan membawa Stella mengunjungi orang tuanya.
"Heem, sepertinya kamu sedang di mabuk cinta, An. Ingat, dia sudah punya Rena," Bima berusaha mengingatkan.
Wajah Anima berubah masam. Menatap Bima tak suka.
"Jangan campuri urusanku, Kak. Aku sudah dewasa," bantah Anima seraya melengos dan meninggalkan Bima yang masih menatap adiknya heran. Ia tak habis pikir Anima bisa berubah hanya karena perasaannya pada James.
Brakkk!
Anima menutup pintu dengan kesal. Apa sih maunya semua orang? mengapa mereka tak bisa membiarkannya bersama James?
Anima mematut diri di depan cermin. Menatap matanya yang bulat dengan alis mata yang lentik dan warna retina biru menarik.
Ia melepas hijabnya dan membiarkan rambut pirang lurus sepinggang itu tergerai indah.
Sesekali ia berdecak memuji tubuhnya yang ramping dengan kulit putihnya yang bersinar.
Lantas, apa yang mesti ia takutkan jika bersaing dengan Rena?
Tentu saja jika fisik Rena kalah telak. Dari postur tubuhpun Rena terbilang standar hingga tak punya kaki yang jenjang seperti Anima .
"Aku pasti bisa membuat James jatuh cinta," lirih Anima.
__ADS_1
"Tapi, jika ia minum darah James, mereka harus menikah, dan kesempatan untuk bersama dengan James akan tertutup saat itu juga,"
"Aku tak mungkin merebut suami orang. Biarpun aku gadis, aku tak ingin mengambil suami orang lain," Anima menggeleng.
Tiba-tiba ide brilian melintas di pikirannya.
"Aha, ide yang cemerlang," serunya sembari tersenyum riang dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewah miliknya.
***
Bima bersiap-siap untuk menjemput istrinya. Bapak satu anak yang masih sangat tampan dan berkarisma itu merapikan bajunya dan melangkah cepat menuju mobil mewahnya.
Anima yang sejak tadi menunggu kedatangan kakaknya segera beranjak melihat Bima sudah rapi dari dalam rumah.
"Mau ke mana kamu?" tanya Bima saat melihat adiknya sudah rapi dan mengikuti langkahnya.
"Aku ikut, ya, Kak," mohon Anima.
"Mau ngapain, ikut? Kakak tak lama," tolaknya.
"Aku ada urusan, Kak,"
"Urusan apa?" selidik Bima. Ia merasa ada yang tak beres dengan adiknya.
"Adalah Kak, udah cepet," Anima bergegas naik ke mobil kakaknya. Ia berusaha untuk tidak memikirkan James dan Rena. Takut jika pikirannya terbaca oleh Bima.
Mereka akhirnya tiba di rumah Indri. Anima tak ikut turun. Gadis itu langsung beralih ke kursi kemudi dan melaju pergi bersama mobil Bima. Kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Anima yang seenak hatinya.
***
Dokter berulang kaki memuji Rena yang bisa pulih lebih cepat walau belum siuman. Ia yakin Rena bisa segera sembuh, melihat kondisi tubuhnya yang semakin membaik.
Tap-tap-tap!
Reno tertegun saat langkah kaki mendekat padanya. Anak muda itu segera melempar pandangannya ke samping dan mendapati seorang wanita berwajah imut sedang tersenyum manis padanya.
"Apa Rena sudah sadar?" ucapnya lembut.
Reno terdiam sesaat dan memperhatikan gadis dihadapannya ini. Seumur hidup baru kali ini ia menemui gadis yang begitu cantik. Tubuh indah bagai model dengan paras wajah seperti bule.
"Halo?" Anima mengibaskan tangannya tepat di depan mata Reno yang masih terbengong.
"Eh, iya," Reno tersentak dan mengangguk pada Anima.
"Kak Rena belum sadar, tapi kondisinya sudah membaik,"
"Apa aku boleh menjenguknya? aku salah satu teman kampusnya," bohong Anima.
"Ya, silahkan, Kak," sahut Reno cepat.
__ADS_1
Reno membingkai senyum di wajahnya dan dibalas dengan senyum yang tak kalah indah dari Anima.
Gadis itu mengangguk dan melangkah masuk ke dalam ruangan Rena. Ia menarik salah satu sudut bibirnya dan menaikkan alis sebelah kirinya.
Mengulas senyum sinis dan melangkah pelan mendekati Rena yang masih belum sadarkan diri.
"Rena, dengan begini kau tidak akan bisa bersatu dengan James. Walaupun kau terpaksa menikah dengan James, aku pastikan kau jadi yang kedua. Karena James akan segera jadi milikku," desis Anima.
Ya, Anima tak mengapa jadi yang kedua. Yang penting James jadi miliknya. Karena ia sadar cepat atau lambat perasaan mereka akan kembali tumbuh dan bersemi, sedangkan ia tetap ingin bersanding dengan James apapun keadaannya.
Anima sendiri sebenarnya bimbang, di satu sisi ia ingin memiliki James seutuhnya, tapi di sisi lain ia tak ingin Rena menjadi gila. Sebuah pilihan sulit tapi harus ia jalani karena cinta nya yang semakin tumbuh dan bersemi pada James.
Dengan tangan gemetar Anima menyentuh pucuk kepala Rena, menyedot semua kenangannya bersama James. Cukup lama ia mengeluarkan energi hingga nafasnya tersengal dan peluhnya mengucur deras.
Setelah selesai Anima melangkah keluar dari kamar Rena.
Reno menatap gadis itu dengan heran. Anima nampak amat kelelahan setelah keluar dari kamar Rena.
Tanpa mengucap apapun dan hanya mengulas senyum, Anima melenggang pergi. Ia tau perbuatannya itu pasti akan menimbulkan masalah suatu hari nanti, tapi ia tak peduli. Cinta nya pada James sudah membutakan mata dan hati.
***
Seharian pikiran James tak bisa pergi dari Rena. Ia amat merindui gadisnya yang masih terbaring lemah. Ia selalu datang menjenguk Rena, tapu entah mengapa kalo ini pikirannya terlampau cemas.
Derrt-derrrt!
Benda pipih yang berada di atas meja bergetar. James segera meraihnya.
[Ya, Sri. Ada apa?]
[Oh, benarkah? pantesan dari tadi pikiranku selalu tertuju padanya. Oke, aku otewe]
James bergegas saat mendengar kabar dari Sri. Rena sudah sadarkan diri. Dengan wajah sumringah James menggedor kamar Gio, berharap adiknya itu bisa ikut.
"Oke, James. Aku siap-siap dulu," sahut Gio.
"Ya, jangan lama. Aku tak sabar bertemu Rena," omel James.
Gio sembari bersungut-sungut mengikuti langkah James. Ia kesal karena James yang tak sabaran. Dua lelaki itu akhirnya masuk ke dalam ruangan Rena secara bersamaan.
Semua berkumpul mengelilingi Rena, termasuk Indri dan Bima, Anima pun ada di sana. Mereka bercengkrama dan sesekali tertawa.
"Rena...," lirih James bersiap untuk memeluk gadis impiannya yang saat itu nampak sehat walau sedikit pucat.
Rena segera menghindar dan memangkas jarak di antara mereka..
James terdiam mendapat penolakan dari calon istrinya.
"Kamu siapa?"
__ADS_1
***