Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Merasa bersalah


__ADS_3

Do aku merasa bersalah padamu, Bram meluk-meluk aku tadi. Hu..hu..hu..


Tubuh yang selalu merasa bersalah telah kembali saat langit oranye menggantikan awan cerah. Selepas kejadian menegangkan yang telah membuat jantung bersenam, Wanita yang bernama Jesslyn hanya diam membisu seolah dia tidak mempunyai kata lagi untuk di ucapkan.


Menunggu Dodo kembali ke rumah begitu lama terasa. Waktu tidak berpihak kepadanya hingga lamban untuk merangkak. Akhirnya Jesslyn menyerah dalam perihal menunggu, lalu memutuskan untuk menelpon suaminya.


Di saat sambungan telepon belum menunjukan jawaban, netra Jesslyn terpaku pada benda yang telah diberikan Dodo kemarin. Sebuah alat test yang sempat dia lupakan keberadaannya.


"Ya ampun, aku lupa memakainya tadi pagi. Hem Dodo marah gak ya? marah? memangnya kapan dia marah." Sibuk berbicara sendiri sampai mengabaikan ponsel yang telah tersambung telepon, hingga layarnya sudah berubah menjadi panggilan tidak di jawab.


Jesslyn berlalu memasuki kamar mandi dengan masih mengabaikan ponselnya. Sementara di tinggal sang pemilik, ponsel malang yang terlupakan itu berbunyi nada panggilan.


Di dalam sana, bunyi air jatuh dari keran mampu menulikan telinga dari suara berisik di luar. Jesslyn masih tidak menyadari ponsel yang dia abaikan menggero-gero meminta untuk diangkat.


"Emaaaaakkkk...." Teriakan Jesslyn terdengar hingga ke ujung berung. Semua perhatian terpusat pada kediaman Dodo yang selalu tenang. Tidak disangka ada Jeritan wanita di sore hari yang berujung berkumpulnya koloni tetangga.


Bu Unah dan Pak Nata berlarian memasuki rumah Dodo, Bi Lilis juga tak kalah kalang kabutnya. Sementara perkumpulan para tetangga tercegah masuk oleh Iyan yang berjaga di luar. Suasana semakin ribut dengan banyak spekulasi yang beredar.


"Neng.. dimana?" Bu Unah mencari-cari.


"Disini" Kemunculan Jesslyn mengerutkan dahi Bu Unah, "Emak, Jesslyn hamil" wanita itu memeluk tubuh sang ibu mertua yang lebih pendek darinya sambil berjingkrak kegirangan.

__ADS_1


"Alhamdulillah" Kata syukur terucap panjang dari mulut seorang ibu yang selalu mendo'akan anaknya setiap hari. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaannya yang terselip dalam balutan Do'a dan air mata.


Bulir bening jatuh di pipi yang tak muda lagi, sementara di waktu yang bersamaan pelupuk mata Jesslyn pun sudah menganak sungai. Tidak lagi peduli kondisi diluar sana sudah seperti apa.


..........


Ditengah rasa senang yang memenuhi udara kamar, Dodo datang membuka pintu dengan pelan. "Assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam, sayang.." Jesslyn berhambur memeluk erat tubuh calon ayah dari anak yang dikandungnya. Namun kabar besar dan sebahagia ini belum sempat di ketahui olehnya.


Dodo menjatuhkan kepala di tengkuk leher jenjang Jesslyn yang selalu menguar aroma harum Lily of the valley. B*lu halus disekitarnya berdiri, meremang dengan rasa gelenyar yang membuat candu. B*birnya bermain lama disana, seolah Dodo sedang memberikan sinyal bahwa dia sedang merindukannya hari ini.


"Sayang, bisakah kamu mengantarku ke dokter kandungan?"


Tangannya sudah turun menyapu punggung mulus. "Bukan itu sayang" mengatakan bukan itu tapi di biarkan menggantung tanpa kelanjutan, lalu apa? coba katakan pada Dodo, ditambah nada suaranya dibuat semanja mungkin yang membuat Dodo bertambah gemas.


"Lalu apa Non?"


"Aku cuma mau memastikan kehamilanku saja sayang, aku tespeck hasilnya garisnya dua"


Dodo mengerjap, menghentikan aktivitas menyenangkan yang dilakukannya setiap berdekatan dengan Jesslyn. Begitulah ia jika dipersatukan dengan Jesslyn di dalam kamar semenjak meleburnya dinding pembatas di antara mereka.

__ADS_1


Dodo bungkam, seolah dia kehilangan kemampuan untuk berbicara. Tubuh Jesslyn yang sedang dalam pelukannya dipindahkan duduk di tepi ranjang. Ia bertekuk lutut menyeimbangkan tubuh hingga sejajar dengan Jesslyn yang terduduk manis.


Sebelum mengucapkan sepatah dua kata, lelaki itu menundukan kepala dalam, bergumam tentang rasa syukur kepada sang pencipta. Lalu ia mendongakkan kepala, menatap istrinya berbinar kebahagiaan.


"Saya senang sekali mendengarnya Non, istri aa sudah makan? kalau belum saya ambilkan makanan dulu. Setelah itu kita pergi ke dokter kandungan. Saya buat janji dulu ya Non."


"Aku belum makan sayang, sengaja aku menunggumu tadi. Aku ingin makan bersamamu." sayang aku juga minta maaf tadi sudah di peluk-peluk lelaki lain. kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya dan tertahan di tenggorokan.


"Iya Non aa suapin ya."


"Memang seharusnya begitu sayang." Jawab Jesslyn, rasa bersalahnya sudah menguap.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2