
"Jadi apa ceritanya?" sungut Jesslyn.
"Saya juga bingung non kenapa saya di bimbing sampai harus hp disita. saya tidak boleh menggunakan alat komunikasi sama sekali. persoalan masak untuk makanan non saya sampai harus memohon dengan sangat dan bersimpuh. baru di ijinkan."
Jesslyn tidak menyangka dan membekap mulutnya sendiri.
"Kenapa kamu harus memohon untuk bisa melakukan itu?"
"Karena saya sudah berjanji sama non, dan harga diri seorang lelaki adalah ketepatan janjinya. lagi pula saya tidak mau non sampai jatuh sakit karena tidak mau makan."
"Tapi setelah itu, saya langsung mendapat tugas tambahan untuk membantu Tuan Niko menjadi tutor tentang memperlakukan seorang wanita."
"Serius?"
"Iya non saya serius. sampai sekarang malah. nih buktinya saya dapat tugas lagi di luar pekerjaan." Dodo menunjukan pesan yang masuk ke ponselnya.
"Kamu memang tidak bertanya kenapa kamu harus menjadi tutor tuan Niko?."
"Tidak non, sudah mendapat ijin untuk memasak makanan buat non saja sudah cukup bagi saya."
ya ampun do, mereka mau memanfaatkan ketulusanmu memperlakukan wanita tersayang untuk tuan Niko menjerat cinta nona Rianti. aku saja bisa baca situasi masa kamu tidak.
"Sayang, terimakasih ya kamu sudah menjadi suami yang terbaik."
__ADS_1
"Iya non, memang sudah kewajiban, bagi saya, pernikahan itu bukan soal ada yang mencucikan baju atau menyiapkan makan atau teman tidur. tapi lebih kebersamaan dua orang yang saling mencintai, saling melengkapi kekurangan dan membentuk kelebihan."
"Kaya kita non, yang selalu menjaga dan merindukan di saat jarak memisahkan. dan non selalu percaya kepada saya. terimakasih ya non."
Jesslyn tidak dapat berkata lagi, hanya pelukan yang bisa menjawab penuturan Dodo. badan yang sedang demam sudah mengeluarkan keringat.
"Sayang, keringat kamu sudah banyak sekali sampai bercucuran." sambil mengelap keringat dengan telapak tangan.
"Non maaf, boleh ambilkan handuk kecil yang ada di dalam tas saya "
"iya."
Dodo membuka bajunya, mengelap keringat yang bercucuran sampai membasahi kaus. panas nya sudah turun, namun pusing masih sedikit terasa.
jesslyn masih terpaku di tempat, sampai permintaan tolong Dodo membuyarkan khayalannya.
"Non, apakah masih ada baju saya di lemari? jika tidak tolong ambilkan di dalam tas saya."
"Stok yang di lemari masih belum di setrika, sebab setiap harinya di pakai papah buat meniru kamu untuk menghibur anaknya yang sedang galau. hehe maaf ya"
Dodo tergelak.
Setelah urusan lap mengelap selesai, Dodo meminta bantuan jesslyn untuk memapahnya menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Setelah ini kamu butuh apa sayang? mau rebahan lagi di kasur?"
"Iya, mungkin saya perlu istirahat sebentar, non temenin saya ya. tetap disini."
"Tanpa kamu minta aku tetap disini menemani kamu." jesslyn menggenggam tangan Dodo dan ikut merebahkan tubuh di sampingnya.
"Aku mau berusaha mengobati kamu, akan ku letakan tangan ini disini dan menyerap energi sakit yang kamu derita."
"Terimakasih Bu dokter. memang Bu dokter yang bisa melakukannya."
"Iya dong, kan kamu terjangkit virus menahan rindu. jadi aku yang harus menyerap penyakitnya. hehe. iya gak sih? iya lah, masa gak."
"Lucu banget sih istri saya."
Mereka bersenda gurau membahas ke unyuan soal asmara. rencana awal adalah beristirahat malah menjadi ajang pengobatan rindu. kalau sudah begini rasa pusing yang di derita Dodo pun berangsur membaik.
Lama mereka berbincang hingga menggelitik perut, kantuk menyerang dan membuatnya terlelap. untuk pertama kalinya lagi jesslyn memberanikan tidur di siang hari setelah kepergian kakaknya.
.
.
.
__ADS_1
.bersambung...