
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_96
#by: R.D.Lestari.
"Aww!"
Karena berjalan sambil merunduk, dengkulku tak sengaja menyentak kursi, rasanya ngilu dan sakit, hingga membuatku mengerang.
"Sri,"
Krrettt!
Pak Gio menggeser kursinya dan berjalan tergesa mendekatiku.
Ia menyentuh kakiku dan terasa hangat dalam hatiku. Ia menarik kursi yang ada di sampingku dan mendudukkanku pelan.
"Kau terluka, Sri. Kakimu memar," Pak Gio berbicara tanpa menatap ke arahku. Pandangannya hanya tertuju pada kakiku yang memar. Sakit, tapi tetap kutahan.
"Aku ambil obat dulu, kotak P3K ada di sudut sana," Pak Dosen hampir saja berdiri tapi ku tahan.
"Tak usah, Pak. Saya sudah terbiasa dengan luka. Dan ini belum seberapa," tolakku getir.
"Sri, ayolah. Jangan mulai, aku tau aku salah, tapi sesungguhnya aku tak bermaksud untuk menolak dirimu dan perasaanmu,"
Aku tak bergeming. Apa pun yang ia ucap tak ada artinya lagi bagiku, bukankah sudah ada Hans yang akan menggantikan posisinya dihatiku?
"Jadi, benar. Nama lelaki tadi itu Hans!" tiba-tiba Pak Gio mengarahkan pandangannya ke wajahku. Ia mendongak dan menatapku tajam.
"Dari mana Bapak tau tentang Hans? sedikit pun aku tak pernah menyebut namanya," aku berkilah.
" Pasti Rena," batinku.
"Bukan Rena. Aku tau semua tentangmu, Sri. Aku tau,"
Degh!
Lagi-lagi Pak Gio seolah tau apa yang ada dalam pikiranku. Aku terpaku saat tangan Pak Gio menyentuh punggung tanganku. Aku tersentak dan menariknya, tapi tenaga Pak Gio terlalu kuat.
"Saya mohon, Pak. Jangan seperti ini. Nanti orang-orang akan mencibir dan karier Bapak bisa hancur,"
"Sri, aku rela karierku hancur, asal kamu mau memaafkan ku, aku sepertinya jatuh cinta padamu,"
Cup!
Pak Gio mencium punggung tanganku lembut. Aku terkesima melihat ungkapan perasaannya, tapi aku juga sakit hati padanya. Aku ingin balas dendam.
__ADS_1
"Jangan, Sri. Jangan balas dendam denganku, sungguh aku menderita saat jauh darimu,"
"A--apa maksud Bapak?"
"Aku bisa membaca semua yang ada pada otakmu itu, bahkan aku bisa dengan mudah memeluk tubuhmu," Pak Gio menyeringai menyeramkan.
"Ah, omong kosong apalagi ini. Jangan ngomong yang aneh-aneh, Pak. Aku tak berminat mendengarnya,"
"He-he-he," Pak Gio beranjak dan melangkah mendekati meja kerjanya.
"Bukankah dirimu tidur nyenyak hari ini? tidur dalam dekapan seorang lelaki yang kami panggil 'Pak Hantu'?"
"A--apa?"
"Sial*n! apa-apaan ini! dari mana ia tau semua tentang diriku?" batinku.
"Hussst, gadis cantik seperti dirimu tak boleh mengumpat," Pak Dosen mengulum senyum sembari bersandar di meja kerjanya.
Tap-tap-tap!
Pria tinggi itu melangkah ke arahku, aku gelisah mendapat pandangan tajam darinya. Mata biru bak air laut serta rahang tegasnya menimbulkan gelanyar halus di tubuhku.
Tap!
Kedua tangannya mencengkeram kursi, ia merunduk dan wajahnya hanya sekilan dari wajahku. Matanya tajam seolah ingin memangsaku. Matanya yang indah bergerak menatap satu per satu mataku secara bergantian.
Dug-dug-dug!
"Apa kau tau siapa Pak Hantu, itu? siapa yang memeluk tubuhmu dan menjagamu semalam suntuk?"
Aku terdiam. Bibirku gemetar. Kenapa Pak Gio bisa tau semua tentangku? siapa dia sebenarnya ?
"Aku, aku yang sudah memelukmu dan menciumi lehermu dengan cinta. Aku begitu merindu dirimu dan wangi tubuhmu yang wangi floral. Kamu ... kamulah gadis pertama yang berhasil mengobrak-abrik hatiku, Sri,"
"Pak, jangan katakan omong kosong apa pun. Tak ada siapa pun di kamarku, dan aku yakin itu juga bukan kamu," sanggahku.
"Kau jangan bohongi hatimu, wangi tubuhku tak akan bisa bohong, akulah Pak Hantumu itu,"
Wajah Pak Gio semakin mendekat. Aku gemetar menahan hasrat yang lama terpendam.
Tangannya yang tadi mencengkeram kursi kini beralih membingkai wajahku.
"Sri, apa sebegitu bencinya kamu padaku? bukalah matamu lebar-lebar,Β dengarkan kata hatimu, Sri. Apa tak ada lagi cinta di sana?"
Jujur, hatiku sakit. Aku egois, ya, aku egois. Aku ingin kamu! aku ingin cintamu! aku ingin ragamu! tapi aku benci mengakui itu, aku benci!
Cup!
Ia menarik tengkukku hingga bibirnya menyentuh lembut dan dalam. Awalnya aku ingin berontak, tapi rasa manis dan emosi yang membuat rasa indah itu menyatu sempurna.
__ADS_1
Ia memperdalam ciu***nya hingga tubuhku gemetar. Mataku menutup menikmati inci demi inci sentuhan lembut bibirnya yang manis, kenyal dan basah.
Tanganku meremas kerah bajunya. Cukup lama bibirnya menempel tanpa mau sedikitpun ia lepaskan hingga rasanya aku kehabisan nafas.
"Hhhh," nafasku tersengal saat ia menghentikan ciu***nnya. Matanya masih bersinar saat mataku kembali membuka.
"Maaf, Sri, a--aku ...,"
"Mmm,"
Aku tak membiarkan ia mengucap sepatah katapun, kembali ku kecup bibir tipisnya yang dengan penuh gelora. Menarik tengkuk lehernya hingga ia terengah. Sebuah hukuman untuk lelaki angkuh seperti dirinya. Lelaki yang dengan tegas menolak diriku, dan kini ia bertekuk lutut meminta pengampunanku.
"Ya, kau pantas dapatkan itu. Aku tak apa jadi budak cintamu, asal kamu mau memaafkanku," Pak Gio menatap teduh mataku. Kami bersitatap cukup lama.
"A--aku ...,"
Astaga, apa ini? apa yang sudah kuperbuat ? aku ... aku ...
Ya, Tuhan... dadaku bergemuruh kencang. Tak dapat menahan gejolak dan rasa suka yang teramat dalam.
"Sri, jangan bohongi perasaanmu," Pak Gio mengusap airmataku yang sejak tadi luruh tanpa ampun.
"Aku tau rasa di hatimu, aku tau semua isi pikiranmu, aku tau Sri, aku tau,"
"Kembalilah Sri, kembali cintai aku seperti dulu. Aku amat memujamu, Sri. Tubuh mu, wajahmu, suaramu, itu milikku. Hanya milikku,"
"Aku bisa gil* Sri jika melihatmu dengan lelaki lain,"
"Tapi, Pak ... kariermu,"
"Aku tak mengapa karierku hancur, dan kamu... aku pastikan kamu akan tetap kuliah. Aku akan membiayai semua keperluanmu. Aku kaya, Sri. Bukan cuma kaya, tapi sangat kaya. Semua itu akan jadi milikmu, milikmu,"
Aku terkesiap mendengar ucapan Pak Gio. Aku merasa ia tak perlu seperti itu. Aku bukan cewek matre. Aku mencintainya apa adanya. Cintaku tulus untuknya .
"Tidak, aku tidak perlu itu. Kita bisa merahasiakan hubungan kita, hanya aku dan Bapak. Tak perlu orang lain tau,"
"Aku hanya ingin kamu jujur padaku. Siapa kamu sebenarnya?"
"Kenapa Bapak bisa masuk ke kamarku tanpa bisa ku lihat?"
Kulihat sorot mata Pak Gio berubah tajam. Keningnya mengernyit dan alisnya menyatu. Seolah ada yang ia sembunyikan dariku. Aku benar-benar penasaran siapa sebenarnya sosok lelaki yang kucintai ini?
Ia sangat misterius, aku yakin apa yang ia ucapkan itu bukan bualan semata. Aku merasakannya, saat bersama dengan Pak Hantu punya rasa yang sama seperti saat bersama Pak Gio.
"Aku ...,"
...οΏΌ
...
__ADS_1
****
Haiii readers tercinta, terimakasih sudah mampir di Cerita saya ππjangan lupa like n komennya biar lebih semangat upload ππππ