
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_ 94
#by: R.D.Lestari.
Pov Pak Dosen Gio
"Sriii!" gadis itu berlari tanpa mengindahkan panggilanku. Aku menghela nafas kasar. Tak bisa kupungkiri pesonanya semakin menawan mata.
"Gi, cepat kejar gadismu sebelum ia benar-benar hilang dari hidupmu," James menatap tajam ke arahku.
"Ya, aku rasa ada seseorang yang datang kembali padanya. Sri tak pernah sebahagia itu. Ia gadis yang lugu dan tak pernah jatuh cinta selain dirimu dan ...," Rena menahan ucapannya. Ia seperti tahu kegundahan hatiku saat ini.
"Dan? siapa Ren?" tanyaku penasaran.
"Ah, entahlah. Aku ragu jika itu dia. Dia sudah amat lama tak bertemu dengannya. Bertahun. Setahuku hanya dia seorang lelaki yang bisa membuat Sri tergila-gila, sebelum bertemu denganmu, pastinya,"
"Ren? coba jujur. Aku tak bisa membaca pikiranmu saat ini," aku menjambak rambutku frustasi.
"Itu karena kau tak fokus, Gi. Firasatku kau akan kehilangan gadismu itu," James menatapku serius. Teramat serius hingga dadaku bergetar karenanya.
"Ya, aku rasa juga begitu. Jika benar ia yang datang, kau pasti akan kehilangan Sri selamanya," Rena pun ikut menimpali.
"Dan, dia tak kalah tampan darimu, Gi. Bersiaplah kalau sikapmu masih terus begitu, kau benar-benar akan kehilangan dirinya,"
Degh!
Kata-kata Rena berhasil menghujam jantungku. Bagaimana jika yang Rena katakan benar? dan Sri akan pergi dari diriku selamanya?
Akh, aku tak mau. Aku tak ingin kehilangan Sri. Gadis itu ... gadis itu sudah menambat hatiku.
Krettt!
Aku berdiri dan menggeser kursi, melangkah dengan cepat mengikuti gadisku yang ternyata sudah hilang bersama ojek online.
Dengan sigap aku segera berlari keparkiran dan menaiki mobil, menstater hingga terdengar bunyi yang menderu. Tak ingin kehilangan jejak Sri, gadis cantikku.
Ckittt!
Mobil kutepikan tak jauh dari kediaman Sri. Gadis itu turun dengan tergesa. Aku sengaja menunggu di dalam mobil, menantikan kejadian selanjutnya, dan benar saja. Tak lama gadis itu keluar dengan seorang pria. Pria tampan berkulit putih yang terlihat amat akrab dengannya.
Hatiku hancur. Sungguh. Aku tak tau rasanya semenyedihkan ini. Rasanya perih dan teriris. Rasa takut dan cemas menjalari diriku. Apakah dia yang di maksud Rena tadi?
Sri bisa tersenyum jika bersamanya, tertawa riang tanpa beban. Sedangkan jika bersamaku? ia selalu menangis. Ya ampun, Sri. Demi Tuhan, hatiku sakit melihatmu seperti ini. Padahal tak sedikitpun niatku untuk menolakmu. Sri, kembali. Kembalilah padaku.
Tiba-tiba aku ingin sekali masuk ke dalam kamar Sri. Menunggunya di ruangan itu. Aku ingin menyatakan perasaanku saat ia tidur. Semenjak saat aku merasakan pelukan darinya, aku begitu ketagihan untuk selalu mendekap tubuh rapuhnya. Menyeka air matanya dan mengecup setiap senti leher putihnya.
Sri ... aroma tubuhmu yang begitu wangi dan memikat.
"Astaga! apa yang aku pikirkan? dia muridku! muridku!"
__ADS_1
" Akh!" aku menjambak rambutku frustasi. Ini sungguh sangat menyiksa.
Aku menyerah. Rasa ini kutahu bukan rasa suka biasa. Sri... Aku tak ingin kehilangan dirimu, tapi aku juga malu jika harus mengungkap rasa dihatiku. Mungkin ini belum waktunya, tapi keinginan untuk memeluk tubuhnya terlalu kuat.
Brakk!
Aku turun dari mobil dengan tubuh transparan dan melesat cepat memasuki kamar Sri. Kamar kosong dan sederhana itu sedikitpun tak membuatku merasa risih. Kamar yang rapi, walau hanya beberapa perabot yang menghiasi.
Mataku menangkap sebuah buku dengan gambar sepasang pengantin. Ya, pasti itu buku diary milik Sri.
Aku mendekati buku itu dan membuka lembar pertama dan isinya...
Dear Diary
Pagi ini ketika membuka mata, aku melihat seorang lelaki yang amat tampan.
Ia sangat baik dan suaranya lembut.
Entah kenapa, saat pertama melihatnya, ia mengingatkanku pada Hans, cinta pertamaku.
Suaranya, perhatiannya.
Aku seperti menemukan Hans kembali dalam hidupku.
Hans? siapa dia?
Lalu aku membuka lembar kedua
Dear Diary
Aku amat bersedih.
Padahal kukira Pak Gio adalah kiriman Tuhan untukku
Untuk menghilangkan rasa cintaku pada Hans.
Hans lagi? diakah lelaki itu?
Aku meremas jas yang kupakai. Sakit sekali melihat isi diary Sri. Ternyata bukan aku saja lelaki yang ada di hati Sri. Apakah ini rasanya cemburu dan merasa di campakkan?
"Terima kasih, Hans,"
Ku dengar deru kendaraan dan suara Sri bersamaan. Ia datang. Aku menunggunya di dalam kamar dengan hati yang tak karuan. Rindu, marah dan kesal jadi satu.
Tunggu saja, Sri. Begitu kamu di dalam kamar, aku akan segera menghukummu!
Lama, aku menunggu cukup lama sampai gadisku yang manis akhir nya memasuki kamarnya.
Bughht!
Ia langsung berbaring. Dressnya sedikit tersingkap memamerkan kaki jenjang putihnya yang tiada noda. Wajahnya tampak amat sangat lelah dengan gurat keputus asaan.
Ia terlihat amat menggemaskan. Perlahan aku mendekatinya, meniup pelan sekitar telinga dan leher putihnya. Sedikit menghirup wangi tubuhnya yang amat memikat.
__ADS_1
Tubuhnya terlihat bergetar dan tangannya mencari selimut. Ia sepertinya amat kedinginan.
Akh, Sri. Aku tak mampu menahan gejolak yang membuncah dalam jiwaku. Tanpa sadar aku menindih tubuhnya dan Ia pun tersentak. Mata nya yang indah membesar sempurna. Ia sempat berontak. Dan aku semakin bersemangat menjahilinya saat ia marah.
"Uhh, siapa kamu!" Sri berontak.
"Lepaskan aku!" sentaknya lagi.
Aku mengulum senyum melihatnya blingsatan seperti itu, tapi semakin lama kupandangi, Sri seperti kesulitan bernapas. Aku jadi kasihan. Aku pun akhirnya bangkit dan menjauh darinya.
"Uh, kau hantu yang baik, terima kasih," ucapnya saat aku tak lagi menghimpit tubuh moleknya.
"Kau tak takut padaku?" Aku memberanikan diri bertanya padanya.
Ia bergeming sejenak. Keningnya mengernyit. Aku tahu ia gadis yang amat berani.
"Apa aku sudah gil*? bicara sendiri dan seperti mendengar suara?" aku terkekeh membaca pikiran gadis itu.
"He-he-he, kau tak gil*, gadis manis," aku menjawab apa yang ada dalam pikirannya.
Tubuhnya bergetar kencang. Saat aku mendekatinya dan bibirku bermain di lehernya.
"Sepertinya aku memang sudah gil*, hingga sentuhan dari makhluk tak kasat mata seolah bisa membuatku tenang. Apa aku terlalu berputus asa?" lagi, aku tersenyum puas melihatnya yang kebingungan seperti ini.
"Hei, hantu. Jangan menggangguku! Aku masih normal, walaupun aku sedang patah hati dengan manusia, aku tak ingin menjalin hubungan dengan hantu," sungutnya.
"Ya, mungkin aku memang sudah gil* karena patah hati. Sosok tak kasat mata itu tak sedikit pun menimbulkan rasa takut. Suaranya yang lirih terkesan seksi dan menarik."
Degh!
Aku terkesiap membaca pikirannya saat ini. Sebegitu kesepian dan terlukanyakah gadisku ini? Sri... ya ampun... bulir bening hangat tanpa sadar mengalir di sudut mataku.
Tuhan ... Aku sudah membuatnya amat terluka. Maafkan aku, Sri.
"Kau sudah pergi, hantu? padahal aku butuh teman bicara," pandangan matanya menyisir seluruh ruangan. Hening. Aku tak menjawab seruannya. Aku terlampau sakit melihatnya seperti itu.
"Hmmh, bahkan hantupun tak ingin mendengar curhatanku. Aku memang gadis yang tak beruntung," ucapnya lagi.
"Apa yang ingin kau ceritakan padaku?" aku menjawab dengan suara lirih.
"Ah, kau masih ada?" matanya seketika berbinar.
"Terima kasih, Pak Hantu, he-he-he. Tak marah kan ku panggil begitu?"
"Ya, aku tak masalah, panggil aku sesukamu," aku terkekeh melihat tingkahnya yang berubah manis seperti itu.
Namun, setelah itu ku lihat ia beberapa kali menguap dan mengantuk. Ia menceracau tak jelas dan aku malas menanggapinya. Bagiku Sri gadis yang amat cantik, tapi kelihatannya ia bukan gadis yang percaya diri dan teramat rapuh. Aku tak ingin lebih melukai hatinya .
Tak lama kulihat ia mengantuk dan kembali merebahkan tubuhnya. Aku tak sanggup melihatnya yang tertidur dengan kondisi hati yang tersayat karena ulahku.
Aku mendekati dirinya yang sudah mendengkur pelan. Memeluknya dari belakang dan mengecup leher dan pipinya. Entahlah, aku ingin malam ini memeluk tubuhnya dan memastikan ia dalam keadaan nyaman dan bahagia. Sri, aku berjanji akan mengambil hatimu kembali dan tak akan membiarkan siapapun merebut dirimu dari pelukanku.
__ADS_1
****