
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_16
#by: R.D.Lestari.
Mataku terbelalak ketika sebuah motor mahal berwarna merah telah terparkir di teras rumah beserta salesnya.
"Kamu pesen motor, In?" tanya Ibu. Mata nya melotot melihatku. "Siapa yang mau bayar?untuk uang kuliahmu saja Ibu sudah susah!" hardik Ibu.
"Ng--nggak, kok, Bu," aku terbata karena memang aku tak pernah memesan barang apa pun, apalagi motor. Aku cukup tau diri siapa aku dan keluargaku. Kami hanya keluarga sederhana yang untuk makan sehari-hari kadang susah.
"Selamat siang, Bu. Kami dari dealer Panca Motor Sakti datang membawa pesanan motor matic warna merah untuk Ibu Indri, motornya sudah di bayar lunas dan nama pembelinya di rahasiakan, silahkan di terima Bu," sales berpakaian hitam itu menyerahkan kunci motor padaku.
Aku terkesiap, begitu juga Ibu. Ku terima kunci motor itu dengan tangan gemetar. Siapa sebenarnya yang sudah mengirim motor ini?
***
Bapak, Ibu, Nenek dan juga Paman berdecak kagum begitu melihat motor mahal yang sekarang terparkir di ruangan tengah.
Tangan Bapak tak hentinya mengelus motor baru yang mengkilap itu. Motor merah dengan merek terkenal dan yang kutahu di daerahku baru dua orang yang punya, yaitu anak kepala desa dan Ibu lurah. Karena memang motor itu terbilang amat mahal dan tak semua orang bisa memilikinya.
"Luar biasa! kira-kira siapa ya, yang kirim," Bapak mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Kamu bukan jual diri, 'kan , In?" tiba-tiba Pamanku nyeletuk membuat hatiku terasa terbakar karena ucapannya.
"Heh, Paman. Jangan sembarangan nuduh, dong!" aku menyahut marah.
"Iya, tak mungkin Indri jual diri. Dia anak baik," Ibu menimpali, matanya melotot ke arah Pamanku.
"Iya, Bu. Tak mungkin aku menodai kepercayaan Ibu. Indri juga takut dosa, Bu. Indri berani bersumpah tidak tau siapa yang kirim, Bu," aku mulai menitikkan airmata. Tak terima di tuduh macam-macam.
"Ya sudah, kamu tidur aja, dulu. Biar tenang pikiranmu," Bapak melerai perdebatan di antara kami. Dengan masih menyisakan sakit hati akibat tuduhan tak berdasar itu, aku kemudian masuk ke dalam kamar dan kembali beristirahat, hingga tak lama aku benar-benar terlelap.
***
Pluk!
Kurasakan sesuatu seperti menempel di hidungku. Wanginya amat harum. Seperti wangi bunga mawar. Perlahan kubuka mata, benar. Ada setangkai bunga mawar di sampingku saat ini.
Aku langsung bangkit dan duduk. Aku bukan di atas kasur, tapi berada di sebuah sofa panjang di atas gedung.
Bisa terlihat betapa indahnya pemandangan kota di atas sini. Gemerlap lampu warna-warni di setiap tempat. Pemandangannya sangat mirip kota-kota metropolitan di luar negeri. Sungguh menakjubkan.
"Sudah bangun, In?" suara yang sangat aku hapal itu kini berbisik di telingaku. Seketika aku menoleh dan menatapnya takjub.
__ADS_1
Bima, pemuda tampan yang beberapa hari ini selalu datang kepadaku. Kali ini ia memakai baju kemeja hitam dengan kancing yang sengaja terbuka di bawah dada , memamerkan lekak lekuk sisi maskulinnya .
Ia menangkupkan kedua tangannya di wajahku. Mata nya yang biru bak air laut menatap dalam ke mataku lekat. Senyuman indahnya membuat hatiku tergetar. Ia begitu dekat, hatiku seketika terpikat. Deru napasnya terhembus wangi. Betapa indahnya pemandangan di depan mataku saat ini.
"Andai saja dunia kita tak berbeda In, aku ingin sekali mempersuntingmu menjadi istriku secepat nya," lirih kata itu dia ucapkan.
"Tapi, sayangnya dimensi kita yang berbeda ini menjadi jurang pemisah di antara kita," ia melepas tangkupan tangannya. Ia beranjak menjauhiku dan menatap jauh ke luar sana.
Aku kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya. Aku tak tau apa yang kurasa dan apa yang aku inginkan, yang kutahu kini aku tak ingin jauh darinya. Pesona Bima memang amat dahsyat.
Tanganku melingkar di pinggangnya dan tubuhku serta wajahku melekat dari belakang. Aku memeluknya erat. Ku ingin dia merasakan betapa kencangnya jantungku berdebar untuknya.
Ia sempat tersentak. Namun, detik berikutnya ia menggenggam erat tanganku dan berbalik menghadap diriku. Ia merunduk dan tangannya menyentuh daguku, aku menatap matanya lekat ,semakin lama wajahnya mendekat dan ...
Satu kecupan mendarat di bibirku. Seumur hidup aku tak pernah merasakan kecupan sedahsyat itu. Di bawah temaram lampu dan gemerlap lampu warna-warni Bima menyatakan cintanya padaku. Aku bagaikan berada di awang. Bima, terima kasih sudah memilihku.
__ADS_1
"Indri! Indriiii !"