
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_71
#by: R.D.Lestari.
Indri masih termangu di teras rumahnya. Rumah besar dan megah hasil dari kiriman mertuanya yang rutin memberi setiap bulan. Bongkahan emas dan juga permata. Indri di manjakan dengan banyak kekayaan.
Walaupun hidupnya berkecukupan, tapi jiwanya rasa hampa. Bima, lelaki yang dicintainya tak kunjung datang.
Tepat setahun sudah mereka berpisah di dua alam. Indri semakin kesepian. Apalagi semenjak ia menikah dan mengurus anak, kedua sahabatnya amat jarang berkunjung dan menghabiskan waktu bersama. Hanya sebatas video call tanpa pernah bersua.
Hidup Indri hanya sebatas mengurus anak dan jalan-jalan. Ia enggan bertemu dan berbicara dengan warga sekitar.
Pernah suatu ketika ia keluar dan memberikan santunan pada warga, sebagian menolak karena menilai uang yang di beri adalah hasil dari bersekutu dengan jin dan mereka takut menjadi tumbal.
Itu membuat Indri shock. Ingin rasanya pindah, tapi ia sudah jatuh cinta pada tempat. Tempat di mana ia di lahirkan dan di besarkan.
Dengan uang yang banyak itu rencananya Indri akan membuat perusahaan. Ia ingin membantu banyak orang dan tentu saja, membunuh kebosanan dalam dirinya. Toh, anaknya Stella juga sudah besar, bisa ditinggal.
Indri melangkah mendekati ibunya yang sedang bermain bersama Stella, bayi kecilnya.
Ayahpun ada di sana turut menemaninya. Sambil sesekali bersenandung untuk menghibur hati bocah kecil yang lagi lucu-lucunya.
"Bu, Ayah, bagaimana jika kita buat usaha atau perusahaan gitu, Indri bosan, Bu, Yah. Di rumah terus, biarpun uang kita melimpah, tapi aku selalu di rundung kesedihan," Indri mengungkapkan maksud hatinya.
Ibu dan Ayah saling berpandangan. Bingung mau menjawab apa. Mereka benar-benar awam tentang usaha. Maklum hanya bekerja sebagai petani sedari kecil.
"Tapi, Ibu dan Ayah ...,"
"Ibu dan Ayah tak usah bingung. Itu urusan Indri, yang penting Ibu dan Ayah awasi Stella. Nanti Indri sewakan pengasuh untuk Stella. Indri hanya butuh izin dan restu dari Ayah dan Ibu," ucap Indri penuh harap.
Ibu dan Ayah serentak mengangguk setuju. Mereka berharap Indri bisa tetap menjaga hati hingga suaminya datang dan menjemput mereka.
"Ibu dan Ayah jangan takut, cintaku hanya untuk Bima dan keluargaku. Tak ada tempat untuk orang lain di sisi manapun,"
"In, sampai kapan kamu di sini? bukankah kamu sudah resmi jadi bagian dari Uwentira?" Ibu tiba-tiba bertanya dan membuat Indri terhenyak. Terdiam beberapa saat.
"Indri menunggu Bima datang menjemput, Bu. Sebenarnya akan ada hukuman untukku jika mereka tau aku kembali pulang, tapi, sepertinya hukum di sana tak sekeras dulu. Buktinya banyak warga Uwentira yang bebas berlalu-lalang tanpa mendapatkan hukuman," terang Indri.
"Kau tau darimana, In?" selidik Ibu
"Bu, yang punya darah Uwentira itu punya banyak kelebihan dan kekuatan. Kami bisa mencium bau sesama warga biarpun berkilo-kilo jauhnya,"
"Dan, Ibu tau? Rena dan Sri sebentar lagi akan bergabung denganmu. Menjadi bagian dari Uwentira," wajah Indri berbinar. Ia bahagia karena ia tak akan sendiri. Teman-temannya akan mengikuti jejaknya.
"Lha? apa iya?"
"Iya, Bu. Indri bisa melihat jika mereka jatuh cinta dengan makhluk Uwentira, sama sepertiku," Indri mengangguk yakin.
***
__ADS_1
Pagi ini Indri sudah bersiap-siap mencari tempat yang paling tepat dan nyaman untuk ia jadikan tempat usaha. Deretan ruko di pusat kota menjadi tujuan utamanya. Ia berencana membuka toko sembako yang menjual berbagai keperluan rumah tangga. Bukan hanya satu toko tapi puluhan yang aksn di bukanya secara serentak.
Ia pun membuka lowongan kerja. Ratusan orang datang melamar. Indri menjadwalkan besok ia akan mulai menginterview beberapa orang secara bersamaan setelah urusan toko selesai. Ia meminta pamannya untuk membantu pekerjaannya.
Beruntung Sang Paman amat sigap. Hanya butuh beberapa hari untuk mencari toko. Dan, selama itu urusan tentang toko berjalan lancar dan mudah. Sekarang tinggal mencari karyawannya saja.
***
Perut Indri amat perih dan keroncongan. Kepalanya berputar-putar. Sejak pagi setidaknya ia sudah menginterview kurang lebih puluhan orang. Ia lelah hingga kepalanya terasa berat.
Tok-tok-tok!
Indri mendengar pintu ruangannya di ketuk. Ya, sebuah ruko sedang ia sewa untuk di jadikan kantor sementara.
Ia sebenarnya ragu untuk kembali menginterview, tapi rasa kasihan mengganggu. "Biarlah, satu orang ini saja," batinnya.
"Ya, ma--suk,"
"Akhhh!"
Kepala Indri seperti di hantam dari belakang. Sakit dan nyeri. "Ada apa ini?" batin Indri.
"Akhhh!"
Indri kembali menekan kepalanya yang semakin sakit. Berusaha keras melihat seseorang yang baru saja menyebut namanya pelan.
Samar, ia hanya melihat samar-samar seseorang berdiri tegak tak jauh darinya. Ia berusaha bangkit dengan tubuh gemetar, seseorang itu terus mendekat.
"Indri...," lagi, seseorang itu kembali menyebut namanya.
Indri menyipitkan matanya, tapi nyeri di kepalanya semakin menyiksa. Indri semakin terhuyung dan limbung.
Pandangannya menghitam dan ...
__ADS_1
Slappp!
Indri terjatuh, bukan di lantai tapi dalam pelukan seorang lelaki. Lelaki yang menunggu giliran untuk di interview siang ini. Peserta terakhir.
Lelaki itu membawa Indri ke sofa dan membaringkannya di sana. Ia kemudian keluar ruangan dan memanggil pamannya Indri untuk datang menolong.
Paman datang tergopoh-gopoh dengan membawa air di tangannya dan juga minyak kayu putih. Ya, dia amat tau jika Indri lemah ketika lapar . Itulah penyebab ambruknya Indri saat ini.
Butuh beberapa menit agar kesadaran Indri kembali. Pamannya berulang kali mengoleskan minyak kayu putih pada kening dan juga hidung Indri. Mata Ibu muda itupun akhirnya mengerjap .
Butuh beberapa detik hingga pandangannya menjadi sempurna. Ia terhenyak saat netranya menangkap sosok tak asing baginya. Sosok itu berdiri tegak di sampingnya dengan senyum yang terulas ramah.
"Ka--Kau ...,"
"Iya, ini aku ...,"
"Ikhsan ..., kau ikhsan ...,"
Jantung Indri berdegup kencang. Kedatangan Ikhsan di kantornya sungguh di luar dugaan.
Ikhsan ... lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya bertahun-tahun lamanya. Merajut cinta hingga bermimpi ke jenjang pernikahan. Namun, karena Indri miskin dan hanya anak seorang petani, keluarga Ikhsan menolak Indri mentah-mentah.
Ikhsan yang saat itu masih SMA harus rela di pindah sekolah hingga menyeberang lautan. Semenjak itu mereka putus hubungan. Tak pernah ada kabar.
Indri pasrah dan menyerah, tapi baginya, Ikhsan tetap lelaki baik yang selalu ada untuknya. Semua hanya karena keluarga semata.
Indri menepis semua masa lalu yang tiba-tiba muncul. Ia sadar kini ia sudah bersuami. Ia kini hanya menganggap Ikhsan sebagai teman. Ia sudah mengubur masa lalunya dan berdamai dengan hatinya
"Mau apa, kamu ke sini, San?" Indri bertanya sambil menyender di sofa. Sakit kepalanya berangsur membaik.
"Aku ingin melamar pekerjaan, In, eh Ibu Indri," sahutnya seraya menundukkan wajahnya.
"Kau mau bekerja padaku? bukannya keluargamu kaya?" Indri menatap nyalang ke arah Ikhsan. Tabir kesedihan itu kembali menguak. Sinar kekecewaan terpancar dari wajah Indri yang ternyata tak bisa memungkiri masih terselip rasa dendam akibat di campakkan.
"Aku ...,"
***
__ADS_1