SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part 8


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_8


#by: R.D. Lestari.


\[Cepat kerumah Rena, In. Penting\]



Tut-tut-tut!



Tanpa menunggu lama aku segera bangkit dari kasur dan bersiap kerumah Rena.Ibu sempat heran melihatku yang amat bergegas tanpa memperdulikan Ibu yang sedang menonton TV.



"Mau kemana, In?" tanya Ibu ketika aku hendak melangkahkan kaki keluar pintu.



"Ada keperluan sebentar, Ibu. Indri harus bergegas," Aku menghentikan langkahnya sejenak seraya menatap Ibu yang tampak kebingungan. Ia menghela napas dalam.


"Hati-hati, Nak," Ibu mengulas senyum simpul dan melambai padaku. Aku hanya mengangguk pelan dan mengayunkan langkahku menuju motor yang terparkir di teras rumah.


Brummm!


Motor kupacu secepat yang aku mampu. Rasa gusar menyelimuti diriku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rena?


Ckiiiitttt!


Jarak rumah Rena yang cukup jauh hanya ku tempuh selama lima belas menit saja. Aku segera turun dan berlari menuju rumah Rena, hampir saja aku tergelincir karena jalanan yang basah sehabis di guyur air hujan.


Langkahku terhenti seketika, napasku memburu, lidahku seolah kaku begitu melihat banyak orang sudah berkerumun di ruang tengah rumah Rena. Aku segera masuk dan menyibak barisan orang yang menghalangiku.


"Rena!" teriakku. Berpasang mata melihat tajam ke arahku.


__ADS_1


Tangisan keluarga pecah begitu melihat kedatanganku, begitu juga Sri yang sudah berada di tempat. Ia menangis pilu di kaki Rena, sahabat kami. Suasana terasa amat menyanyat hati.



Rena bak mayat hidup. Mata nya melotot dengan mulut yang menganga, dari ujung kelopak matanya mengalir bulir bening. Tubuh nya kaku dan terkadang bergetar hebat, seperti seseorang yang sedang mengalami siksaan yang teramat berat. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Rena yang biru pucat.



"Rena ...," Ibunya terisak hingga semua orang yang berada di tempat ikut menangis haru.



"Ibu ... saya butuh bicara," seketika aku teringat pada mimpi yang baru saja aku alami.


Ibunya menatapku sendu. Ia mengangguk dan ikut bersamaku ke sudut ruangan. Aku dan ibunya Rena duduk berbarengan.


"Bu ... apa Ibu melihat ada yang aneh dengan barang bawaan Rena?"


"Maksudmu, apa?" Ibu balik bertanya.


"Barang yang bukan milik Rena. Tas barangkali," aku mencoba menebak. Jika benar apa yang aku pikirkan, sudah pasti ada maksud yang terkandung di balik mimpi siang bolongku itu.


"Ya, benar. Ibu sempat melihat tas mahal di kamar Rena. Ibu pun tak tahu tas siapa yang di bawa Rena," sahut Ibu pelan.




"Cepat Ibu bungkus tas itu dan berikan padaku, Ibu, jika Ibu ingin Rena selamat. Kita tak punya banyak waktu. Nyawa Rena dalam bahaya!" desakku. Tanpa banyak bertanya Ibu langsung menuju kamarnya dan membungkus tas yang aku minta. Tak sampai lima menit bungkusan hitam itu sudah ia serahkan padaku.



Aku segera mengambilnya dan beranjak. Kakiku melangkah cepat untuk memburu waktu. Uwentira, kota yang di sebutkan Bima barusan bukanlah kota, melainkan hutan yang terbelah oleh jalan aspal dan itu jaraknya cukup jauh dari kediaman Rena.



"Indri! kamu mau kemana!"



Suara Sri menghentikan langkahku. Aku menoleh ke arahnya dan ia segera mendekatiku. Tatapan wajahnya penuh tanda tanya.

__ADS_1



"Tolong jaga Rena, Sri. Aku harus segera pergi. Doakan usahaku ini berhasil, jika aku lama tak kembali, jagalah dan hibur keluargaku," aku menatapnya penuh harap.



"Msksudmu apa, In? jangan macam-macam, kamu," Sri mencengkeram lenganku. Ia terisak menahan langkahku.



"Aku harus segera pergi, Sri. Tolong jangan buang waktuku. Aku harus cepat jika ingin nyawa Rena selamat," aku melepaskan tangan Sri. Seluas senyum ku berikan untuknya sebagai janji jika aku bisa pulang dengan selamat.



Walaupun sebenarnya aku tak yakin dengan hatiku. Siapa yang tak tahu Uwentira? seluruh rakyat Sulawesi sudah amat mengenal kota itu. Kota gaib yang hanya orang-orang tertentu dan punya kekuatan khusus yang bisa melihatnya. Jika sudah masuk ke sana, jarang bisa pulang kembali .



Apa mungkin Bima adalah penghuni dari kota Uwentira?



Ah,pikiranku bercabang. Yang terpenting saat ini Rena selamat. Motor melaju amat kencang hingga tak kuhiraukan ketika di persimpangan ada lampu merah, tetap ku lajukan motor maticku dengan kencang. Beruntung Tuhan sepertinya masih mempercayakan nyawanya untukku. Aku masih selamat walau beberapa kali hampir bersenggolan dengan pengendara lain.


***


Aku menepikan motor di samping jalan. Hutan Uwentira nampak amat mencekam di ujung sore, di mana langit berubah jingga dan gelap hampir saja menyelimuti dunia.



Riuh suara dedaunan yang di tiup angin menyurutkan langkahku untuk maju dan masuk ke dalam hutan yang penuh pepohonan rindang dan gelap karena cahaya tertutup rimbunnya daun.



Pepohonan tinggi menjulang tak beraturan menambah kesan angker, di tambah sunyi hanya aku yang berada dan berjalan sendirian di dalam hutan selebat ini. Kakiku gemetar. Benarkah yang aku lakukan ini?


Samar dari kejauhan ku dengar derap langkah kaki kuda mendekati ku, aku semakin takut. Peluh mengucur deras sebesar biji jagung. Dengan kuat aku mencengkram bungkusan hitam di dadaku .


Drap-drap-drap!


__ADS_1


Perlahan nampak jelas sosok kuda beserta seorang lelaki sedang menungganginya. Seketika hatiku merasa tenang saat melihat siapa yang datang. Mungkinkah itu jemputanku?


__ADS_2