
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_43
#by: R.D.Lestari.
Drap-drap-drap!
Dari arah luar kamar terdengar suara kaki bersahut-sahutan. Terdengar sibuk dan mencurigakan. Indri menghapus airmatanya dan perlahan turun dari peraduan. Melangkah pelan ke arah pintu kamar.
"Gawat! keadaan Bima semakin mengkhawatirkan," lirih terdengar suara seseorang menyebut nama Bima saat Indri mendekatkan telinganya di pintu. Jantung Indri memacu cepat, tubuh nya lemas mendengar kabar suaminya yang berada di ujung kematian.
Dok-dok-dok!
"Lepaskan aku! aku ingin melihat suamiku!" berulang kali Indri mengetuk pintu dan berteriak nyaring agar ada yang membuka pintu.
Senyap. Keadaan tiba-tiba senyap. Tak ada sedikitpun suara. Hanya terdengar deritan ranjang rumah sakit yang bergerak, di bawa entah kemana.
Indri luruh di atas lantai marmer yang saking licinnya, mampu memantulkan wajah sendunya.
"Bima ... kamu harus selamat... aku mencintaimu, Bima...," Indri terisak di atas lipatan tangannya.
Entah berapa lama ia menangis memikirkan Bima, wanita itu akhirnya terlelap. Ia kelelahan.
***
"Akhh, Bima ...," samar kulihat seseorang bersimpuh disampingku, wajah itu buram karena air mata yang masih tersisa.
Tangan kekar itu perlahan menyentuh tubuh dan mengangkatku dalam pelukannya. Aku memejamkan mata karena kepalaku pusing seperti ingin pecah.
__ADS_1
Lelaki itu tak menjawab, hanya aroma wangi yang menguar dari tubuhnya. Wangi yang tak pernah aku cium sebelumnya.
Plukkk!
Ia meletakkanku di ranjang. Perlahan ku buka mata karena pusing yang berkurang. Wajah lelaki itu semakin jelas, raut wajah tegas dengan mata sipit dan alis yang tebal. Ia menatapku dengan tatapan datar.
"Deren?"
"Kau bodo* ternyata ! untuk apa kau menyusahkan dirimu sendiri, hah? biarkan dia mat* dan hiduplah bahagia bersamaku!" jemari Deren bermain di wajahku. Sial! aku tak mampu menangkis tangannya karena memang tubuh yang amat sangat lemah. Aku merasa meriang dan menggigil di sekujur badan.
"Lepaskan aku, Der. Aku butuh bertemu dengan suamiku," aku mengiba meminta belas kasih nya. Aku tau di lubuk hatinya Deren bukanlah orang jahat. Ia hanya termakan hasutan adiknya.
"Dalam keadaan begini? aku yakin kau sakit. Makanya jadi wanita itu jangan bod*h! untuk apa meratapi suami yang akan melupakanmu untuk selamanya?"
"Ayo, bukalah matamu dan jadilah kekasihku,"
Sial. Laki-laki ini berulang kali merayuku. Apakah ia tak tahu betapa besar cinta di dalam hatiku? Bima ... Aku hanya mau Bima seorang.
"Maksud perkataanmu, apa? Bima tak mungkin lupa padaku," sanggahku.
"Menikah? jadi suaminya? tak mungkin! aku masih sah menjadi istrinya!" bentakku. Entah kekuatan apa yang tiba-tiba muncul hingga aku bisa melawan ucapannya.
"Ha-ha-ha, ini bukan duniamu, Indri! kami tak perlu dokumen atau surat sebagai pengikat. Kalau darah sudah tercampur, itu sudah menjadi suami dan istri seutuhnya," Deren terkekeh di hadapanku.
"Sudahlah, lebih baik kau menyerah dan istirahat, aku akan menunggu cintamu, Indri ... gadisku," Deren menyentuh pipiku, tapi segera ku tepis tangan itu.
Aku tak sudi lelaki lain menyentuh tubuh dan kulitku. Aku hanya ingin Bima, suamiku saja yang bisa menyentuh diriku. Tidak yang lain, apalagi untuk lelaki selicik Deren. Jangan mimpi kau Deren!
"Em,em,em! aku mampu mendengar ucapanmu dan membaca pikiranmu , cantik! aku yakin kebencianmu itu akan menjadi cinta. Kamu akan ada dalam pelukanku tanpa kupaksa sedikitpun!" Deren memalingkan wajahnya dan berlalu pergi. Seperti biasa, pintu ia tutup.
"Hufffft!" aku menghela napas panjang dan kembali berbaring. Ku tatap jam yang berada tak jauh dari tempatku berbaring. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Apa benar seperti yang ia ucapkan? Bima akan meminum darah Silva tepat jam dua belas malam? itu berarti ... dua jam lagi!
Aku segera bangkit. Anehnya, kepalaku tak lagi pusing. Benar kata Bima, tubuhku mampu menyembuhkan diriku sendiri.
Klek!
__ADS_1
Ah, Deren lupa mengunci pintu. Ini kesempatanku untuk bisa kabur dan menyelamatkan Bima dari wanita sialan itu!
Krietttt!
Ku buka pintu perlahan, kepalaku menyembul keluar dan melihat kiri dan kanan. Setelah di rasa aman, aku mulai melangkah keluar kamar dengan mengendap-endap.
Seingatku, ruangan Bima berada di ujung koridor . Aku mempercepat langkah karena takut ketahuan. Anehnya, suasana amat sepi, tak ada seseorang pun yang berada di tempat ini.
Sembari berjingkat ku toleh setiap ruangan, mencari suamiku yang hilang. Kosong. Setiap ruangan kosong, se-kosong hatimu yang terpisah dengan cinta sejatiku. Hingga ruangan terakhir di lorong ini, tak ada jejak kehidupan darinya.
Aku menyeka airmata yang tumpah tanpa bisa kutahan. Untuk kesekian kali lara ini seolah enggan pergi. Bima ... di mana engkau berada, Sayang?
Drap-drap-drap!
Kudengar lirih suara derap langkah kaki. Aku mundur dan masuk ke ruangan kosong, bersembunyi di sana sambil mengintai siapa kiranya yang datang.
Siluet bayangan tinggi langsing melewati ruangan yang aku tempati. Dua orang dengan tinggi berbeda berbincang serius, walau lirih tapi terdengar jelas.
"Cepat, naik ke atas ! sudah jam sebelas malam, beberapa penjaga sudah berada di sana, kondisi Bima semakin mengkhawatirkan. Harus segera kita lakukan ritualnya!" suara wanita yang pernah kudengar. Itu pasti Silva .
Drap-drap-drap!
Perlahan derap langkah itu samar dan menghilang. Aku keluar dan mengintai kemana mereka pergi dari jauh. Melewati lorong dan menaiki tangga di ujung lorong,kakiku melangkah pelan dan ...
__ADS_1