
Sampai di rumah sudah memasuki dini hari, terdengar suara ayam berkokok menyambut kedatangan Dodo dan Jesslyn. Mereka begitu lelah, mengantuk, dan juga dingin.
Untuk sekedar berpindah dari mobil menuju kamar, Jesslyn memutuskan berjalan mandiri. Tidak seperti sebelumnya harus di papah dan di gendong.
Bukan karena badannya yang lebih segar, namun dia sangat kasihan dengan Dodo yang terus direpotkan olehnya sejak awal. Terlebih, dia baru sadar ada goresan luka di lengan suaminya, tidak besar sampai harus mengeluarkan darah, lukanya itu hanya berupa garis merah goresan. Namun cukup membuat hati Jesslyn tersayat.
Jesslyn cepat mengambil kunci rumah dari tangan Dodo, dia melangkah cepat lalu bergegas menuju dapur.
Dodo yang habis memarkirkan mobilnya ikut masuk ke dalam rumah, matanya mencari-cari dimana keberadaan sang istri setelah dia mendapati ternyata istrinya tidak ada di dalam kamar.
"Non, kamu dimana sayang?" suara itu sudah parau menahan kantuk, atau mungkin daya tahan telah melemah.
"Aku disini" Jawab Jesslyn muncul sambil membawa segelas air hangat. Dia tersenyum, mempersembahkan senyum terbaiknya untuk sang suami.
Dodo meneguk air yang telah dipersiapkan istrinya hingga tandas, gelas kosongnya di taruh di nakas lalu Dodo menarik tangan Jesslyn untuk duduk di tepi ranjang.
"Non, terimakasih ya atas perhatiannya." satu cium bermakna dalam itu mendarat lagi, bibir yang menempel terasa hangat seperti air yang baru saja di teguk olehnya.
Jesslyn tersenyum dengan lidah yang terasa kelu.
"Non, saya mau bersih-bersih badan dulu, apa Non sekalian mau ikut? atau Non mau saya bawakan air hangat dan lap saja?"
"Tidak usah sayang, dan aku tidak mengijinkan kamu untuk pergi membersihkan diri. Tetap duduklah disini."
Gurat kebingungan nampak dari air muka Dodo yang terlihat lelah. Tapi dia juga tidak bisa mengecewakan Jesslyn dengan tidak mengatakan iya.
"Iya Non"
"Ingat ya, hanya duduk disini jangan kemana-mana." tegas wanita itu lagi sebelum akhirnya hilang di balik pintu.
__ADS_1
Sambil menunggu Jesslyn, Dodo merapikan ponsel miliknya dan juga sang istri. Kemudian membuka bajunya yang dirasa sudah tidak nyaman untuk di pakai.
"Sayang, kemarilah. Duduk di sini aku mau mengelap tubuhmu dengan air hangat. Kata papah jangan mandi jam segini karena kurang bagus untuk kesehatan." Tangan cantik Jesslyn memeras lap yang telah di ceburkan air hangat. Kemudian mengusap tubuh Dodo secara perlahan.
Pergerakan tangan Jesslyn terhitung pelan dan lembut membuat Dodo merasa tergelitik geli. Lelaki itu mengekpresikannya dengan sedikit mengerutkan dahi.
Tidak mau berlama-lama merasakan kegelian di malam menjelang pagi, tangan Dodo menyergap tangan istrinya, kemudian memberikan arah pengelapan dengan cepat.
"Sudah selesai, apakah Non mau saya lap juga?"
"Mau"
...........
Selesai dengan lap, Dodo kini tetap pergi ke kamar mandi. Jesslyn sudah terbaring dengan mata terlelap memeluk guling. Dalam kesempatan ini pula Dodo masih menyisihkan waktunya untuk sibuk diatas sajadah.
"Aku nunggu kamu sayang, dan mau bertanya sesuatu?"
"Apa itu Non?"
"Tadi kita melewati Danau cantik, tapi belum sempat mampir disana."
Dodo berfikir sebentar, danau apa yang telah di lewati tadi, "Oh itu, namanya Danau Telaga Warna. Ada cerita rakyat mengenai Danau tersebut. Mau saya ceritakan untuk pengantar tidur?"
"Mau"
"Yasudah saya ceritakan, Di daerah sana dulu ada kerajaan bernama Kutatanggeuhan, artinya sebuah kerajaan makmur dan damai di pimpin oleh seseorang Raja bijaksana bernama Raja Swarnalaya dan Istrinya Ratu Purbamanah."
"Rakyatnya juga mencintai sang Raja. Namun, mereka sudah lama menikah, Raja dan Ratu belum kunjung dikaruniai seorang anak."
__ADS_1
Jesslyn murung, mengelus perutnya yang masih rata.
"Setelah di telusuri ternyata hal itu dikarenakan Raja Swarnalaya melanggar pantangan berburu Rusa di gunung Mas."
"Bagaimana bisa tahu sayang?"
"Dari nujum istana yang mendapat wangsit."
"Kemudian bagaimana?" Jesslyn membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman menyimak cerita sang suami. Sejak kecil, memang Jesslyn adalah anak yang selalu bertanya ketika dia sedang merasa antusias atau tidak mengerti. Dia anak yang paling berani diantara teman sekelasnya.
"Kemudian sang Raja pergi bertapa di sebuah gua. Setelah pulang dari sana dan kembali ke istana, tidak berselang lama sang Ratu hamil."
Mata Jesslyn berbinar-binar, merasakan seolah dia yang sedang mengandung Dodo junior.
"Tapi.." lanjut Dodo.
"Tapi apa sayang?"
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1