SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_107


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_107


#by: R.D.Lestari.


    Semenjak semalam aku berusaha menghubungi Hans, tapi nampaknya lelaki itu sudah benar-benar sakit hati karena penolakannku. Tak mengapa. Aku tau ini adalah resiko dari sebuah pilihan yang aku jalani.


     Aku menggapai tas ransel yang ku taruh di atas nakas. Berjalan cepat tanpa mengindahkan suara Nenek yang memanggil saat melihatku terburu-buru.


   Tok-tok-tok!


   Dengan tangan yang gemetar aku mengetuk pintu rumah Bibi Hans. Berharap masih bisa bicara sebelum ia benar-benar pergi. Berada di antara dua pilihan itu sulit. Seberapapun cintanya aku pada Gio, separuh hatiku masih ada pada Hans. Hans yang tampan, selalu menemani mimpi indahku beberapa tahun silam.


   "Ya?"


   Wajah seorang wanita paruh baya menyembul dengan kening mengkerut melihat kedatanganku. Dialah Minah, Bibi Hans.


  "Sri? ada perlu apa pagi-pagi datang ke sini?" tanyanya penuh selidik.


  "Apa Hans masih ada di rumah, Bi?"


   "Mau apa lagi ketemu sama Hans? bukannya kamu sudah menolaknya?" gumam Bi Minah, menatapku dengan ketidaksukaannya. Ia sepertinya marah padaku.


    "Ya, aku cuma ingin ketemu untuk yang terakhir kali, Bi. Setelah itu aku janji tak akan mengganggunya lagi," mohonku.


    "Hmmh, kenapa kamu masih dingin bertemu dengan Hans? masih bimbang? ingat jangan bermain api, Sri! mereka punya perasaan sama halnya seperti dirimu," Bi Minah menatapku tajam dengan suara penuh nada penekanan.


   Aku menelan saliva susah payah. Sulit untuk mengungkapkan apa yang berkecamuk di dalam hati.


   Padahal aku sudah memilih Gio, tapi kenapa sangat sulit untuk melupakan Hans? ada apa dengan hatiku?


    Tuhan... dalam lubuk hatiku aku pun tak mau mendua. Aku tak mau berada dalam dua pilihan. Hatiku sakit, perih. Cinta ini benar-benar membuatku jadi gil*.


   "Aku mohon, Bi. Ijinkan aku bertemu dengan Hans sekali ini saja," susah payah aku meredam perih dalam dada dan air mata yang mendesak ingin keluar.

__ADS_1


   "Hans, baru saja berangkat ke Terminal. Mungkin ia sudah sampai. Kamu taulah ke mana tujuannya," Bibi menghela napas dalam.


    "Terima kasih, Bi," jawabku sumringah.


   Tanpa membuang waktu, aku pamit dan berlari mencari kendaraan untuk bisa menuju terminal.


   Sempat terasa seperti ada yang memperhatikan gerak-gerikku, tapi aku tetap melanjutkan perjalanan tanpa mau menoleh, aku hanya ingin mengejar waktu sebelum akhirnya aku benar-benar melupakan dan kehilangan Hans untuk selamanya.


***


   "Sri ...!"


   Aku tersentak saat sebuah mimpi buruk tiba-tiba hadir mengganggu tidurku.


    Bayangan Sri pergi bersama Hans membuyarkan kantuk dan membuat hatiku berdegup kencang.


     Aku berusaha memfokuskan pikiran. Berharap apa yang aku pikirkan hanya sebuah mimpi buruk belaka.


    Samar kulihat Sri berlari terburu-buru, ia kemudian berhenti di sebuah rumah kayu yang cukup megah dan kokoh. Mengetik pintunya berkali-kali hingga seseorang keluar dengan wajah yang masam.


   Berulang kali Sri mengucap nama Hans. Apakah itu rumahnya Hans? dan siapa wanita yang nampaknya amat kesal melihat wajah Sri?


   Benar saja, saat kakiku menjejak di tanah dekat rumahnya, jelas kulihat wajah Sri yang seperti orang bingung. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. Baru saja aku ingin mendekat, sebuah motor mendekat ke arahnya dan ia pun naik dengan tergesa.


   Aku berlari mengejarnya dengan tubuh transparan setara dengan kecepatan motor yang kini melaju amat kencang. Entah mau ke mana Sri saat itu. Ia seperti di buru waktu.


   Motor itu akhirnya berhenti di gerbang Terminal Bus. Gadis yang amat kucintai itu berlari kencang . Beberapa kali ia terseok dan hampir saja jatuh, tubuhnya sedikit limbung, tapi ia tetap berlari dan tak perduli.


   Ia menaiki satu demi satu Bus, wajahnya amat sedih dan rasa kekecewaan tersirat jelas di wajah cantiknya.


   Aku hanya memandangnya dari jarak yang sebenarnya dekat. Namun, aku tak ingin menganggu dirinya. Anehnya, sedikitpun aku tak bisa melihat dan mendengar apa yang saat ini ia pikirkan.


   Dengan langkah gontai, Sri akhirnya berjalan ke arah bangku panjang tempat penumpang menunggu.


   Ia tertunduk lesu dengan air mata yang berderai. Sebenarnya apa yang ingin ia cari? apa ia mencari Hans?


   Jantungku berdebar kencang saat seorang lelaki berjalan gontai ke arahnya. Lelaki itu memakai topi dan ia mengulurkan tangan membelai mahkota Sri yang tergerai.

__ADS_1


   Gadisku serta merta mendongak dan memeluk sosok lelaki yang kuyakini itu pasti Hans.


   Nyeri, perih dan sakit saat netraku menangkap kemesraan mereka saat ini. Sebenarnya apa mau Sri ini? bukankah kemarin jelas-jelas Sri memilihku dan menolak Hans? apa ia kembali diliput kebimbangan?


***


"Hans... syukurlah kau datang," sembari terisak aku menyentuh tangan Hans yang saat ini membelai lembut kepalaku.


Aku segera bangkit dan memeluk tubuhnya erat. Sedih, teramat sedih berpisah dengannya untuk yang kedua kali karena mungkin ini jugalah hari terakhir dan tak akan ada perjumpaan berikutnya.


Aku sadar bahwa pilihanku saat ini tentunya akan mengubur semua kenangan manis bersamanya. Karena aku tak mungkin mendua.


"Sri, kenapa ke sini?" tanyanya.


"Kau tega, Hans. Tak membiarkan diriku mengucap kata perpisahan untukmu. Kau tau, Hans. Kau sangat berarti untukku," isakku.


"Untuk apa, Sri? untuk membuat lukaku semakin dalam? membiarkanku larut dalam cinta yang tak berarah?"


"Aku minta maaf, Hans. Setidaknya ijinkan aku untuk bertemu denganmu sekali ini saja. Dan melepas kepergianmu tanpa rasa sesal," aku menggenggam tangannya dan menatap wajah sayu itu dengan penuh arti.


Ia mengangguk dan mencium keningku lama. Ada kehangatan yang menjalari tubuh dan relung hatiku. Seolah aku rindu dengan kecupan itu. Kecupan di kening yang tak pernah ia berikan.


"Berbahagialah, Sri. Maaf aku terlambat datang dan mengungkap perasaan saat dirimu sudah jatuh cinta pada yang lain,"


"Terima kasih, Hans. Maafkan aku sudah menyakiti hatimu. Ketauhilah, jauh di dalam lubuk hatiku, kamu tetap seseorang yang istimewa," ucapku tulus.


Hans menyeka air mataku pelan. Ia kembali membelai lembut rambutku.


"Aku harus pergi, Sri," pamitnya. Ia kemudian berbalik dan melangkah menjauhiku seraya melambaikan tangannya. Saat kakinya mulai melangkah masuk ke dalam Bus yang bersiap berjalan meninggalkan Terminal.


"Aku sayang kamu, Sri," ujarnya lantang di dalam Bus.



Aku hanya mengangguk dan kembali melambai ke arahnya. Berdiri terpaku sampai Bus yang membawa Hans perlahan hilang dari pandangan.


__ADS_1


"Selamat jalan, Hans. Maafkan aku," lirihku sembari menyeka air mata yang jatuh.


****


__ADS_2