SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_99


__ADS_3

Bismillah


           SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_99


# by: R.D. Lestari.


Gio's Pov


Mataku menyisir disetiap sudut kelas. Gadis imut nan menggemaskan itu tak terlihat. Apakah ia marah atau ragu padaku?


Tettt-tettt-tettt!


Suara bel nyaring memekakkan telinga, pertanda kelas sudah usai. Aku melangkah mendekati Rena yang juga menatapku kebingungan.


"Mana Sri, Gi? tadi katanya mau ke ruang kerjamu," Rena tiba-tiba bertanya padaku.


"Eh, bukannya dia sama kamu, Ren?" Aku balik bertanya.


"Ga ada, Gi. Kamu ribut lagi?"


Aku hanya mengangguk mendengar pertanyaan Rena.


"Kamu sebenarnya sayang ga sih,  sama Sri?" mata Rena menyorot tajam ke arahku.


"Ya, tapi ketika Sri mengetahui jika aku makhluk Uwentira, ia shock dan sepertinya menghindar,"


"Hmm, aku tau perasaan Sri, aku pun sempat ragu pada hubunganku dan James. Rasanya pengen putus, tapi pesona kakakmu itu, ahh... sulit di lupakan,"


Wuzhhh!


Baru saja Rena berucap, di sekitar kami terasa seperti ada gulungan angin yang seketika itu juga menerbangkan rambut dan buku-buku Rena.


Kami saling berpandangan seolah saling mengerti angin apa yang kiranya tiba-tiba datang dan mengganggu perbincangan kami. Siapa lagi kalau bukan James, kakakku.


"Hei, Bro! aku tau yang ada di pikiranmu, apa aku boleh unjuk diri dan tebar pesona pada gadis kampus seperti dirimu?" ucap suara tanpa wujud setengah berbisik di telingaku.


Aku memutar mataku jengah. Bisa-bisanya kembaranku ini mau eksis seperti diriku, Rena pasti marah dan jadi Hulk karenanya.


"Ada James, ya? bilang apa dia?" Rena menatapku tajam seolah tanda mengancam.


"Ya, dia pengen nunjukkin wajah tampannya dan tebar pesona ke cewek-cewek kampus sini," jawabku.


Plakk!


"Aww, James!" aku mengerang sakit saat kepalaku seperti dihantam benda yang 7Evs karena buku bisa melayang sendiri.


"Sial*n kau, Rena pasti marah karena ucapanmu," suara James menggema di telingaku.


Benar saja, begitu menatap Rena, gadis itu menggeram dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


"Sial*n kau, James. Dasar ganjen!" Rena menghentak kakinya dan pergi dengan bersungut-sungut.


"Rena...!"


Slapss!


Sekejap tubuh transparan James menjadi solid dan membentuk tubuh dan wajahnya yang tampan dengan tampang murkanya.


"Hei, gara-gara kamu, aku dan Rena bisa dalam perang , tauk!"


Slapsss!


Detik kemudian ia kembali transparan dan hilang entah kemana. Hening, kelas kembali sepi.


Aku kembali berjalan gontai. Pikiranku kembali menerawang pada Sri. Apa aku sebegitu menakutkan di matanya? apakah salahku jika aku mempunyai darah Uwentira?


Sesampai di kantor, aku memusatkan pikiranku pada gadis yang selama ini meracuni hatiku dengan tingkah dan wajah manisnya.


Awalnya berkabut tapi lama-lama terlihat jelas gadis itu sedang bersenda gurau dengan lelaki yang sama. Lelaki yang tadi pagi mengantarnya ke kampus dan membuatku cemburu.


Sri berlari kecil sembari menggandeng tangannya di bawah terik sinar matahari, tertawa dengan keras tanpa beban. Ia menuju ke aliran air di sebelah sawah dan bermain dengan ringan, memasuki kedua kakinya dan duduk dengan tenang. Ia menengadahkan wajahnya yang bersinar, tampak cantik dan amat tenang. Sedangkan lelaki di sampingnya tak pernah sedikitpun berpaling dengan tatapan penuh pesona.


Tak lama, Sri beranjak dari tempat duduknya karena sinar matahari amat menyengat. Ia kembali berlari kecil menuju sebuah pohon rindang dan berlindung di sana. Sama seperti tadi, lelaki itu intens memandang Sri.


Brakkk!


Aku menggebrak meja. Emosiku membuncah. Kesal melihat Sri bersama lelaki selain diriku.


Kriettt!


Aku tak rela. Aku tak mau kehilangan cintanya. Tak mau jauh darinya. Hatiku sudah tertambat padanya. Sri, ohhh... Sri!


Brummm!


Mobil melaju kencang membelah jalanan kota yang ramai kendaraan. Tak perduli seberapa sulit untuk menemuinya, tapi aku tau ini adalah salah satu ujian untuk dapatkan cintanya.


Ckitttt!


Mobil berhenti di halaman yang lumayan luas. Tubuhku bergetar sesaat.


Tok-tok-tok!


Sedikit ragu ku ketuk rumah sederhana Sri yang sebagian bangunannya terdiri dari papan.


"Ya," seseorang menjawab dan membuka pintu dengan perlahan.


Kriettt!


Wanita tua menyembul dari balik pintu. Senyumnya khas tapi sorot matanya tajam hingga menusuk jantungku.


"Silahkan masuk, Tuan. Sudah lama saya menunggu kedatangan Tuan," sambutnya dengan raut wajah misterius.

__ADS_1


Anehnya, aku tak dapat membaca pikirannya yang berkabut.


Aku akhirnya duduk berhadapan dengannya yang saat ini menatapku intens dan matanya menyusuri tubuhku dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Maaf, Nek, saya...,"


"Jadi, kamulah lelaki Uwentira yang selama ini mendekati cucuku?"


Degh!


Dari mana Nenek tau asal usulku? apakah ia makhluk Uwentira juga sama sepertiku?


"Anda tidak usah bingung, Tuan. Sudah berpuluh tahun aku hidup dan berdampingan dengan kaummu. Bahkan aku sempat tinggal dan menetap beberapa waktu di kota indah Uwentira, kota tempat tinggalmu," ia berbicara seolah tau apa yang mengganjal dalam hatiku.


"Ba--bagaimana, Nenek...,"


"Kau tak perlu tau. Sekarang yang aku tanya, apa maksud dari kedatanganmu," ia menunjuk tegas ke arahku. Matanya nyalang membuat nyaliku ciut.


"Sa--saya, saya datang... untuk...,"


"Kau pasti menginginkan cucuku, Sri, bukan? sayangnya posisimu akan tergantikan dengan adanya Hans. Aku tau sedari dulu Sri amat menyukai Hans,"


"Ya, Nenek benar. Saya datang kemari untuk meminta ijin Nenek, saya ...,"


"Bukannya kamu sering menyelinap ke kamar cucuku? sebenarnya aku ingin marah karena perbuatanmu yang masuk ke rumah tanpa sopan santun,"


"Biarpun Tuan punya semua kemampuan itu, tak ada salahnya jika berprilaku seperti lelaki jantan pada umumnya.  Seperti saat ini. Aku salut padamu," Nenek Sri mengulas senyum lembut padaku.


"Jadi, Nenek memberi ijin padaku?"


"Aku selalu memberi kebebasan untuk Sri memilih pasangannya. Namun, satu yang aku khawatirkan. Kau pasti akan membawanya jauh dariku ke kota Uwentira tempatmu berasal," raut wajah Nenek berubah murung. Hatiku rasa teriris melihatnya seperti itu.


"Nenek...,"


"Aku sudah tua. Tunggulah sampai aku berpulang jika ingin membawanya pergi bersamamu," lanjutnya.


"Sungguh Nenek salah sangka padaku,


Aku memang mempunyai darah Uwentira, tapi aku tak tinggal di sana, Nek,"


"Aku memilih tinggal dan menjadi manusia biasa pada umumnya. Bekerja, dan bersosialisasi tanpa sedikitpun menggunakan kekuatanku,"


"Ibuku menikah dengan Ayah yang memang asli orang Uwentira,.mereka saling mencintai hingga akhirnya sesuatu membuat hubungan mereka hancur dan Ibu menjadi gila," paparku.


"Intinya Nek, aku akan tetap berada di dunia ini dan tak akan membawa Sri ke Uwentira," lanjutku.


Nenek menghela nafas dalam. Kali ini ia menatapku dengan penuh kehangatan.


"Kalau kau mencintai Sri, berjuanglah. Aku tau di dalam hati Sri hanya terpatri namamu. Namun, kau juga harus waspada, karena cinta yang datang dari masa lalu bisa saja merebutnya,"


Aku terkesiap mendengar ucapan Nenek, tak menyangka jika ia mendukungku untuk kembali merebut hati gadis yang selama ini mengganggu setiap malamku. Baru saja aku ingin berucap, tiba-tiba ...

__ADS_1


*****


__ADS_2