
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_77
# by: R.D.Lestari.
"Indri... tunggu...!"
Namun, gadis itu tetap berlari tanpa menghiraukan panggilan pemuda idamannya itu. Hatinya hancur. Dan saat itulah awal perpisahan abadi antara Ikhsan dan Indri. Karena sejak itu Ikhsan seolah hilang bak di telan bumi. Indri pun tak pernah mencarinya. Mereka benar-benar terpisah tanpa pernah mengucap kata 'selamat tinggal'.
***
Aku termenung seraya menyusui Stella yang kala itu amat manja padaku. Bocah kecil itu seolah enggan membiarkan aku sebagai ibunya untuk pergi barang sekejap.
Matanya yang bulat dan bersinar tak jua mau ia katupkan. Asik bermain dengan rambutku yang tergerai, memilin dan menariknya perlahan sembari terkekeh riang.
Hari sudah beranjak siang. Sebagai bos besar dari perusahaan yang aku dirikan, aku memang punya tanggung jawab besar. Apalagi akulah yang selalu mengecek semua tokonya tanpa terkecuali.
Aku menenggelamkan diri pada kesibukan untuk melupakan sedikit rasa rindu yang teramat dalam pada suami tercinta, yaitu Bima.
Hampir dua tahun, aku hanya mendapat kabar via mimpi dari Anima, adik ipar di Uwentira. Sekarang, mereka tak bisa main-main pergi dan pulang dari dunianya ke duniaku . Berhubung banyaknya warga Uwentira yang jatuh hati dan banyak warga pribumi yang ternyata hanya memanfaatkan manusia dari kota Uwentira. Walaupun ujung-ujungnya mereka gila, tapi kemudian warga Uwentira tak bisa beranak pinak karena dalam prinsip mereka menikah hanya sekali. Jika ada salah satu yang pergi atau berkhianat, mereka akan memilih sendiri abadi.
Pikiranku melayang saat pertama kali melihat Bima kala itu. Bima yang bak pahlawan menolongku dari ketersesatan di dalam hutan. Seketika itu pula mengingat saat ....
Aku sempat merasa dag-dig-dug saat akan memasuki ruang makan bersama pelayan yang sejak tadi setia menunggu.
Krietttt!
"Silahkan masuk, Nona," ia membuka pintu dan mempersilahkan ku masuk.
Aku mengangguk dan dengan kaki yang gemetar berusaha masuk ke dalam ruangan dengan jantung yang berdenyut kencang.
Bola mataku membesar sempurna, apa yang aku pikirkan sungguh jauh berbeda . Tak banyak orang di dalam ruangan. Hanya seorang lelaki duduk membelakangiku. Tubuh nya yang tegap menatap meja indah dengan lilin , bunga mawar dan makanan enak.
"Ini , makan malam berdua?" gumamku.
Srekkk!
Ia bangkit dan menggeser kursi. Berbalik dan menatapku dengan senyum yang amat manis.
Lelaki itu ... Aku hampir terjatuh melihat ketampanannya yang amat sempurna. Ternyata jika memakai baju biasa, aura ketampanannya sungguh luar biasa.
"Ayo, makan bersama. Aku sudah menunggumu lama," ucapnya seraya meraih tanganku . Harusnya aku menepis tangan itu. Namun , entah kenapa aku menurut saja seperti terhipnotis dengan ketampanannya.
__ADS_1
"Indri, makan. Kamu pasti suka," ia menawarkan makanan yang tersedia di atas meja. Ada steak,udang goreng, daging sapi barbeque,salad,roti-roti, buah-buahan segar dan mahal.
Aku mencoba beberapa menu yang sukses membuat lidahku bergoyang karena kenikmatan rasanya.
Lelaki tampan itu nampak senyum-senyum melihatku yang kalap menikmati makanan nikmat tanpa memperdulikannya.
"In...," ia mengulurkan tangannya. Tubuhku seketika beku. Mau ngapain dia?
Kurasakan usapan lembut tangannya di dekat bibirku.
"He-he-he, kamu makan nya belepotan," ia terkekeh. Wajahku berubah merah padam. Beruntung ruangan temaram karena hanya di sinari beberapa lilin sebagai pemanis.
"Terimakasih, Pak Bima," ujarku. Wajahnya tampak amat tampan terkena cahaya lilin.
"Aku belum terlalu tua, oia berapa umurmu?" ia menyunggingkan senyumnya.
"Dua puluh satu," sahutku.
"Aku dua puluh enam. Kita terpaut hanya lima tahun," ucapnya.
"Jadi saya harus panggil apa?" mataku memutar, bingung.
"Kakak aja, lebih nyaman di dengar," ia memundurkan tubuhnya dan bersandar di kursi.
"Iya, Kak Bima," lirihku.
Aku salah tingkah. Mau jawab apa? kalau bilang masih jomblo, malu-maluin ga ya?
"Mmm, belum Kak,"jawabku.
"Owhh, ya-ya-ya," ia manggut-mamggut sambil senyum-senyum.
"Saya sudah kenyang, Kak. Boleh saya kembali ke kamar," aku beranjak dan menggeser kursi, bersiap untuk kembali ke kamar.
"Ayo, aku antar," tawarnya. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan beriringan denganku menuju kamar.
Hatiku bergetar hebat ketika ia di sampingku. Tubuhnya yang tinggi dan atletis membuatku kagum. Tampan dan juga wangi tubuhnya membuatku berandai-andai. Jika punya suami setampan ini, pasti aku tak akan pernah bisa jauh-jauh. Nguwel-nguwel di keteknya pasti asik.
Aku sempat meliriknya, hidung dan matanya serta kulit putihnya memang mempesona.
Dugh!
"Aww!"
Karena asik menatap wajahnya, aku tak menyadari jika kakiku menyandung sesuatu hingga tubuhku limbung dan jatuh ke lantai.
"In, kamu tak apa-apa?" serta merta Bima membantuku berdiri. Aku meringis kesakitan.
__ADS_1
"Te--Terima kasih, Kak," ucapku pelan. Ia mengangguk dan kami melanjutkan langkah menuju kamar.
~"~
"Hmmh, aku menghela napas dalam. Benar-benar amat merindukan Bima dalam dekapan. Moment indah saat bersamanya masih terekam indah dalam ingatan. Sekilas ku alihkan pandangan pada Stella, bocah kecilku yang asik menyusu. Matanya mulai menutup dan napasnya juga teratur, pertanda ia mulai terlelap.
Pluk!
Tangannya terlepas dari dadaku dan bibir mungilnya mengeluarkan bunyi dengkuran lirih yang menggemaskan.
Cup!
Ku kecup pipi gembul dan kening putihnya. Setelah itu aku beranjak dari ranjang dan menyiapkan diri untuk ke kantor. Seperti biasa, menjalankan rutinitas sebagai bos tunggal dari Stella Mart dan Stella Swalayan, yang punya dua puluhan cabang tersebar di setiap sudut kota di Sulawesi.
Tap-tap-tap!
Aku melangkah pasti menuju mobil Pajero putih kesayanganku. Setelah berpamitan dengan Ibu dan juga Ayah, aku dengan tergesa masuk ke dalam mobil dan segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan padat kendaraan dan memacu waktu. Hari sudah siang dan aku sudah sangat terlambat.
***
Seseorang yang amat ku kagumi kini datang, hatiku amat sangat bahagia bisa melihat raut wajah cantik nya yang sedari SMA sudah melekat dalam hati hingga ke alam bawah sadar.
Indri, bos muda yang dulu pernah menjadi kekasih hatiku. Kini ia kembali berada dalam lingkaran hidupku, dan selama hampir satu tahun ini kembali mengisi relung hatiku.
Namun, kini ia amat berubah padaku. Mungkin karena terlalu sakit hati atas apa yang dilakukan orang tuaku dahulu, begitupun aku yang memang dulu meninggalkannya tanpa mengucap kata perpisahan.
Saat itu aku masih pemuda yang labil. Menganggap cinta mudah hilang. Nyatanya, sudah bertahun lamanya dan puluhan wanita yang sempat datang, tak ada satupun yang bisa menarik perhatianku, apalagi cintaku. Semua bagai angin lalu.
"Selamat pagi, Bu," sapaku saat wanita itu mendekat ke arahku. Selalu tak pernah ada jawaban darinya. Ia terus melaju seperti biasa mengacuhkanku, dan aku cuma bisa mengulas senyum kecut. Walau ia dulu pacarku, tapi sekarang dia adalah mantan dan juga bosku. Aku bisa apa selain mengelus dada dan sabar.
"Sombong ya, Bos kita?" Dion, temanku berbisik tepat di telingaku.
"Hussst, jangan sembarangan. Dia bos kita,"sahutku.
"Lagian, cari muka sih, loe," Dion mengejekku.
"Bukan gitu, dia kan bos kita, Yon," aku berusaha menepis pikiran buruknya. Bagaimanapun mencari kerjaan sekarang susah. Sayang jika salah kata di pecat. Mantan ya mantan, perut juga butuh makan. Cinta mah nomor sekian.
"Cih, sok alim kamu. Kalau aku mah males negur bos sombong begitu. Menang cantik aja dia, makanya dapat suami kaya. Lagian, aneh, suaminya ga pernah kelihatan. Apa dia hanya seorang simpanan?"
"Kamu ... astaga...," aku berdecak kesal.
"Ehm, ehem,"
***
__ADS_1