
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_101
#by: R.D.Lestari.
Rena duduk di teras sembari menyeruput teh hangat buatannya bersama James yang juga duduk di sampingnya, pacarnya itu asik mengunyah sandwich buatannya.
"Hmmh," Rena menghela napasnya dalam. Pandangan nya beralih ke arah James yang kini sedang menikmati suasana sore di sekitar kediaman Rena .
"James," lirihnya.
"Hem?"
"Bagaimana hubungan kita?"
"Bagaimana apa nya?" James menatap bingung ke arah Rena.
"Sampai saat ini Mama belum tau siapa dirimu, James. Apalagi jika tau setelah kita menikah, aku akan ikut denganmu ke Uwentira," raut wajah sendu Rena mengusik hati James. Pria itu menyentuh tangan Rena lembut.
"Apa kau keberatan kita pindah ke Uwentira, Rena?" sorot mata James yang meneduhkan membuat Rena menganggukan kepalanya pelan tanpa ragu.
"Ya, sebenarnya aku tak ingin pisah dengan Mama. Kau tau sendiri, James. Mama hanya punya aku dan Reno," Rena memberanikan diri mengungkap unek-unek dalam hatinya.
"Ya, aku tak bisa memaksa,"
"Berarti kau ingin mengakhiri hubungan ini, James?" hati Rena terasa amat pedih mendengar ucapan James yang menanggapinya dengan biasa tanpa penolakan.
"Bukan begitu, Ren... aku ...,"
"Hiksss-hikss," Rena tergugu. Entah kenapa ia teramat melow jika harus berhubungan dengan James. Ia teramat memuja James, tapi ia tak mungkin meninggalkan mamanya demi kebahagiaan dirinya seorang.
"Hah, kamu harusnya merasa beruntung, Sayangku,"
"Aku bukan keturunan murni darah Uwentira, jadi aku bisa bebas ke mana saja sesukaku," James membelai lembut rambut Rena yang masih tergugu.
"Msksudmu, James?" tatap Rena penuh harap.
"Aku tak harus tinggal di sana, ya, sekali-sekali kita bisa berkunjung, atau kamu mau menemui temanmu, Indri? dia sekarang jadi warga Uwentira dan hidupnya bahagia," papar James.
"Bagaimana kau tau tentang Indri, James?"
"Ya, karena Bima, suami Indri itu atasanku,"
"Dan, kau... kenapa tidak bekerja. Kau selalu menemaniku ke manapun aku pergi. Tapi, ingat, James. Jangan pernah masuk ke kamarku lagi sebelum kita sah jadi suami istri," omel Rena.
"He-he-he, satu-satu , Sayangku,"
"Ya, aku sudah mengundurkan diri dan aku akan setia di sini bersamamu, calon istriku, pujaanku,"
"Jadi, kita mau makan apa, Ferguso? kalau ga kerja aku ga mau!" Rena mencebik.
__ADS_1
"Hah, ga nyangka, kamu matre juga, Rena," James tertawa renyah mendengar ucapan Rena, tapi gadis itu tetap mengerucutkan bibirnya.
"Ya, hari gini, James. Tampan aja mana cukup," sungut Rena.
"Ya, oke-oke, mau ku kasih tau satu rahasia yang mungkin amat sangat membantu," James mencondongkan tubuhnya ke arah Rena, hingga wajahnya kian mendekat .
"Mau-mau," jawab Rena antusias.
"Uangku tak akan habis tujuh turunan, istilah kata orang, aku sulthan dan milyader. Kalau cuma emas batangan aku punya banyak. Jadi, kamu tak usah takut, Rena. Kamu tak akan kelaparan jika bersamaku,"
"Benarkah? kamu tak bercanda, James?" seketika mata Rena bersinar terang.
"Makanya, kamu harusnya beruntung punya aku," James membusungkan dadanya, bangga.
"Oh, James. Aku beruntung memilikimu," Rena mencubit pipi James gemas.
"Ya, kalau sudah urusan duit, kamu langsung manis. Dasar matre, untung aku cinta," kali ini James mencebik.
"James... ini bukan matre, tapi naluriah, semua wanita itu suka uang," bela Rena.
"Ya, termasuk ibuku yang rupanya hanya cinta uang ayahku saja. Dan, ia akhirnya kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya dan menjadi gil*,"
"Kamu jangan begitu, ya, Ren. Aku tak mau kamu jadi gil*," wajah James berubah mendung.
"Oh, James. Maaf , aku ga punya maksud apa-apa, sebenarnya aku cuma bercanda," Rena berdiri dan melangkah mendekati James dan menundukkan kepalanya.
"James, ayok dong, jangan ngambek, jelek tau," Rena membingkai wajah James yang berubah mendung.
"Hmmh, ya Ren. Maaf ya, aku cuma becanda bilang kamu matre," jawab James dengan senyum kecutnya.
"James, malu. Ini kan tempat umum, dasar mesum!"
Plakk !
James mengelus kepalanya yang mungkin benjol karena pukulan nampan Rena.
Tap-tap-tap!
"Kakak ngapain pegangan tangan sama Kak James. Reno kaduin Mama loh, biar kapok!"
Tiba-tiba saja wajah Reno sudah menyembul dan tersenyum jahat.
'Ah, bisa di jadikan duit ini,' pikir Reno.
"Jangan asal ngadu, Dek. Bisa ngomel seharian Mama," Rena melepas tangan James dan mendekati Reno.
"Ga bakalan ngadu kalau di beliin sepatu merek Niki," gertaknya.
"Dek, itu kan mahal, Kakak mana punya uang," Rena memelas.
"Jutaan doang, Kak. Kak James kan kaya," Reno mengarahkan pandangannya ke James. James cuma tersenyum simpul tanpa komentar sedikitpun.
"Kau memang keterlaluan, Reno. Aku tak mau!" mata Rena molotot marah.
__ADS_1
"Kalau begitu, akan aku adukan Mama, mumpung Mama lagi masak,"
"Mama!" Reno berbalik dan berlarian ke arah dapur menemui ibunya.
"James gima... na,"
"James...?"
Dalam hitungan detik James menghilang dan Rena mencari kebingungan.
Sedangkan di dalam rumah, Reno hampir saja mendekati ibunya, saat ia melihat Ibu sedang memasak, suaranya tiba-tiba menggema.
"Mama!"
Mama yang di panggil menoleh seketika. "Apa?" Mama menatap Reno dengan pandangan curiga.
"Ma, Ka...,"
"Mmmm," mulut Reno seketika menutup dan sulit di gerakkan. Ia pun seperti ketakutan. Mama yang melihatnya hanya menghela nafas dalam dan melanjutkan pekerjaannya .
Reno akhir nya berbalik dengan segudang tanya dalam benaknya. Ketakutan teramat sangat ia rasakan. Bagaimana kalau selamanya ia tak mampu bicara?
Tak lama, Rena masuk ke rumahnya dan mendekati Reno di ruang tamu, ia sesenggukan di ujung ruangan. Seketika hati Rena berdetak kencang. Ada apa dengan adiknya?
"Reno... Ren, ada apa, Dek?" Rena menyentuh pundak Reno dan membelainya pelan.
"Kak, aku ga bisa bicara. Mulutku seperti ada yang bekep, aku takut ga bisa ngomong seumur hidup," Reno nyerocos.
Rena menatapnya heran, tapi, sepersekian detik kemudian dia paham, ini pasti kerjaan James. Rena terkekeh geli.
"Hei, barusan itu suara apa?"
"Kak, aku ..., eh iya dah bisa ngomong, Kak!" Reno berteriak girang.
"Makanya Dek, jangan resek. Itu azab, tauk!" Rena menahan tawanya. Ia benar-benar puas melihat Reno ketakutan seperti tadi. Padahal awalnya Rena amat kesal dengan kelakuan Reno yang suka seenak hati seperti tadi. Pengadu dan suka mengancam.
"Kak, apa tadi itu hantu?"
"Ya, bisa jadi,"
Wuzzhh!
Tiba-tiba angin lembut menghembus di tengkuk Reno membuat pemuda itu bergidik dan menyentuh tengkuknya.
Matanya memancarkan ketakutan yang teramat sangat saat netranya menangkap benda yang terbang sendiri di belakang Rena. Kakinya gemetar.
"Ka... Kakak... i... itu...,"
"Aaa!"
"James!"
***
__ADS_1