
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_104
#by: R.D.Lestari.
Tanpa terasa bulir bening pun meluruh dari pelupuk mata. Tetesan demi tetesan mengalir membasahi pipi.
Pak Gio menyadari kesedihanku, jemarinya yang kekar menyeka airmataku dan kedua tangannya membingkai wajahku. Wajahnya mendekat dan ia pun mendaratkan sebuah kecupan indah. Aku terbuai pada sentuhan yang ia berikan. Lembut, begitu romantis, manis dan semua rasa indah yang sulit di ungkapkan. Tangannya menekan tengkukku dan memperdalam ciumannya, terkadang ia menggigit pelan bibirku, tapi aku begitu menikmatinya. Tak jarang aku pun membalas sentuhannya dengan lembut dan kami benar-benar menyatu di derasnya air hujan.
Dekapannya begitu hangat dan menenangkan. Cukup lama ia memberikan sentuhan indah itu sebelum akhirnya kami saling melepas karena hampir kehabisan napas.
Kembali ia menarik tengkukku dan benda kenyal itu menyentuh bibirku teramat dalam hingga membuat tubuhku gemetar.
"Kau kedinginan, Sri. Maafkan aku, aku teramat dalam mencintaimu," Pak Gio menatap kedua bola mataku secara bergantian. Kehangatan kurasakan dimatanya dan mengalir dalam tubuhku. Ku rasa aku tak perlu ragu dengan cintanya. Dan tak perlu memilih, karena cintaku hanya untuknya. Karena jauh dalam lubuk hatiku, Hans adalah masa lalu, sedangkan Pak Gio adalah cintaku di masa sekarang.
"Aku merasa hangat dalam pelukanmu, Pak. Maaf sudah membuatmu terluka, aku ...,"
Hujan tiba-tiba berhenti,tapi genangan-genangan air di antara rerumputan membuat tubuhku basah karena percikannya.
"Kita pulang? aku rasa malam ini sudah cukup membuatmu basah, kamu bisa sakit, Sri,"
"Udah terlanjur, Pak,"
Aku melepas pelukannya dan berlari dengan sedikit berjinjit, berputar-putar, bermain air di bawah indahnya sinar bulan yang tak lagi tertutup mendung. Seindah inikah cinta padanya hingga membuatku merasa terbang melayang dan tak ingin jauh darinya.
Gio berlari mengejarku dan ikut bermain air bersamaku. Sembari menggenggam tanganku, kami berlari kecil dan sengaja menciptakan cipratan-cipratan air hingga tubuhku semakin basah.
"Heiss," Pak Gio menarik tubuhku dan ...
Klik!
Ia menjentikkan jarinya dan kembali terdengar alunan musik merdu romantis yang menenangkan.
Ia menunduk dan tangannya terukur kepadaku.
"Wahai Ratu cantikku, maukah kamu kembali berdansa denganku?"
"I said, yess My Lord," akupun menekukkan kakiku dan menerima uluran tangannya.
Dan detik berikutnya kami kembali menari di bawah sinar rembulan dan gemericik air, senandung indah diiringi tawa lepas dan senyum yang menghias di wajah.
Slapp!
__ADS_1
Tangan Pak Gio kembali melingkar di pinggangku dan mengepak pelan sayapnya hingga tercipta gelombang angin yang membuat ilalang di sekitarnya bergoyang.
Ctak!
Ia mematahkan satu kuntum bunga berwarna jingga dan menyelipkannya di lipatan telinga.
"You're so beautiful, My Queen," ujarnya seraya mengecup pipiku mesra.
Ah, aku benar-benar terbuai oleh pesonanya. Tampan, romantis, dan bertubuh atletis. Siapa yang bisa menolaknya?
Apalagi dengan sayap indahnya yang mengepak kencang, aura ketampanannya memang tak perlu diragukan.
"Apa kamu tak kedinginan, Pak?" tanganku bermain di dadanya yang bidang. Terasa dingin dan basah.
"Jika berada di sisimu, aku tak akan merasa dingin, karena cintamu memancarkan kehangatan yang membuatku merasa terbakar setiap waktu.
"Hmm, itu pujian atau sindiran? terbakar karena asmara atau terbakar cemburu?" godaku, sedikit mengerlingkan mata ke arahnya. Hingga lelaki berahang tegas tapi manis itu terkekeh mendengar ucapanku.
"Dua-duanya, Sayang. Kamu selalu membuatku melayang karena cinta dan sekejap terhempas karena cemburu yang teramat sangat,"
"Kamu harus berjanji, hanya aku yang ada di hatimu, berjanjilah Sayang,"
Di udara, di atas danau yang memantulkan sinar bulan, Pak Gio memohon tulus akan cintaku. Tak mampu ku tolak karena memang hatiku sudah terpatri padanya.
"My Angel...," ucapnya saat tanganku melingkar di lehernya.
Ia melesat membelah malam yang semakin gelap. Melewati danau dan hutan hingga kembali menjejakkan kaki di tanah yang ditumbuhi rerumputan.
Gerbang gaib antara penghubung duniaku dan dunianya bersinar terang. Pak Gio menarik lembut tanganku masuk ke gerbang gaib.
Aku memejamkan mataku karena sinarnya amat menyilaukan. Seperti awal, hanya dalam waktu kejapan mata, kini aku sudah berada di ambang pintu gerbang.
Shuitttt!
"Soniaaa!"
Kembali, Pak Gio memanggil Sonia, kuda betinanya yang jinak. Derap langkah kaki kuda seketika itu terdengar nyaring di telinga. Ringkikannya membuat bulu kuduk meremang .
Setelah kuda itu datang, Pak Gio mengangkat tubuhku dan ia pun naik ke punggung Sonia. Kuda itu melesat cepat berlari di jalan kecil dengan lincahnya. Naik turun bukit tanpa terseok. Ia memang kuda yang hebat.
"Terima kasih, Sonia. Aku pulang dulu, ya," Pak Gio membelai kepala Sonia dan mengecup kening kuda yang saat ini mendusel manja di tubuh Pak Gio. Ada rasa senang melihat mereka begitu akrab. Berarti Pak Gio memang sosok lelaki yang penyayang.
"Sri, kamu ingin ikut mengelus Kuda cantik ini? ia kuda pintar. Jika hatimu bersih, ia akan senang saat kepalanya di sentuh olehmu,"
"Boleh?" tanyaku ragu.
__ADS_1
"Ya, tentu boleh," sahut Pak Gio sembari menarik kudanya mendekat di sisiku.
Aku mengulurkan tangan yang gemetar ke arah kuda jinak itu. Meskipun agak takut, tapi aku tau jika Sonia tak akan pernah menyakitiku.
Benar saja, kuda itu malah terlihat manja. Ia dengan senang hati menerima belaian tanganku dan sesekali ia mencium pipiku.
"Sepertinya kalian sudah akrab, kamu memang punya hati yang baik, Sri," Pak Gio membelai rambutku.
"Ayo, sekarang kita pulang. Ini pasti sudah subuh,"
"Subuh? apa begitu cepat waktu berlaku? rasanya satu jam pun belum," protesku.
"Ya, kan perbedaan waktu dunia kita, Sayang,"
Aku mengangguk. " Daa, Sonia. Aku pulang ya," aku melambai pada kuda lincah dan cantik itu. Ia meringkuk seperti menjawab ucapanku.
Aku kembali memeluk Pak Dosen yang kini bersiap untuk terbang. Terbang lagi? ya, terbang lagi. Aneh nya aku tak bosan dan malah menikmatinya.
Tap!
Ia menurunkanku tepat di samping kamarku. Bertepatan dengan kumandang suara Adzan.
"Hari ini, liburlah. Setelah solat, tidurlah kembali. Maaf ya, aku menyita waktumu terlalu lama," Pak Gio membelai rambutku.
"Masuklah, dan ingat. Kamu sekarang milikku, jangan lagi main-main dengan Hans, aku tak ...,"
Jemariku segera menyentuh bibir tipis lelaki tampan itu. Aku mengangguk pelan. Bola mataku menyorot padanya, menyiratkan cinta yang teramat dalam.
"Aku janji, tiada ragu di hatiku, Pak Gio,"
"Terima kasih, Sayang. Sekarang masuklah. Jangan lupa ganti pakaianmu yang basah,"
Cup!
Satu kecupan mendarat di keningku. Kecupan indah yang menggetarkan jiwa.
Pak Gio berbalik dan melesat terbang dalam sekejap. Aku menatap nya penuh cinta hingga ia hilang dari pandangan. Masuk ke dalam kamar melalui jendela.
Tubuhku seketika menggigil kedinginan, mengganti pakaian dan beranjak keluar kamar, tiba-tiba ...
__ADS_1