Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Acara


__ADS_3

Para tamu undangan sudah ramai memadati, hari ini adalah acara selamatan rumah jesslyn dan Dodo. beginilah tradisi mereka ketika hendak menempati rumah baru. apalagi rumahnya ini adalah bangunan baru.


Orang yang datang selalu berkomentar memuji akan elegannya rumah baru ini. bisik sana bisik sini namun tetap saja terdengar di telinga. ada pula yang secara gamblang mendeskripsikan di depan umum kepada tuan rumah.


Hal itu tak sadar membuat jesslyn menyunggingkan senyum entah untuk drama lagi atau pura pura bahagia di atas Erma. karena isi hati manusia sesungguhnya bagi manusia lain tak ada yang tahu. dalamnya samudra dapat diukur namun isi hati manusia tak dapat diukur.


"Kenapa kamu liatin saya dari tadi? ada yang aneh?" bisik jesslyn pada Dodo.


"Gak ada yang aneh non."


"Terus?"


"Hanya saja saya baru melihat non tersenyum terus."


Mendengar jawaban Dodo jesslyn merapatkan bibir, pipinya digerakkan kanan kiri atas bawah seperti sedang melakukan olahraga senyum.


"Jangan mengada Ngada, aku hanya lagi melatih otot pipiku yang terasa kaku."


"Kalau begitu saya panggilkan dokter ya non." Dodo mengambil ponselnya hendak menelpon seseorang.


"Tidak, tidak usah." gugup


Dodo memandang jesslyn heran,


"tidak usah ikut campur, ini masalahku." tukas jesslyn. Dodo mengalihkan pandangan seraya menundukan kepala, menyadarkan kembali bahwa dia hanyalah suami di atas perjanjian.


"Maaf non." lirik Dodo.

__ADS_1


Jesslyn diam tak menjawab.


"Assalamualaikum..para hadirin yang terhormat, kita akan mulai acara syukuran rumah ini sebelumnya saya akan memberikan sepatah kata untuk pembuka."


Tokoh masyarakat di kampungnya memimpin acara. dilanjut dengan serangkaian do'a yang di panjatkan untuk kebaikan bersama. dan disaat ini pula Bu unah menciptakan suara gaduh berkemas di ruangan dapur.


"Emak lagi ngapain?" tanya Chandra yang datang tiba tiba dari arah belakang rumah. para ibu ibu tetangga yang membantu mempersiapkan kue dan buah menengok ke arahnya.


"Ni lagi nyiapin bungkusan buat bapak amilnya." jawab Bu unah.


"Lah Geneng lu baru Dateng?" tanya salah tetangga.


"Iya, acara adik lu juga harusnya bantuin ge. bini lu ga diajak?" tanya Bu unah pada anak sulungnya itu.


"Saya baru pulang pisan inih tadi ada urusan." jawab Chandra ia langsung memasuki barisan bapak-bapak.


Jesslyn melihat chandra, matanya berkeliling mencari keberadaan Erma namun Erma tak menampakan batang hidungnya. sudah pasti hal ini akan menguntungkan bagi jesslyn dikemudian hari.


"Beseknya sekalian keluarin." perintah Bu unah.


"besek itu apa?" tanya jesslyn. ibu-ibu tetangga di buat tertawa olehnya.


"Hehe, itu neng plastik yang isi nasi kotak." jawab Bu unah.


"Oh, kalau gitu sekalian juga keluarin bingkisannya. tapi butuh tenaga laki-laki untuk mengerjakannya."


"Bingkisan?" serempak para ibu-ibu termasuk bu unah. Dodo, Chandra, dan Iyan juga mengerutkan dahi bertanya-tanya dalam hati. bingkisan?

__ADS_1


"Alhamdulillah sekian acara syukuran ini telah usai, mari kita menyantap hidangan yang sudah disediakan tuan rumah." suara bapak Amil menyudahi acara.


"Wah,, bapak-bapak Jangan pulang dulu ya. ternyata belum selesai pembagian beseknya. ada lagi bingkisan." seru pak Amil lagi setelah mendapat pesan dari Dodo. di tambah mobil box yang dari tadi sore terparkir tak tahu tujuan apa, mendekati arah depan rumah.


Erma mengintip dari jendela, melihat situasi depan rumah jesslyn karena mendengar suara mobil box yang menderu.


apaan tuh, hah orang-orang pada di kasih ember? mobil box siapa lagi itu.


Hatinya penuh pertanyaan. Erma tak sabar menanti kepulangan Chandra dan menanyakan padanya. ia tidak peduli namun mengamati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.bersambung...


__ADS_2