SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_84


__ADS_3

Bismillah


          SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_84


#by: R.D.Lestari.


Kriettt!


Rena membuka pintu kamarnya. Dan mata Reno terbelalak saat melihat ke dalam kamar Rena, ia tak menemukan siapapun!


Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya terus menyisir sekitar. Padahal sebelumnya ia amat yakin kakaknya berbicara dengan seorang lelaki. Lirih suara bas khas lelaki bersumber dari kamar Rena, ia yakin seratus persen jika itu bukan halusinasinya.


Reno melangkah masuk dengan pandangan mata mengedar mencari asal suara yang ia curigai.


Sedangkan Rena dengan bunyi jantung yang bertalu-talu, hanya berdiri di pojok sembari matanya mengikuti Reno yang seperti mencari sesuatu.


Pletak!


"Aw!"


"Apaan, No?" Rena terhenyak mendengar rintihan kesakitan Reno. Reno berbalik dan menatap nyalang kepada Rena. Aura kemarahan tersirat dari wajah imutnya.


"Kakak ini! ngapain mukul kepalaku, kan sakit!" Reno berulang kali mengusap kepalanya yang sakit.


"Apaan, sih. Kakak dari tadi di sini," Rena membela diri.


Rena cemberut. Ia amat yakin itu ulah James. Siapa lagi yang usil dan jahil kalau bukan James.


Reno bergidik. Ia menyentuh tengkuknya. Merinding. Seolah ada seseorang yang menghembusnya dari belakang.


"Ka--Kak, Reno tadi denger suara laki, tapi kok ga ada siapa-siapa di sini?" Reno memperhatikan jendela yang masih terkunci.


"Ga ada kok, No. Kakak sendirian dari tadi," Rena menggigit bibir. Ia sadar jika sedang berbohong. Namun, ini semua hanya demi Mamanya. Ia tak ingin mamanya shock dan kecewa padanya.


"Jadi, kalau bukan Kakak, siapa yang memukul kepalaku barusan? benjol ini!"


Rena mengedikka bahu. " Ga tau, demit kali," ucap Rena asal.


Pletak!

__ADS_1


"Aww!"


Lagi, Reno mengaduh kesakitan. Tanpa banyak bertanya, Reno langsung tancap gas dari kamar Rena. Mulai saat itu kamar Rena berasa horor baginya. Ia berjanji tak akan mau menginjakkan kakinya lagi di sana.


"Reno!!"


Brakk!


Pintu di belakang Rena menutup keras. Rena sempat tersentak dan mengelus dadanya.


"Eh-eh-eh,"


Jantung Rena rasanya mau copot saat tubuhnya di gendong. Jika Reno melihatnya saat ini, ia yakin Reno akan pingsan, karena Rena seperti melayang di udara.


Bugghht!


Rena di hempaskan pelan di atas kasurnya. Sejurus kemudian ia merasakan benda lunak dan dingin ******* bibirnya pelan. Sesekali menggigit bibir wanita cantik itu hingga membuat Rena kesakitan.


"Maaf, Ren. Kami begitu menggemaskan," perlahan di sekitar Rena terbentuk kabur dan lama-lama membentuk wujud James.


"Gemas, sih, gemas. Sakit tauk!" protes Rena.


"Ren, aku ga bisa ketemu kamu terus. Kita belum muhrim, takut melepaskan," James beringsut mundur dan memberi jarak antara dirinya dan Rena.


"Aku ingin hubungan ini terjalin dengan restu," Rena menatap James penuh harap.


"Setelah kamu lulus, aku akan segera melamarmu, aku janji," James membelai kepala Rena sayang.


Cup!


Satu kecupan mendarat di kening Rena.


"Aku pergi dulu. Kamu ga usah mikirin Sri terus. Nanti kalau dia sudah reda emosinya, dia pasti mau bicara lagi sama kamu, sabar aja," James berusaha menenangkan hati kekasihnya itu. Rena mengangguk. Beberapa detik kemudian James pergi dengan berteleportasi, dan Rena kembali sendirian di dalam kamarnya.


Rena termangu sembari menatap ke luar jendela. Benar kata James, saat ini Sri sedang marah dan percuma ia trus mengajaknya berbicara. Sri tak akan mau mendengarkan. Rena memilih kembali berbaring dan tak lama ia sudah berada di alam mimpi. Tubuhnya yang lelah mengajaknya beristirahat. Terlelap bersama mimpi yang indah, mimpi bersama pujaan hatinya, James tercinta.


***


"Gi, apa-apaan sih, kamu. Kok bisa buat Sri marah?" James yang baru saja pulang langsung menghardik Gio yang saat itu sedang menonton TV.


"Yah, resiko cowok tampan dan pintar ya begini, James. Apa yang harus aku khawatirkan?" jawab Gio seenaknya.

__ADS_1


"Kamu yakin jika Sri cuma cemburu? kalau tiba-tiba penyakitnya kambuh, gimana? ga nyesel?" cecar James berusaha menakuti Gio, kembarannya.


Gio terdiam, keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu. Sejurus kemudian Gio berdiri dan mengambil jaket serta kunci motor sport James.


"James, aku pinjam motormu," seru Gio. James hanya tersenyum simpul melihat Gio yang wajahnya berubah saat membicarakan Sri.  Jelas terpancar raut penuh kekhawatiran di wajah Gio.


Ya, gayanya yang seolah acuh tak bisa memungkiri jika di hatinya sudah tertulis nama Sri. Murid yang sejak pertama kali bertemu dengannya menimbulkan getaran halus di hatinya. Mungkinkah itu yang di namakan ... cinta?


***


Seorang gadis berjalan di tepi jembatan kayu yang mulai lapuk di beberapa sisinya. Jembatan tua yang amat jarang di lewati orang.


Di bawah jembatan mengalir air sungai yang cukup deras. Musim hujan membuat air meluap dan pasang.


Di bagian sisi jembatan terdapat beberap rumah warga dengan semak dan pepohonan, angin yang berhembus cukup kencang membuat pepohonan bergoyang dengan seirama.


Gadis itu mendekap tubuhnya sendiri, tangannya menyilang dan mencengkeram kuat kedua lengannya. Rambutnya yang pendek ia biarkan terurai dan melambai di terpa angin dingin yang berputar di sekitarnya.


Pandangan gadis bermata sendu itu lurus ke depan. Menatap aliran sungai yang bergulung-gulung seolah siap menerima tubuhnya yang ramping. Pikiran buruk bermain di kepalanya. Beginikah rasanya patah hati?


Tubuh mungilnya semakin menggigil. Dinginnya hembusan angin di tambah mendung yang menggelayut di langit beserta rintikan hujan menambah suasana melankolis dalam hatinya.


Ia semakin merapatkan tubuhnya pada sisi jembatan. Bulir bening jatuh satu persatu di sudut matanya.


Gadis itu menunduk sembari terisak. Beberapa orang yang berlalu lalang hanya memandang dengan iba tanpa ada satupun yang berani mendekat.


Satu kakinya ia angkat menaiki pinggir jembatan. Ia merasa amat frustasi. Ibu dan Bapaknya sudah lama tak ada kabar, ia hanya mengandalkan beasiswa dan tabungan neneknya yang mungkin sebentar lagi juga akan habis. Selama ini ia membantu Nenek menjual hasil bumi untuk menambah biaya sehari-hari.


Berulang kali ia menghela nafasnya. Dosen ganteng yang selama ini jadi penyemangat hidupnya ternyata tak pernah menganggapnya ada. Cinta nya bertepuk sebelah tangan.


Ia merasa hidupnya tak ada guna. Kekosongan menyelimuti jiwanya. Ia berulang kali mengucap kata maaf untuk neneknya. Sebenarnya ia ragu, karena Nenek masih butuh dirinya. Namun, rasa egois kembali merenggut pikirannya. Ia hanya ingin tenang, walau pasti bukan surga tujuannya.


Semakin ia mendekat dengan kematian, semakin kuat juga keraguan dalam dirinya.


Hujan yang semula rintik menjadi amat deras, membasahi tubuh mungilnya yang kini bergetar hebat akibat menahan dingin yang teramat sangat. Ia lemah dan bersiap jatuh ke aliran sungai.


Ckittt!


Sempat ia mendengar decit suara motor amat dekat di telinganya. Namun, tubuhnya sudah terlalu lemah dan ...


Byuurrr!

__ADS_1


Gadis itu jatuh ke gulungan air yang sedari tadi bersiap menelannya. Ia...


__ADS_2