SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_14


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_14


#by: R.D. Lestari.


Dugh!


Tubuhku setengah terpental ke atas, hampir saja menyentuh atap mobil saking kerasnya hentakan. Beruntung ada sabuk pengaman yang melindungi tubuh ku agar tidak terpental hebat.


"Buka matamu, In," suara Bima membuatku tersadar dan perlahan membuka mata. Sinar berwarna-warni bak pelangi mengelilingi mobil kami. Dan bukan hanya kami, banyak juga kendaraan yang berlalu-lalang beserta kami.


"Kita di mana, Kak?" aku menatap heran sekitar.


"Kita masih berada di dalam portal antara duniamu dan duniaku, jangan takut, sebentar lagi kita keluar," sahut Bima.


Brummm!


Mobil melaju semakin kencang dan ...


Duk!


Lagi-lagi hentakan keras kurasakan. Mataku berbinar melihat sekitar. Hutan. Kami kini berada di jalan aspal yang di apit hutan lebat. Aku yakin inilah hutan Uwentira yang terkenal itu.


"Motormu di mana, In?" Kak Bima seperti mencari-cari sesuatu.



"Oh, iya. Motor itu! astaga! mungkinkah sudah di curi orang? karena sampai ujung hutan pun motor matic merah itu tak kunjung terlihat," batinku.



"Ah, mana motorku?" lesu begitu melihat motor itu sudah hilang tak berbekas.



"Sudahlah, In. Nanti aku belikan motor baru dengan harga yang lebih mahal," Bima berkata seolah ingin menghibur hatiku yang lara.


__ADS_1


"Tak usah, Kak. Biarlah. Mungkin memang bukan rezekiku," aku menunduk menyembunyikan sedih hati yang tak terkira. Bagaimanapun motor itu adalah hasil tabungan orang tuaku dan ia juga yang selalu menemani hariku selama berkuliah dan setia mengantarku kemana saja.



"Oh, oke, In. Sekarang kamu nikmati aja pemandangan gelap ini, bentar lagi kita sampai," ucap Bima lantang.



"Hmmmh, oke," sahutku malas sembari melempar pandangan ke arah jalan. Gelap. Yang terlihat hanya pohon tinggi menjulang yang berjajar di samping kiri dan kanan jalan.



Tibalah kami di ujung hutan. Samar terlihat di kegelapan tugu Uwentira. Rumah penduduk mulai nampak padat di sisi jalan. Lampu penerangan terlihat terang menyinari jalan kami.



Hatiku lega. Bersyukur akhirnya bisa kembali pulang ke rumah dengan selamat. Bima masih fokus ke arah jalan tanpa sedikitpun memandang ke arahku.



Jalan yang sangat aku hafal. Jalan ke arah rumahku. Kok Bima bisa tau?




Mobil berhenti tepat di depan rumahku . Aku turun tanpa banyak berbasa-basi kepada Bima. Ia pun tak banyak bicara.



"Mampir, Kak," ucapku pelan.



"Kakak langsung pulang aja, ya. Besok-besok Kakak mampir," sahutnya .



Setelah berpamitan mobil pun menderu kencang. Aku berbalik setelah mobil kuning itu tak nampak lagi di pandangan.


***

__ADS_1


"Indri , Ya Allah Indri, kamu pulang, Nak," Ibu menciumi wajahku begitu aku mengetuk pintu dan Ibu melihatku di ambang pintu.



"Bapak, Nenek, kemari! Indri pulang ," lantang suara Ibu menggema di segala ruangan.



Tergopoh -gopoh kedua orang tua itu berlari mendekatiku seraya menangis haru. Aku di peluk dan di ciumi sepenuh hati.



Ibu, Bapak dan Nenek menginterogasi. Mereka sama sekali tak percaya dengan ucapanku . Tapi biarlah , yang penting sekarang aku sudah sampai rumah dengan selamat dan berkumpul dengan orang-orang tercinta.



"Uwentira? kota? itu cuma hutan, jangan mengada-ada, In," pungkas Bapak.



"Atau, mungkin yang di maksud Indri itu kota jin, Pak?" Ibu menyahut.



"Enggak, Bu. Mereka orang yang sama seperti kita," aku kekeh dengan ucapan ku.



"Sudahlah , hentikan perdebatan ini, Indri nampak sangat lelah, biarkan ia beristirahat," Nenek menimpali.



Aku mengangguk pelan dan berjalan gontai menuju kamar. Hatiku masih gusar prihal hilangnya motor kesayangan keluarga itu.



Degh!



Aku terperanjat kaget melihat benda merah yang amat ku hapal itu sedang teronggok di dapur rumah. Benda itu ...motor matic kesayanganku. Sejak kapan ia ada di situ?

__ADS_1


__ADS_2