SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_35


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_35


#by: R.D.Lestari.


Di kediaman Bima.


"Kak, kapan mau jemput Indri? kenapa perasaanku ga enak, Kak?"



Anima mendekati Kakaknya dan duduk sembari memelintir rambut panjangnya. Bima hanya melirik sekilas. Sesekali ia menghela napasnya yang terasa berat.



"Kakak ga bisa jemput, An. Kakak sebenernya amar khawatir, tapi Indri melanggar pantang. Percuma, bukan cuma lupa orang tuanya dan kelakuan yang menjadi aneh, tapi dia juga lupa pada Kakak. Kecuali dia pulang dan meminum kembali darah Kakak,baru ia ingat," Bima bercerita panjang lebar pada adiknya.


"Jadi, gimana nasib Kak Indri, Kak? kasihan juga kalau dia kenapa-kenapa,"


"Sekarang kita hanya bisa bersabar. Jika memang keluarganya sayang, mereka akan mengantar Indri ke sini,"


"Bagaimana mereka bisa tau, Kak? menurutku, inilah waktunya Kakak menghadap keluarganya. Ayo, Kak. Perjuangin cinta kalian, kasihan Indri berjuang sendiri di sana,"


"Kakak tau, An. Kakak juga sebenarnya ingin berkunjung ke sana. Tapi, peraturan di negeri kita ini. Kita tak boleh punya hubungan dengan manusia, biarkan mereka yang ke sini. Kita jangan. Jika ketahuan, Kakak bisa di penjara dan tak akan bisa bertemu dengan kalian selama ratusan tahun lamanya," pandangan Bima menerawang jauh. Pikirannya melayang membayangkan Indri yang sedang berjuang sendiri di luar sana. Entah mengapa bayangan Indri seperti akan tiba dan berkunjung ke tempat nya beberapa waktu lagi.


***


"Jadi, bagaimana, Pak? apa Indri harus kita bawa ke hutan Uwentira? barusan Sri menelpon Ibu. Dia tak bisa berkunjung ke sini menjenguk Indri karena ada urusan bersama Rena di Universitas tempat nya menuntut ilmu. Dia hanya berpesan jika kita harus membawa Indri ke hutan Uwentira seperti pesan Indri pada mereka,"


__ADS_1


Ibu menatap suaminya yang sedari tadi hanya diam membisu. Raut wajah Ayah begitu serius menatap wajah putri semata wayangnya yang semakin lama semakin lusuh dan suram.



"Yah?" Ibu menyentuh tangan suaminya itu dengan lembut. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia yakin di dalam lubuk hati suaminya itu tertancap duri yang amat tajam, hatinya sakit seperti yang ia rasakan saat ini.



Ibu beranjak, berjalan perlahan menuju ujung ranjang tempat Indri di diikat kaki dan tangannya. Gadis itu hanya menatap tanpa bereaksi apa pun. Pandangannya kosong. Sesekali ia menangis, tapi detik berikutnya ia tertawa tanpa sebab.



"Maaf kan Ibu, Nak. Ibu terlalu egois," wanita tua itu menunduk sembari terisak. Dadanya amat sesak.



Pluk!


"Kita bawa Indri ke hutan itu. Seperti pesan orang-orang pada kita. Ayah tak ingin melihat Indri terus menderita seperti ini. Ia harus bahagia walaupun tidak bersama kita ," Ayah menyentuh punggung Ibu dan mencium keningnya pelan. Ibu mendongak dan menatap suaminya penuh haru.


"Iya, Bu. Demi kebahagiaan Indri, kita harus rela,"



Ayah membelai kepala Ibu dengan haru. Ibu akhirnya mengangguk dan mengiyakan ucapan Ayah. Demi kebahagiaan Indri, mereka harus rela melepas Indri, meskipun dengan keputusannya itu, mereka akan menerima konsekuensi berat. Berpisah selamanya.


***


"Anima, Kakak akan pergi. Hati Kakak berkata jika hari ini Indri akan di antar ke ujung hutan, orang tuanya pun akan datang," Bima mengusap pelan wajah adiknya.



"Benarkah, Kak? aku tunggu Indri di rumah saja, ya. Kakak hati-hati," Anima melambaikan tangannya saat Bima bergegas menuju mobilnya. Dalam hati ia berdoa semoga Bima dan Indri bisa bahagia selamanya.

__ADS_1


***


Ayah dan Ibu sengaja membawa Indri dengan menyewa mobil tetangga mereka. Setelah berembuk dengan tetangga dan keluarga, akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Indri berdua saja. Mereka sudah iklas dan pasrah.



Jalan menuju hutan Uwentira terasa amat lama dan panjang. Sesekali mereka saling beradu pandang. Kemana kiranya mereka akan meninggalkan Indri dan siapa kiranya yang akan menemani Indri. Sejumlah pertanyaan bergantian hadir di dalam pikiran masing-masing.



Akhirnya mereka sampai di tugu Uwentira, gerbang masuk hutan yang di sinyalir adalah perbatasan antara dunia manusia dan dunia uwentira.



Mereka memutuskan berhenti dan membawa Indri keluar dari mobil menuju pinggiran jalan. Tanpa tau arah dan jalan, kedua orang tua itu membawa anak semata wayang mereka berjalan di pinggiran hutan. Entahlah, mereka cukup ragu dan hanya mengikuti kata hati mereka.



Ckittttt!



Baru sepuluh menit berjalan, sebuah mobil lamborgini kuning berhenti tepat di samping mereka. Ibu dan Ayah tersentak dan saling beradu pandang.



Brakkk!



Seorang lelaki tampan keluar dan mengulas senyum ketika mata nya bersitatap dengan Ayah dan juga Ibu.


"Terima kasih sudah membawa Indri, Bu, Ayah," lelaki itu mengulurkan tangan yang di sambut pandangan aneh kedua orang tua Indri.

__ADS_1


"Ka--kamu, siapa?"


__ADS_2