SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_117


__ADS_3

Bismillah


SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_117


#by: R.D.Lestari.


"Tapi, Gi, kita tidak mungkin membohongi mereka seumur hidup, 'kan?"


"Apa kamu mau mereka bernasib seperti, Mama?"


"Mama...,"


"Apa itu sebabnya Mama ninggalin Papa, setelah melihat wujud Papa yang sebenarnya?" kening Gio mengernyit. Pikirannya menerawang. Setidaknya satu alasan kenapa mamanya bisa gil* terjawab, meskipun itu baru sekedar prasangka.


"Bisa saja, kenapa tidak?" James mengedikkan bahunya. Sedangkan Gio masih berada dalam pikirannya yang bercabang.


"Ya, kau benar brother! kita harus jujur. Sekarang atau tidak sama sekali," Gio mengangguk pasti.


"Tapi, apa kau siap jika Sri menolak dan meminta pergi darimu?" tanya Gio ragu.


"Yah, sebenarnya tidak, tapi ini bisa jadi pembuktian seberapa besar cinta mereka pada kita. Kalau mereka pergi, berarti mereka hanya melihat fisik, dan mereka tak pantas untuk dicintai," asumsi Gio membuat pikiran James terbuka.


Tentu apa yang di ucapkan Gio ada benarnya. Jika Rena mencintainya, tentu Rena akan menerima dirinya apa pun bentuknya. Mau jelek atau pun tampan.


"Jadi, apa rencanamu, Gi?"


"Aku akan membawa Sri ke padang rumput tempat pertama aku mengutarakan cinta padanya. Kamu mau ikut? tempat itu sungguh tenang dan indah, apalagi di waktu malam,"


"Aku belum pernah membawa Rena ke sana, Gi," sahut James.


"Bawalah, aku yakin itu tempat yang tepat untuk kita dan gadis-gadis cantik kita. Sebelum ke sana, kita ajak dulu mereka jalan-jalan. Jadi, walaupun hal terburuk terjadi, mereka masih punya kenangan indah saat pergi,"


"Hmmh, kau benar, Gi. Namun, entah kenapa hatiku rasanya bimbang. Seolah Rena akan menolakku," ujar James ragu.

__ADS_1


"Ayolah, James. Hidup tak akan berhenti hanya karena sakit hati. Jika Rena menolakmu, berarti dia bukan yang terbaik," Gio berusaha membuat James tabah. Ia juga akhirnya mengangguk mendengar ucapan Gio.


"Dah, siap-siap. Biar aku yang nyetir. Kau duduk diam aja, James. Oke!" perintah Gio, dan anehnya seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, James menurut dengan ucapan adiknya. Ia pun bersiap-siap dan berdandan setampan mungkin, seolah ini hari terakhir berjumpa dengan Rena, kekasihnya.


***


Sementara di kediaman Indri, para gadis berdandan secantik mungkin setelah mereka berbelanja seharian.


Mereka mendapat telpon dari Gio tadi pagi jika akan mengajak pergi makan di restoran mewah dan terfavorit se-Uwentira. Termasuk Indri dan adik iparnya, Anima, gadis cantik yang sudah beranjak dewasa. Masih tertutup hijab dan mempunyai wajah cantik alami dengan bola mata biru bersinar.


Bima pun sudah bersiap dengan stelan jas abu-abu yang membuat lelaki matang berahang tegas dan sedikit berewokan itu terkesan modis dan elegan.


Rena dan Sri masih asik berdandan, hanya Anima yang tampak biasa saja. Gadis itu enggan mengotori wajahnya dengan berbagai macam warna yang menurutnya norak dan gatal jika tersentuh kulit mulusnya.


Ia lebih memilih memakai lipstik dengan warna nude dan sedikit taburan bedak agar tak terlihat pucat. Membalut kepala dan mahkotanya dengan hijab pink muda berpadu dengan gamis pink bermotif bunga. Terlihat sempurna hingga membuat wajahnya menjadi manis dan imut.


Indri melangkah keluar menemui Suami dan anaknya yang sedang bersantai di ruang keluarga sembari menunggu kedatangannya.


"Hai, Sayang," sambut Bima saat ia melihat Indri dengan balutan dress warna senada, abu-abu yang pas di badannya, terkesan seksi dan cantik dengan rambut yang di biarkan terkuncir rapi ke atas.


"Kamu juga sangat cantik, Sayang. Kita harus sering-sering makan malam di luar biar bisa melihat dirimu begini terus, cantik dan memikat," puji Bima tulus.


Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang, menarik pelan agar Indri mendekat ke tubuhnya, tapi ditolak Indri.


"Jangan di sini, Sayang. Malu terlihat teman-temanku," Indri mengetuk-ngetuk kening suaminya dengan jari telunjuknya sembari tersenyum gemas.


Kriettt!


Benar saja, teman-teman dan adik iparnya keluar dan saat itu juga Indri melepas pelukan dipinggangnya.


"Sudah?" tanya Indri saat melihat mereka diambang pintu kamar. Mereka serentak mengangguk.


Brummm!


Bertepatan dengan ucapan Indri, terdengar bunyi deru kendaraan di luar rumah. Indri melangkah tergesa melihat siapa yang datang.

__ADS_1


James dan Gio berjalan beriringan saat Indri membuka pintu rumah dan menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat datang, Tuan James dan Tuan Gio, para putri kerajaan sudah siap dan menunggu kalian di dalam,"


"Terima kasih, Nyonya Bima," jawab Gio seraya melangkah mantap masuk ke dalam rumah yang tak kalah mewah dengan rumahnya.


Tap-tap-tap!


Sedikit gemetar, Sri dan Rena ketika langkah kaki mendekat ke arah mereka. Ini untuk pertama kalinya mereka berdandan seformal ini.


"Rena...," James menghentikan langkahnya saat melihat gadisnya itu terlihat cantik dengan balutan dress merah maroon dengan sedikit aksen brukat di sekitar bahu. Polesan make up tipis berpadu lipstik merah menambah pesonanya.


Begitupun Gio. Ia pun tak henti mengagumi Sri yang memakai dress hitam dengan taburan kristal swarowski yang berkilau. Terlihat amat sempurna di tubuh Sri yang sintal dan berkulit putih. Lipstik merah menambah aura kecantikan Sri yang memancar keluar.


Sri dan Rena tak kalah kagum dengan penampilan si kembar yang memakai stelan jas serupa hanya berbeda warna. Bak sudah ada feeling, mereka memakai warna senada dengan yang dipakai Sri juga Rena.


"Ayo, kita berangkat," ujar Indri sembari menggandeng suaminya dan juga anaknya, Stella.


Gio dan James tak mau kalah. Mereka juga menggandeng tangan pacarnya masing-masing. Hanya Anima yang melihat dengan tatapan sendu, tak punya pasangan.


Mereka berjalan beriringan menuju kendaraan yang terparkir di halaman rumah.


Gio, James, Rena dan Sri naik ke mobil Gio, sedangkan Anima, Bima , Indri dan Stella ke mobil Bima.


Mobil menderu dan melaju santai menuju Restoran yang jadi tujuan utama. Di dalam mobil, James tak banyak bicara. Pikirannya kalut dan rasa getir terus memenuhi relung hatinya. Seolah ia tak akan sanggup berpisah dengan Rena.


Rena menatap pacarnya penuh rasa curiga. James berubah. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Sesampai di Restoran, mereka saling bergandengan, memasuki ruangan megah Restoran dengan desain indah dan warna emas juga merah yang mendominasi.


Mereka duduk berdampingan. James terlihat amat mesra memperlakukan Rena. Ia ingin memberikan kesan terbaik untuk kekasihnya itu. Rena yang semula berprasangka buruk kembali terheran-heran dengan perubahan sikap James.


James yang manis dan romantis. Memperlakukan Rena bak seorang putri.


Semua memandang iri, terutama Anima. Gadis itu memandang tanpa berkedip. Kharisma James yang selain tampan, membuat hati Anima berdegup kencang. Ia ...

__ADS_1


__ADS_2