
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_44
#by: R.D.Lestari.
Dan ... aku melihat Silva sudah berdiri bersama Deren dan beberapa orang sedang mengelilingi Bima, suamiku yang masih terdiam tak bergerak. Matanya tertutup rapat, hanya dadanya yang naik turun sebagai tanda ia masih hidup.
Aku menatap dengan tubuh terpaku melihat suamiku bak bahan percobaan, mereka berulang kali memeriksa tubuh Bima yang masih tak bergerak. Sengaja kuperhatikan untuk mencari waktu yang tepat.
"Darahmu sudah kumasukkan ke dalam cangkir perak. Kau bisa segera meminumkannya sebelum ia benar-benar tewas! ha-ha-ha, dan dia akan jadi milikmu selamanya," suara Deren terdengar lantang walau berada di tempat terbuka seperti ini.
"Dan kau bisa memiliki Indri seutuhnya! ha-ha-ha, kita memang hebat, Kak," Silva tertawa riang bersama Deren, lelaki licik yang berpura-pura baik padaku.
Bulan purnama penuh tepat di atas kepala. Sinarnya berpendar terang. Ritual siap di laksanakan. Silva mengambil gelas perak yang berisi darahnya, gelas itu memantulkan sinar membuatnya amat berkilau. Silva mengangkatnya tinggi-tinggi sembari menyunggingkan senyum licik penuh kemenangan.
Aku geram. Dadaku bergemuruh kencang. Bisa-bisanya wanita itu ingin merebut suamiku dengan cara-cara kotornya.
"Jangan berani-berani kau sentuh suamiku, wanita jal\*ng!"
Prangggg!
Saking terkejutnya ia mendengar suaraku, gelas perak itu terjatuh dari tangannya dan darah itu jatuh berceceran di lantai.
__ADS_1
"Bod\*h ! penjaga ! jangan cuma menonton saja! cepat tangkap wanita sialan itu!" Silva dengan geram sembari menceracau menunjuk ke arahku yang berdiri tegar tanpa rasa takut, menatap nyalang ke arahnya dengan tajam, setajam mata elang.
Drap-drap-drap!
Beberapa orang berbadan kekar berlari ke arahku. Aku sama sekali tak gentar. Entah dari mana asalnya, tubuhku serasa terbakar. Panasnya sama seperti hatiku saat melihat Silva menyentuh mesra tubuh suamiku.
Berbarengan dengan panas yang tiba-tiba mengaliri tubuhku, seketika itu juga tubuhku gemetar hebat hingga membuatku luruh terjatuh ke lantai, sembari bersimpuh, ku kepalkan tanganku. Sakit di punggungku saat sayap berwarna putih itu berubah menjadi hitam pekat. Kuku-kuku panjang mengulur keluar di sela-sela jemariku, begitu juga taring yang tiba-tiba mencuat di antara gigiku.
Aku menggeram saat beberapa algojo siap menyentuh tubuhku. Tangkisan, cakaran serta pukulan membabi buta membuat mereka kewalahan. Beberapa jatuh terjungkal dan bersimbah darah. Aku tak tau dari mana kekuatan itu, tapi yang pasti, tubuhku terasa amat bugar. Tak ada rasa sakit sedikitpun walau algojo-algojo itu secara bergantian ingin menyentuhku .
Bruk ! bruk !bruk!
Mereka tumbang satu persatu hingga tak mampu bangun. Aku mengulas senyum mengejek. Berjalan penuh kemenangan dan dada terbusung ke depan, bangga.
Silva dan Deren mundur secara bersamaan. Tatapan ketakutan tampak di kedua mata mereka.
"Deren! cepat pergi dari sini! dia bukan tandingan kita! darah Bima yang kuat membuat tenaganya jauh di atas kita, bagaimana pun Bima berada pada golongan berbeda. Golongan makhluk super yang punya tenaga kuat dan sulit di kalahkan," bibir Silva bergetar saat ku dekati, ia sepertinya amat takut dengan wujudku yang saat ini.
Tap!
Baru saja Silva hendak berbalik, aku melesat seketika berada di hadapannya. Menatapnya dengan tatapan mematikan. Ia beringsut mundur berusaha menghindar, tapi kalah cepat saat tanganku mencengkeram lengannya kuat.
"Lepaskan!" Silva berusaha berontak, tapi dengan cengkeraman yang kuat wanita jal\*ng itu tak berdaya. Tangannya berusaha menggapai kakaknya yang berdiri dengan tubuh gemetaran.
"Le--lepaskan Silva! sekarang juga!" dengan suara yang terdengar parau Deren berusaha menggertakku. Dia kira aku takut?
"Ha-ha-ha, lepaskan dia kalau kau bisa!" jawabku jumawa.
__ADS_1
"Ka--u!" Deren menggeram melihat mataku tajam. Namun, ia tak berani mendekat.
"Lepaskan , aku!" Silva menggeliat berusaha lepas dari cengkeraman tanganku.
"Ha-ha-ha! tak semudah itu, Silva! kau rasakanlah sedikit tanda mata dariku," aku berbisik di telinganya, membuat wanita itu menggelinjang ketakutan.
Slapsss!
Secepat kilat Deren melingkarkan jemarinya di leherku. Mencengkeram keras agar aku melepaskan cengkeraman tanganku di lengan adiknya .
"Lepaskan adikku!" sentaknya .
"Deren, Sayang .... kau lebih memilih adikmu? bukankah kamu mencintaiku?"sebelah tanganku memainkan wajahnya yang mengkerut.
"A--aku ...," Deren terbata. Ku rasa ia mulai terhasut rayuan gombalku.
"Jangan Kau lepaskan wanita jala\*ng itu, Kak! jangan sampai terhasut!" Silva berusaha menyadarkan Deren.
"Ehhhhmmm,"
Sialan! cengkeraman Deren di leherku semakin kencang, membuatku susah bernapas dan dadaku semakin sesak.
Menghadapi dua kakak beradik ini aku harus ekstra mengatur siasaat, apalgi saat ini Bima juga harus segera di selamatkan.
"Tuhan, tolonglah aku ...," doaku dalam hati.
__ADS_1
Perlahan tanganku mengarah ke kepala Deren dan ...