
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_100
#by: R.D.Lestari
POV Sri
"Sri," Hans menghentikan laju sepedanya. Ia memiringkan tubuh nya dan menatapku dalam.
"Untuk hari ini, aku mohon, lupakan dia. Aku berjanji akan membuatmu tertawa dan melepas semua lara, kamu percaya, 'kan?" Hans menepuk pelan dan aku mengangguk.
Hans kembali mengayuh sepedanya hingga ia membawaku ke suatu tempat.
"Hans... astaga...," ucapku seraya menutup mulutku dengan kedua telapak tangan.
Bibirku rasa bergetar saat kakiku menjejak di rerumputan dan melihat pemandangan di depan mata.
Tempat ini ... tempat yang dulu sering kukunjungi bersama Hans. Tempat yang selalu jadi pelipur lara saat sedih dan tempat ini terakhir ku kunjungi saat perpisahan dengan Hans sembilan tahun lalu. Aku terlalu patah hati hingga tak ingin menginjak kan kaki di tempat yang menurutku terlalu banyak kenangan indah bersamanya.
"Hans ... ayok," aku berlari kecil sembari menarik tangannya, bermain di tengah lapangan yang sebagian sudah ditumbuhi ilalang. Sesekali aku berjinjit saat kakiku tergores ilalang dan rumput liar yang tumbuh bebas.
Tempat itu masih sangat asri dan indah. Biarpun sinar matahari bersinar amat terang dan menyengat kulit putihku, aku tetap berlari lincah dengan terus menggandeng tangan Hans.
Sesekali mata kami beradu pandang, dan kulihat senyum terberkas jelas di wajah manisnya.
"Hans, ayo kita main air,"
Aku duduk di pinggiran aliran air yang mengaliri sawah, memasukkan kedua kaki dan mengerjakannya silih berganti.
Kcipak-kcipak!
"Sri, panas. Kamu nanti jadi hitam," Hans menangkupkan kedua tangannya di atas kepalaku. Melindungi dari sengatan matahari.
"Hans, tak apa. Aku bahagia, terima kasih sudah buat aku seneng hari ini," aku mengulas senyum tulus padanya.
"Sri, gadis sepertimu pantas bahagia," Hans membalas senyumanku.
"Eh, Hans. Kami tak perlu seperti ini," aku menampik tangannya yang kini ada di atas kepalaku.
"Tak, apa. Nanti item," Hans bersikukuh.
"Emang kenapa kalau jadi hitam? kamu ga suka?" Aku mencebik.
"Mau kau hitam, tubuhmu gendut, aku tetap suka," Hans bernyanyi dan menciptakan mimik lucu di wajahnya. Membuat perutku terasa geli dan akupun terbahak karenanya.
"Ayo, Sri. Matahari semakin panas menyengat kulit, nanti kulitmu gosong," Hans menarik tanganku dan menyerahkan sepatu yang sempat ku lepaskan saat hendak bermain air.
__ADS_1
"Nih, pake sepatunya. Nanti keinjak duri, sakit," ia tersenyum amat manis padaku.
Aku mengangguk dan membalas senyum hangatnya, perlahan memakai sepatu yang tadi di serahkannya.
Aku menerima uluran tangannya dan berlari kecil ke arah pohon rindang di pinggir lapangan.
"Hhhh, hhh," susah payah aku menarik nafas. Ternyata cukup melelahkan berlarian di tengah teriknya sinar matahari .
Hans terkekeh, butuh beberapa detik hingga akhirnya bisa bernafas kembali dengan normal.
Suasana amat adem di bawah pohon yang amat rindang. Angin berhembus sepoi-sepoi membelai rambut dan kulit tubuhku.
Sesekali Hans menatap ke arahku dan terlihat kikuk saat aku kembali menatap nya. Seolah ada yang sedang mengganjal hatinya.
"Sri ...," lirih ku dengar suara Hans memanggil namaku.
"Ya, Hans...,"
" Aku ... ada sesuatu yang mau aku sampaikan," Hans melenguh cukup keras, seolah ada beban yang kini sedang menghimpit dadanya.
"Sri ... ,"
Aku tercekat saat tangan Hans menggapai tanganku. Sorot matanya hangat dan penuh dengan cinta. Untuk sepersekian detik aku terpana pada matanya yang bersinar dan berkilau.
"Sebenarnya aku dulu menaruh hati padamu, tapi saat itu aku terlalu malu, Sri,"
Degh!
Jantungku berdetak kencang mendengar ucapan Hans yang tiba-tiba.
"Sri, kamu tau apa tujuanku kembali ke kota ini? aku ingin menemuimu, Sri,"
"Aku begitu merindu dirimu, tapi sepertinya dirimu sudah ada yang memiliki," Hans menyentuh rambutku dan membelainya pelan.
"Hans, aku ...,"
"Aku menunggu untuk bisa ke sini. Dan, waktuku tak banyak Sri. Aku tak tau apa aku bisa membuatmu melupakan segala laramu saat ini,"
Aku menunduk. Bulir bening seketika tumpah di ujung mataku. Hatiku perih, teramat perih. Aku menekan tanganku di dada.
Hans... andai bisa kuputar waktu. Aku tak akan membiarkan hatiku terisi cinta yang lain. Seandainya ku tahu kau akan kembali... akh, Hans... semua ini salahku.
"Sri ...," Hans menggapai tanganku pelan. Tatapannya penuh cinta.
Ia mengangkat wajahku dan tangannya membingkai wajahku.
"Sri... kau menangis? kenapa? apa aku menyakiti hatimu?" cecar Hans menatap kedua bola mataku bergantian.
"A--aku ... maafkan aku, Hans,"
__ADS_1
Hans menghela nafas dalam. Jemari Hans menyela air mataku yang tumpah. Menggetarkan jiwaku yang terguncang.
"Jangan kau paksakan , Sri. Aku masih menunggu dirimu,walau tak lama. Jika kau menolakku, aku akan segera pulang,"
"Kau mau pulang, Hans? kapan ?"
"Ya, aku tak lama di sini. Dua minggu lagi aku akan kembali pulang. Selama itu aku akan menunjukkan keseriusanku dengan melamarmu,"
"Oh, Hans...,"
Aku kehabisan kata. Hans, memang tulus kepadaku, tapi tak dapat kupungkiri dalam hatiku menjerit menyebut nama dosenku, Dosen tampanku yang juga mengutarakan isi hatinya padaku.
Aku diapit dua cinta pria tampan dan perhatian. Mereka sama-sama memiliki ruang di lubuk hatiku yang terdalam.
Hans... cinta pertamaku yang penuh dengan kenangan indah, Pak Gio, ia yang selama ini mengisi hatiku dan memberi warna hingga kadang aku menangis dan tertawa karenanya.
Seketika saat ini juga aku di data rasa bimbang diantara dua pilihan. Apa aku egois jika inginkan keduanya?
Di satu sisi aku masih ingin bersama dengan Hans, tapi sisi yang lain aku tak mau meninggalkan Pak Gio.
Akh, saat seperti inipun wajah Pak Gio masih menari di pikiranku. Menimbulkan getaran dan kerinduan yang syahdu.
"Aku ingin pulang, Hans," jawabku. Hans menangguk dan menggenggam tanganku, melangkah beriringan di antara padang ilalang dan hembusan angin yang membelai.
Sesungguhnya alam amat merestui kami, tapi sayangnya saat ini bukan nama Hans yang terpatri di dalam hati.
Hans mulai mendayung sepedanya. Aku masih terdiam dan tak banyak bicara. Hatiku bingung dan diliputi keraguan. Bagaimana kedepannya aku harus bersikap?
Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam , tak banyak berbicara. Asik dengan pikiran masing-masing.
Nafasku rasanya tercekat saat mataku menangkap mobil mewah sedang terparkir di halaman rumah. Aku yakin itu mobil Pak Gio. Ada urusan apa ia bertandang ke rumahku?
Aku tak menyangka ia punya nyali. Biasanya ia masuk ke kamar seperti hantu. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berani menampakkan wajahnya kepada Nenek.
Gegas aku melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengindahkan Hans yang masih penasaran. Ia rupanya mengekor di belakangku.
"Pak Gio?"
Benar saja, walaupun ia memunggungiku, aku tau itu Pak Gio. Lelaki itu berdiri dan menatapku dengan tatapan tajam dan penuh misteri.
"Aku datang untuk kembali meraih hatimu, Sri. Aku tak mau kehilanganmu,"
Belum sempat aku menjawab, Hans yang tadi berada di belakangku berjalan dan kini ia berada di hadapanku.
"Kalau begitu kau harus bersaing denganku. Siapa pun kamu, kita akan berjuang demi cinta Sri," suara Hans terdengar meninggi.
"Kau ...!"
******
__ADS_1