SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part 12


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_12


#by: R.D.Lestari.


"Eh, iya, Kak. Bukan gitu, Kak. Orang-orang di sekitarku ngomong begitu," pungkasku.


"Kamu itu In, jangan dikit-dikit percaya gosip. Mereka ga tau aja kalau ada kota seindah Uwentira. Kamu juga belum masuk ke pusat kota aja udah begitu takjubnya, 'kan?" Bima menoleh ke arahku. Kali ini tanpa ekspresi dan tanpa senyum sedikitpun.


Glek!



Aku menelan ludah. Merasa salah tingkah. Ga enak dengan pikiran yang sejak tadi berkecamuk di pikiranku.


Pandanganku sekarang tertuju pada gerbang besar berlapis emas dan kristal. Uwentira. Kota gaib yang selama ini di gadang-gadang orang di sekitarku. Apa ini yang mereka maksud?


Baru saja memasuki gerbang mataku bak di suguhkan pemandangan yang menakjubkan. Di samping kiri dan kanan jalan berjejer rumah mewah dengan ornamen bertahtahkan emas, intan dan berlian. Penduduk di sini pun terbilang gagah-gagah dan cantik-cantik. Kegiatan mereka sama seperti dengan warga di kampungku pada umumnya. Membuka warung, berternak, momong anak. Ya, tidak ada yang beda dengan manusia pada umumnya.


"Kamu lihat sendiri, kan, In. Kaki mereka semua menapak di tanah. Mana ada hantu yang bisa menginjak tanah!" ada penekanan di nada bicara Bima. Apa ia masih marah padaku?


Brummm!



Mobil masih menderu pelan. Tak lama mobil berbelok ke kiri jalan dan masuk ke halaman yang cukup luas. Di halaman itu terdapat taman dengan gazebo, kolam ikan juga tanaman bunga beraneka warna.



Bima membuka pintu mobil dan mengajakku turun. Perlahan ku injakan kakiku ke tanah yang mereka sebut tanah keramat itu.


__ADS_1


Lagi-lagi lidahku berdecak kagum melihat kemolekan rumah megah berlapis emas dan kristal di hadapanku.



"Ayo, masuk, In. Ini rumah Kakak. Anggaplah rumah sendiri dan jangan canggung," kali ini Bima tersenyum ramah dan mempersilahkan ku masuk.



"Assalamualaikum," sahutku.



"Waalaikumsalam," seseorang menyahut dari dalam. Seseorang berjalan mendekatiku, gadis yang teramat cantik, mungkin kisaran tujuh belas tahunan. Ia menatapku heran tapi senyum tak lepas dari bibirnya.



"Mari masuk, Kak. Ini pasti Kak Indri, 'kan?" ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.



"Kok dia tau? padahal aku baru sekali datang ke sini," batinku.


"Ya, taulah. Kak Bima sudah berulang kali bercerita tentang Kak Indri. Dan Kak Bima benar, Kak Indri memang sangat cantik," ucapannya kontan membuatku malu karena pujiannya itu.



"Eh, Dek. Jangan bongkar kartu di sini, dong ," Bima menyentil hidung si Adik yang hanya cengengesan mendengar ucapan Kakaknya.



"Ayo, Kak In. Kita makan dulu. Kebetulan Ibu dan Ayah sudah menunggu di meja makan," gadis itu menarik tanganku pelan.



"Eh, ada orang tua Kak Bima? aku harus bagaimana?" batinku gelisah.

__ADS_1



"Ga usah bingung, Kak. Orang tua kami amar baik, kok," sahut gadis itu.



"Ah, lagi-lagi pikiranku terbaca. Auh, tengsin aku!" aku menepuk jidat. Bima hanya terkekeh melihat tingkahku.



"He-he-he, sudah jangan bingung. Ibu dan ayahku pasti suka padamu, seperti adikku yang manis ini," lagi-lagi Bima menjawil hidung adiknya yang di bales pukulan pelan adiknya.



Aku tersenyum simpul melihat tingkah Kakak beradik di hadapanku. Mereka sungguh akur. Apakah orang tua mereka juga seramah ini?



Rumah ini kelewat besar, menurutku. Perabotannya terkesan elegan dengan dominan warna emas. Karpet-karpet halus dan tebal membentang dengan berbagai motif. Kursi yang di ukir dengan motif burung dan bunga. Keramik pun seperti berisikan emas dan berlian. Mengkilap dan bersinar.



"Aku yakin mereka ini semua sultan ," bisikku


***


"Ayo, mari, ikut makan bersama kami," Seorang wanita yang wajahnya glowing melambai ke arah kami. Amat cantik. Tatapannya teduh dan bersahaja.



"Itu ibuku ," bisik Bima tepat ditelingaku.



"Serius itu ibunya Kak Bima? cantik bener," batinku. Kakiku gemetar melangkah dan ...

__ADS_1


__ADS_2