SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_109


__ADS_3

Bismillah


  


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_109


#by:R.D.Lestari.


Brakkk!


Sri tiba-tiba limbung. Beruntung ia jatuh di atas sofa ruang tamu James. Tak bisa kubayangkan jika ia jatuh ke lantai. Kepalanya pasti terbentur kuat.


"Sri! Sri...! ya ampun," aku menepuk-nepuk pelan wajah Sri. Ia tetap bergeming.


"Bi! Bibi! tolong aku," aku berteriak cukup kencang, dan dari arah belakang Bibi yang mendengar berlari tergopoh-gopoh mendekatiku.


"Ada apa, Nona," tanyanya.


"Bi, tolong bantu aku. Bawa Sri ke kamar Gio. Ia pingsan setelah membaca surat dari Gio!" jelasku.


Bibi menganggukkan kepalanya dan kamipun bersama menggendong Sri masuk ke kamar Gio. Sri kami baringkan di kasur empuk milik Gio.


Aku mengitari kamar Gio yang ternyata amat luas dan juga elegan. Ia dan James punya selera yang sama. Perabotan mahal dengan lampu kristal yang menggantung di langit-langit kamar.


Lemari dengan ukiran yang pastinya mahal. Aku berdecak kagum melihat isi kamarnya yang 'wah' dan juga wangi. Menandakan ia lelaki yang perfect dan juga romantis.


"Uh ... James...," lirihku. Seketika aku rindu pada James. Lelaki tampanku yang romantis.


"Pak ... Pak Gio...," suara Sri menyentak diriku. Membuat aku tersadar dari lamunanku.


"Sri... udah bangun? kamu kenapa, Sri?" cecarku saat melihat temanku itu mulai siuman.


Semenjak kami beranjak dewasa, dan menjelang kelulusan, aku selalu memanggil Sri dengan 'kamu', kata gaul perlahan kutinggalkan, karena merasa tak pantas menggunakannya.


"Ren, Gio ...," mata Sri tiba-tiba berembun. Cairan bening perlahan merembes di sudut matanya. Ia terisak.


Aku bingung harus berbuat apa. Perlahan tanganku menggapai pundaknya dan membawanya dalam rengkuhanku. Memeluknya erat dan mengusap punggungnya pelan. Berharap ia bisa tenang.


"Sri ... ada apa? kamu kok terpukul banget, Sri,"


"Ren... Rena ... Gio memilih pergi. Ia ingin putus denganku," isaknya.


"Hah! ga mungkin! Gio tu cinta mati sama kamu, Sri. Aku tau itu. Dia amat mencintaimu,"


"Ini, baca," Sri menyerahkan kertas yang sejak tadi ada di genggamannya.


Aku mulai membaca bait demi bait isi dari kertas yang sudah berkerut itu.


 


Dear Sri


Sri, wanitaku yang cantik.

__ADS_1


Mungkin saat ini kamu sedang


Tertawa bersamanya


Mengingat masa lalu indah


Yang memang sulit dilupakan.


Sri, mungkin aku yang terlalu egois


Menginginkanmu untuk bisa abadi


Bersama cintaku selamanya


Membangun rumah tangga


Dengan anak-anak kita nantinya


Hari ini, saat aku datang kepadamu


Aku jelas melihst dirimu bersamanya


Kulihat bulir indah itu tumpah dan


Menganak sungai


Sebegitu cintanyakah dirimu


Pada lelaki itu, Sri?


Mengapa kau pilih aku jika hatimu


Masih padanya?


Aku memilih pergi, Sri.


Kini kau bebas. Bebas dari cintaku.


Aku akan kembali ke alamku.


Jangan cari aku, Sri.


Aku bukan lagi milikmu.


"Ya, ampun. Sri...," lirihku saat selesai membaca surat yang ditulis Gio untuk Sri.


"Gio salah sangka, Ren. Ini pasti gara-gara kemarin. Gio pasti menyusulku ke Terminal saat aku menemui Hans untuk terakhir kali," Sri sesenggukan.


"Hmmh, kau Sri ...akh, aku mengerti. Gio pasti teramat sakit hati,"


"Itu pertemuan terakhir kami, Ren. Aku hanya tak ingin melepasnya dengan penyesalan,"


"Tapi kau sudah punya Gio, Sri. Kau harus juga memikirkan perasaan Gio. Mereka lelaki baik. Kau harusnya merasa beruntung, Sri," tegasku.


Wajah Sri mendung. Raut kesedihan terpancar jelas di matanya. Aku amat yakin saat ini hatinya remuk redam.

__ADS_1


Rasanya ingin marah melihat kebodohan Sri, tapi melihatnya terpuruk seperti ini membuatku tak tega dan akhirnya kembali memeluk dirinya. Ia pasti amat rapuh dan terluka.


"Aku ga mau kehilangan Gio, Ren. Aku tu cinta banget ma Gio. Kemaren itu cuma perpisahan sama Hans. Ga lebih. Bagaimanapun Hans adalah orang penting bagi hidupku,"


"Aku ngerti, Sri, tapi Gio juga punya hati. Mungkin saat ini ia kecewa sama kamu, Sri,"


"Tunggulah sampai James pulang, nanti aku bantu cari solusinya," aku berusaha menenangkan Sri yang masih saja tersedu. Nampaknya ia memang amat terpukul atas kepergian Gio.


"Aku mau telpon James dulu, kau tunggu di sini," titahku.


"Ren ..., tunggu," Sri menahan langkahku.


"Apa di alam itu mereka bisa menerima telpon? kan kita beda dimensi?" tanya Sri. Ia nampak ragu denganku.


"Ya, dong. Tekhnologi di sana canggih beb, jauh lebih maju dari kita. Kamu ga pernah kesana, sih. Belum tau indahnya kota Uwentira," Aku membusungkan dadaku, bangga.


"Memang kamu pernah ke sana, Ren?" Sri menatapku tak percaya.


"Pernah. James yang membawaku, dan memang indahnya luar biasa, Sri. Kita berasa masuk ke kota metropolitan. Perpaduan, New York, Las Vegas dan Italia. Kamu bayangin aja keindahan tiga kota itu,"


Sri tercengang mendengar penuturanku. Merasa jika aku mengada-ada.


"Tapi, waktu itu Pak Gio hanya membawaku ke padang rumput dengan banyaknya bunga. Memang sangat cantik pemandangan saat itu, tapi aku tak melihat kota indah yang kamu ceritakan itu," Sri menghela nafas.


"Makanya kamu tu belum tau indahnya kota Uwentira kayak apa. Udah, aku mau nelpon James dulu, tunggu, ya," ucapnya seraya menjauh darinya.


Tut-tut-tut!


"Halo, Sayang? ada apa?" suara James terdengar sibuk di ujung sana.


"Emm, kamu kapan balik, Sayang?"


"Eh, aku bari sejam loh, dah kangen?" godanya.


"Eh, bukan. Ini Si Sri, nangis terus. Adikmu yang tega itu mana?" kilahku. Ya, jujur sih aku juga kangen sama James, tapi, ya, gengsi lah!


"Ga usah gengsi, kamu tau aku juga kangen sama kamu," kudengar James terkekeh di ujung sana.


"Hmm, jarak sejauh inipun kamu masih bisa baca pikiranku. Huh, keterlaluan!" sungutku.


"He-he-he, kamu tadi nanyain Gio, kan? dia lagi ngurung diri di kamar,"


"Bisa ga Sri bicara sama Guo, Sayang,"


"Kayaknya ga bisa, Gio lagi bener-bener frustasi, Ren. Apa kalian ke sini aja, nanti aku jemput," tawar James.


Aku bergeming. Berpikir sejenak. Sepertinya ide James bagus juga. Kalau mereka ketemu, pasti masalahnya cepat selesai dan aku juga, bisa bertemu dengan Indri. Sahabatku yang sudah lama hilang dan tak tau kabar beritanya.


"Sebentar, James. Aku tanya Sri dulu," sahutku.


Aku berbalik dan berjalan mendekati Sri yang masih intens menatapku.


"Sri, apa kamu mau ikut ke Uwentira? kita temui Gio di sana, aku juga kangen Indri, apa kabarnya ya, dia sekarang?"


"Ya, aku mau, Ren. Aku harus bertemu dengan Pak Gio. Aku tak mau kehilangan dia, Ren," wajah mendung Sri kembali bersinar. Sepertinya ia amat merindukan Gio. Ya, aku tau betapa ia pun tersiksa karena cinta. Cinta dalam dilema.

__ADS_1


****


__ADS_2