
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_91
#by: R.D.Lestari.
Sri berusaha tenang, walau ia tahu saat ini Pak Dosen selalu mencuri pandang padanya. Ia menahan debar dalam dadanya dengan berpura-pura mengutak-atik benda pipih yang sejak tadi berada di genggamannya.
Terkadang ia memainkan rambutnya, hingga terkesan seksi dan membuat Pak Dosen bergidik. Sri menggodanya, ya , Sri sedang berusaha menggodanya. Hingga berulang kali Pak Dosen menelan ludah. Ia tak pernah menyadari Sri bisa semempesona ini.
Ckitttt!
Mobil menepi dan berhenti di sebuah lahan parkir yang cukup luas. Sebuah restoran besar terpampang di depan mata. Tubuh Sri bergidik. Ia tak menyangka Pak Dosen akan membawanya ke tempat semewah ini.
"Halo, ya. Aku sudah di parkiran, sebentar lagi aku sampai," Gio mengangkat telponnya yang sejak tadi berdering tapi tak ia hiraukan.
Dahi Sri mengernyit. Ternyata ada seseorang yang sudah menunggu mereka di dalam.
Pak Dosen mengalihkan pandangannya ke arah Sri, hingga wajah Sri memerah karena tatapannya.
"Hari ini, aku yakin semua prasangka burukmu padaku akan sirna. Dan kutunggu ucapan maaf atas kekeliruanmu,"
Sri diam seribu bahasa. Bingung apa maksud Pak Dosen. Namun, ia tetap turun dan berjalan pelan di belakang Pak Dosen.
Pak Dosen Gio menghentikan langkahnya dan melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Sri. Menariknya lelang hingga tubuh mereka sejajar.
"Pa--Pak, jangan begini. Saya tidak ingin orang salah paham dengan kita. Ini tempat umum," Sri menggeser tubuhnya dan menyingkirkan tangan kekar Pak Dosen. Bukan Sri menolak, ia hanya tak ingin rasa sukanya semakin dalam sebelum akhirnya Pak Gio menyatakan cinta padanya.
Pak Gio tertegun menghadapi sikap Sri yang terkadang manis tapi juga terkadang dingin. Kabut menyelimuti pikiran Sri, hingga ia kesulitan membaca jalan pikiran Sri saat ini.
Pak Gio akhirnya mengangguk dan menarik tangannya. Ia berjalan mendahului Sri, masuk ke dalam Resto mewah yang bertabur orang-orang kaya dan interior mahal.
Sri berdecak kagum. Kagum dengan Resto dan tentu saja pada lelaki yang saat ini berjalan tegap di depannya. Sri menatap nya penuh pesona. Rambut pirangnya yang bersinar, tinggi dan tubuhnya yang terbentuk sempurna, serta wangi parfum yang amat maskulin. Wangi yang terbawa angin hingga menusuk indra penciuman Sri.
Sri tertegun saat Pak Dosen berhenti di sebuah meja. Ia sempat berbincang dan aku mendengar suara seorang wanita menyambut kedatangannya dengan riang. Suara renyah dan amat ia hafal. Dan suara itu ...
Sri menggeser tubuhnya, karena tubuh tegap lelaki tampan itu menghalangi penglihatannya. Benar saja, Rena dengan wajah sumringah menyambut kedatangan mereka. Sri tak bergeming. Kakinya terasa gemetar. Dadanya sakit seolah mendapat pukulan telak dan mematikan.
__ADS_1
Ia sempat mundur beberapa langkah, tapi begitu melihat wajah gadis yang saat ini dibencinya, ia tetap bertahan dan membusungkan dadanya. Teringat niat awal dan janji hatinya, jika ia akan maju dan bersaing dengan Rena.
"Ayo, Sri. Duduk," Rena berdiri dan menggeser kursi untuk Sri. Gio tersenyum melihat tingkah Rena yang amat sangat ramah. Memancarkan aura kebaikan. Sedangkan Sri hanya mengangguk dan melangkah pelan ke arahnya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Gio sembari menyeruput jus yang sudah di pesan Rena.
"Ya, kau taulah, cukup lama kami menunggu," sahut Rena.
"Kami? siapa lagi yang ada di sini selain Rena? wanita lainkah?" batin Sri.
Tiba-tiba Gio menatap Sri seraya memainkan sendok kecil yang ada di tangannya.
"Sri, bisakah kau berhenti berpikir buruk? kalau di lihat sikapmu dan Rena sama. Kalian suka sekali berprasangka yang tidak-tidak," gerutu Gio.
Rena memelototkan matanya. Ia tak terima di bilang suka berpikiran buruk, begitupun Sri. Gadis itu menggeram marah karena Gio menyamakan dirinya dengan Rena. Sekuat tenaga ia mengatur amarahnya.
Krettt!
"Kami tak sama, jangan sekali-kali Bapak samakan aku dan dirinya. Aku tak pernah berusaha mencuri hati pria yang di cintai sahabatku, beda dengan Rena," lantang Sri menyindir Rena.
"Sri ...," Rena menahan tangis saat mendengar ucapan sahabatnya yang menohok. Matanya berkaca-kaca. Semburat kebencian terlihat jelas di mata Sri. Rena kehilangan sosok sahabatnya yang amat ia cintai.
Bught!
"Awww!"
"Aduh..,"
Rena dan Gio segera berdiri dan menatap dua orang yang saling bertubrukan. Dengan sigap Gio menangkap tubuh Sri yang terhuyung akibat membentur dada bidang yang cukup keras. Ia mengelus pelipisnya yang terasa sakit berulang kali dan saat ia membuka mata ...
"Apa gadismu terluka, Gi? aku rasa benturannya cukup kuat,"
Tubuh Sri bergetar di pelukan Gio. Matanya terbelalak melihat seseorang yang kini berada di sampingnya. Wajah serupa tanpa pengecualian, hanya berbeda warna rambutnya saja.
"Sepertinya gadisku terpana padamu, James," Gio mencebik melihat Sri yang tak berkedip menatap James.
"Oh, jangan, nanti gadisku yang sedang duduk di situ bisa marah dan ngambek padaku, iya, kan Sayang?"
Sri menatap Rena yang saat itu tersipu malu dan tersenyum penuh cinta pada pemuda yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Cup!
Lelaki itu mencium kening Rena mesra. Lalu ia duduk di sampingnya.
"Maaf lama, Sayang,"
"Ah, kamu ke toilet seperti gadis saja, apa kamu memakai lipstik?" Rena menggoda lelaki yang tiba-tiba wajahnya memerah.
"Tentu tidak, Sayang. Kamu memang selalu berpikiran buruk, tapi aku suka caramu," lelaki itu menjawil hidung Rena dan gadis itu terkekeh karena nya.
Sri masih mematung. Tubuhnya rasa beku. Berarti selama ini, dia?
"Ya, dia kakakku, James. Saudara kembarku yang juga kekasih Rena, sahabatmu,"
Krett!
"Duduklah, Sri. Aku tahu kamu pasti shock dengan kenyataan ini, tapi inilah yang terjadi sesungguhnya, kenapa aku begitu akrab dengan Rena, karena Rena calon kakak iparku," Pak Dosen menggeser kursi dan mempersilahkan Sri duduk. Dengan lutut gemetar Sri akhirnya duduk. Ia sungguh tak menyangka kenyataan di depan matanya sungguh di luar dugaan.
"Sri, sekarang sudah jelas, 'kan? aku bukan perebut calon pacarmu, aku sudah punya lelaki tampan yang jelas tak kalah tampan dari lelakimu," Rena menggelayut manja di lengan James. James mengelus pucuk kepala kekasihnya dengan sayang.
"Emm, ya, aku minta maaf, Rena. Tapi ...,"
Derrrt-derrt-derrt!
Handphone Sri tiba-tiba bergetar. Sebuah nama terpampang di sana. Sri terkesiap dan berdiri dengan tiba-tiba.
"Sri...," Rena menatap Sri heran. Ia tak pernah melihat sahabatnya itu sebahagia ini sebelumnya.
"Rena, aku minta maaf, aku harus segera pergi sekarang juga!" Gegas Rena berbalik tanpa mengindahkan tatapan heran James dan tentunya Gio.
"Sri!" panggil Gio, tapi Sri tak menggubris. Ia berlari terburu-buru seperti memburu waktu.
Ada apa dengan Sri sebenarnya? kenapa ia tiba-tiba berlari tanpa menoleh sedikitpun ke arah Gio, dosen yang sudah mencuri hatinya?
Terimakasih yang sudah mampir dan membaca tulisan receh saya.
__ADS_1