SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
Extra part{wedding day}


__ADS_3

Bismillah


        SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_132


#by: R.D.Lestari.


Dikediaman Sri.


Pagi itu wajah Nenek nampak sumringah. Memperhatikan cucunya yang sibuk dengan acara pernikahannya.


Berkat kekayaan Gio, orang tua Sri kini tak lagi bekerja sebagai sebagai TKW, mereka akhirnya pulang dan kembali dalam pelukan keluarga.


Kini mereka bahu membahu mempersiapkan pernikahan anak gadis satu-satunya.


Begitupun Sri yang amat semangat.


Ia begitu antusias memilih pernak-pernik untuk sovenir. Menulis undangan.


Jarak pernikahan yang kurang dari satu bulan membuat keluarga itu sibuk hingga kadang lupa waktu.


***


Di kediaman Rena.


Mama menyisir rambut Rena yang panjang. Senyumnya terkesan kecut. Jujur hatinya tak karuan, memikirkan nasib anaknya yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.


"Ma ... kenapa Mama kelihatan sedih?" tanya Rena saat melihat mamanya dari pantulan cermin.


"Mama takut Rena bakal lupa sama Mama," Mama sekuat tenaga menahan sesak di dadanya. Matanya mulai terasa memanas.


Rena menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sama seperti Mama, ia pun tak ingin berpisah dari keluarga kecilnya ini.


Gadis itu berbalik dan meraih tangan mamanya. Berulang kali ia mengecup punggung tangan orang yang amat dikasihinya itu.


Mama merengkuh tubuh anak gadisnya yang amat ia sayangi. Air mata merembes diantara dua matanya. Mereka sama-sama terisak.


"Aku akan membawa Mama tinggal bersama kami. Mama harus mau," desak Rena.


"Tapi, bagaimana dengan James?" Mama tampak ragu.


"James pasti mau menerima Mama dan Reno," jawab Rena pasti.


Kedua wanita itu sama-sama tersenyum bahagia. Mereka yakin pernikahan tak akan membuat keluarganya terpecah.


***


Sorak sorai para tamu undangan di acara pernikahan terdengar riuh memecah keheningan malam.


Resepsi pernikahan  dengan dua pasang pengantin terasa khidmat dan penuh kebahagian.


Pesta dengan dekorasi super keren di tengah taman dan di bawah bentangan langit dengan bunga-bunga hidup berwarna-warni menjadikan tamu betah berlama-lama berada di sana.


Diiringi musik romantis, James mengulurkan tangannya dan disambut Rena dengan suka cita. Mereka berdansa di bawah pendar sinar bulan dan untaian lampu berwarna emas serta lilin-lilin diantara bunga-bunga.


Rena tampak sangat cantik dengan gaun putih dan make up natural yang menghiasi wajahnya. James tak henti memuji kecantikan wajah istrinya saat ini.

__ADS_1


Begitupun Rena, ia berdecak kagum dengan ketampanan sang suami, walaupun diantara para tamu, ada sosok yang menatap dengan hati teriris. Gadis itu berbalik dan melenggang pergi, tak tahan dengan romansa yang terjadi dengan mantan suami yang belum sempat di sentuh olehnya.


"Kau tampak sangat cantik, Rena," puji James.


"Kau pun sangat tampan, Tuan James," jawab Rena sembari tersipu malu.


"Terima kasih sudah mau menjadi istriku,"


"Kita akan punya banyak anak nantinya, dan aku akan mengurungmu di kamar mewahku," goda James.


Mendengar itu wajah Rena bukan hanya merah, tapi jari jemarinya terasa gatal ingin mencubit lelaki yang sudah sah menjadi suaminya ini.


"Jangan mulai mengganas, Rena. Simpan keganasanmu nanti di dalam kamar," bisikan James di telinganya terasa membuat bulu di sekujur tubuhnya meremang. James berhasil membuatnya salah tingkah diantara banyak tamu undangan.


Sementara di tempat lain, Gio dengan mesranya menyuapi Sri. Seperti halnya Rena dan James, seseorang juga melihat kebahagiaan Sri dengan tatapan nanar. Jiwanya rasa terkoyak.  Ia datang, tapi tak berani mendekat. Hans, hanya bisa melihat dengan napas tercekat.


Sudut matanya basah, perlahan ia berbalik dan meninggalkan Sri yang sedang berada dalam suasana penuh cinta.


Brakkk!


Tubuh Hans limbung. Saat tersadar ia melihat seorang gadis berhijab terjatuh tepat di hadapannya.


Susah payah wanita itu berdiri dan membersihkan tubuhnya yang kotor. Gadis itu mengibas-ngibaskan pakaian yang ia pakai dengan tangannya.


"Ma--maaf, Nona, saya tidak sengaja," ucap Hans.


Wanita berhijab pink tadi perlahan menaikkan wajahnya dan menatap Hans dengan sayu. Hans heran karena gadis itu tak marah, malah terkesan biasa saja.


"Ya, tak apa. Ini juga salahku," gadis itu mengulas senyum kecut.


"Aku Hans,"


"Kenapa Nona terlihat terburu-buru?" tanyanya.


"Hhmmh, aku ... ah, tak apa. Aku hanya ingin mencari minum," bohongnya. Padahal Anima sengaja menghindar dari kebahagiaan James dan Rena.


"Oh, sama. Kalau begitu ayo kita cari minum bersama-sama," ajak Hans. Sepertinya ia tertarik pada gadis yang nampak imut berpipi merah itu.


"Tak ada yang marah?" Anima merasa sungkan, ia masih trauma dekat dengan lelaki.


"Oh, tak ada. Aku jomblo," Hans tersenyum simpul. Kini, ia yang khawatir jika gadis di hadapannya itu sudah punya kekasih atau suami.


"Oh, syukurlah,"


"Dan kamu?"


"Aku janda,"


"Janda?"


"Ya, Janda, tapi aku masih perawan,"


"Hah?"


"Nanti aku ceritakan semua. Kita ngobrol di sana, aku butuh teman bicara jika anda sudi menemani,"


Hans mengangguk dan mereka berjalan beriringan di antara para tamu dan berbaur dengan yang lainnya. Seolah menjadi angin segar, pertemuan mereka terasa bermakna.

__ADS_1


***


Indri membawa semangkuk kue manis untuk anaknya. Kue tradisional yang tak ada di Uwentira, tentu saja. Jajanan pasar biasa ia memanggil kudapan manis yang tadi ia ambil.


Gadis kecil bermata biru yang duduk di pangkuan papanya itu sangat bersemangat menerima semangkuk kue yang baru pertama ini ia lihat. Berbahagia warna yang menarik untuk segera dicicipi.


"Mama, ini apa?"


"Itu namanya cenil, Sayang,"


"Boleh Stella coba, Ma?"


"Boleh, Sayang. Papa mau?"


Mereka mengangguk serentak. Indri dengan sabar menyuapi dua orang yang ia sayang. Stella dan Bima terlihat menikmati kue yang baru saja masuk dalam mulut mereka.


"Enak, Ma,"


"Besok buat dong, Ma, untuk sarapan Papa," ucap Bima sembari membelai punggung tangan istrinya.


"Iya, Pa,"


"Ma, kita pulang, yok. Sudah malam," ajak Bima.


Indri mengangguk. Setelah Stella kenyang, mereka berjalan beriringan menuju tempat di mana dua pasang mempelai pengantin itu duduk bersamaan.


"Indri," sorak Rena dan Sri berbarengan saat melihat kedatangan sahabatnya.


Mereka saling berpelukan. Air mata sempat merembes tapi segera mereka seka.


"Selamat buat kalian, aku tak menyangka kita semua menjadi Nyonya dari tuan-tuan tampan di Uwentira," ucap Indri terharu. Ia bahagia melihat kedua temannya yang akhirnya menikah.


"Iya, dengan perjalanan yang rumit ya, Beib," Rena terkekeh.


"Ah, sudah, jangan sedih-sedih. Kita foto, yuk,"


"Apa kali ini foto kita burem?" Sri tiba-tiba nyeletuk.


Sadar dengan ucapan Sri, mereka tertawa bersamaan. Seolah kembali ke masa di mana pertama kali mereka masuk ke dunia Uwentira.


"Ga lah, kali ini foto kita pasti amat cantik," jawab Indri.


"Udah, ayok, semua ...,"


"Satu ... dua ... tiga! say cheese... buncis!"


***


...


...


...


...


...

__ADS_1


...


......


__ADS_2